Derita Melinda

1844 Words
Kamar apartemen dengan nomor 203 itu nampak gelap, tidak ada seberkas cahaya pun yang menyinari ruangan. Gorden-gorden jendela ditutup rapat, lampu kamar pun tidak menyala. Suasana terasa engap, hanya jam dinding yang berdetak itulah yang menjadi satu-satunya suara di kamar gelap nan engap itu. Wanita yang terpejam di atas ranjang itu mulai membuka mata. Gelap, hanya kegelapan yang ia lihat. Entah ini pagi atau malam, tapi ia tidak mempedulikan. Ingatannya kembali pada kejadian malam nahas, di mana tangan-tangan kasar dan besar itu menyentuhnya dengan beringas, menyalurkan nafsu setannya di sisa-sisa kesadarannya. Hanya rasa sakit tubuhnya yang ia rasakan kala itu, sampai kemudian dirinya ditinggalkan begitu saja oleh mereka-mereka sambil tertawa-tawa, tidak ada rasa bersalah sama sekali karena telah menghancurkan hidup dan masa depan seorang gadis, sungguh manusia yang berbuat seperti itu sangat keji. Tiada lagi hati nurani yang dimiliki. Air matanya kembali menetes. Melinda memang bukan wanita baik-baik, hidupnya selalu menginginkan harta yang banyak. Setiap memiliki hubungan dengan pria, ia pasti mengincar pria yang kaya. Materialistis adalah sifatnya yang dominan. Meski begitu, sampai saat ini keperawanannya masih terjaga. Dan apa yang terjadi di malam itu membuatnya begitu trauma dan ketakutan. Wanita itu bangkit dari posisinya, lalu meraih handphonenya di meja nakas. Membuka sebuah pesan dari nomor tak dikenal, yang di dalamnya berisi sebuah link. Melinda menekan tulisan biru tersebut yang langsung terhubung dengan akun media sosialnya. Pandangannya nanar menatap layar handphone yang menyala, detik kemudian membekap mulutnya. Di sana ia melihat foto dan video dirinya yang telanjang dan hanya ditutupi koran, nampak mengenaskan dan dikelilingi banyak orang. Hatinya teremas sakit bercampur dengan rasa malu, benci, saat postingan tersebut begitu banyak dibagikan oleh ribuan orang dengan komentar yang lebih banyak lagi. Tapi yang lebih menyakitkan adalah saat dirinya membaca kalimat, 'Salfok sama baju yang teronggok di sampingnya. Astaga pakaiannya mini banget, ini cewek kayanya emang minta diperkosa deh!' 'Setuju sama komen yang di atas, jadi gak bisa nyalahin si p*******a sepenuhnya. Kucing dikasih ikan ya diterkamlah!' 'Kasus p*********n ini terjadi di dekat rumahku. Ada tetanggaku bapak-bapak udah tua bilang, sebelumnya dia sempat nawarin ojek ke cewek itu. Tapi malah ditolak mentah-mentah, tetanggaku dimaki-maki, dikatain jijik lah, bau lah, gak level naik motor bututlah. Pokoknya kesimpulan yang kuambil dari cerita tetanggaku, ini orang sombongnya kebangetan. Jadi ya sorry gue anggap itu karma buat cewek sombong ini.' 'Astaga beneran? Sorry gue juga gak simpati. Satu kata buat loe, sukurin!' 'Ini teguran buat kamu, Mbak. Apa kamu akan intropeksi ataukah semakin menjadi? Renungkanlah!' Tangisnya pecah seketika, ia tidak sanggup lagi membaca kalimat-kalimat yang menyudutkan dirinya dengan sekejam itu. Dilemparnya handphonen itu ke sembarang arah hingga layarnya retak seketika. "Aarrrggggggggggggggghhhhhhhh," teriaknya sangat frustasi. Melinda menggigiti kuku tangannya frustasi, matanya bergerak liar kesana-kesini dan tak fokus, isak tangis tak berhenti keluar dari mulutnya. Sudah hancur masa depannya dengan rasa trauma yang begitu mendalam, ketakutan pun selalu membayanginya. Saat bangun dari tidur pun ingatan itu terus menghantuinya saat dimana dirinya terkoyak dan kesakitan. Dan sekarang setelah semua yang begitu membuatnya menderita, diperparah dengan unggahan dirinya yang setengah telanjang dan ditonton oleh banyak orang, belum lagi kalimat kalimat menyakitkan yang tertuju pada dirinya. Ia malu, dirinya sudah ternoda juga namanya sudah tercemar. Rasanya ia tak bisa bertemu dengan orang-orang lagi. Sudah tidak punya muka untuk berinteraksi dengan orang-orang lagi, ia ingin mati saja! Kembali wanita itu menangis, teringat kejadian-kejadian dimana kejadian nahas itu terjadi. Sebelumnya ia sempat memaki-maki seorang paruh baya yang menawarinya ojek untuk mengantarnya sampai ke tujuan. Andaikan ia tidak sombong dan menerima tawaran itu, pasti dirinya tidak menjadi seperti sekarang. Pasti p*******n terhadap dirinya itu tidak terjadi. "Aaarrrrrrgggggggghhhhhhhhhh ...." Kembali ia berteriak penuh sesal. Kali ini ingatan Melinda teralih pada saat dimana ia memfitnah Satria. Karena mendapati sudah tak ada kesempatan baginya untuk mendapatkan laki-laki itu kembali, ia nekad memfitnahnya dengan berpura-pura mau diperkosa. Dan sekarang lihatlah! Sudah misinya itu gagal, yang ada ia benar-benar diperkosa oleh empat orang sekaligus. Sungguh rasa malu dan menyesal dirinya dengan kelakuannya itu. Benarkah mereka bilang, bahwa ini adalah hukuman Tuhan karena perilakunya yang begitu buruk? Teringat pada Geri dan mantan-mantannya yang lain. Bahkan Geri ternyata mengalami gangguan kejiwaan setelah ia tinggalkan begitu saja, bagaimana dengan mantan-mantannya yang lain setelah ia tinggalkan juga setelah puas ia keruki harta mereka hingga wanita itu sekarang punya apartemen mewah berikut perabotnya karena usahanya itu yang mengeruk harta setiap orang yang berhubungan dengannya? Mungkinkah yang ia alami sekarang adalah karena sumpah serapah dari orang-orang yang telah ia sakiti? Apakah mereka bahagia melihatnya kini jatuh ke jurang terdalam hingga tak mampu lagi bangkit keluar? Melinda menangis sesenggukan, ini adalah karmanya. Karma yang harus ia tanggung karena keserakahannya. Dalam keadaan seperti ini, bel pintu kamarnya ditekan seseorang. Pandangannya teralih ke pintu tersebut dengan takut, siapa yang datang? Apa mereka yang akan mencacinya dan mensyukuri semua yang telah terjadi padanya? "Mel buka Mel, ini aku Satria dan Laudya. kami tau kamu ada di dalam." Deg! Matanya membulat dengan rasa takut. Ia tidak bisa bertemu dengan siapapun. Ia tidak sanggup mendengar ocehan mereka yang mensyukuri penderitaan wanita itu. "Pergi!!! Pergi kalian dari sini, pergiiiiiii!!!!" teriaknya penuh kesetanan. *** "Ikut aku yuk, ke kampus?" Rinda menyisir rambutnya yang panjang, sambil menatap lurus ke cermin di meja riasnya. Melihat sosok yang duduk di atas lemari melalui pantulan cerminnya yang besar. Susi terdiam sesaat, seperti ogah-ogahan. Rinda tahu itu, sosok tak kasat mata itu sangat tidak tertarik dengan ajakannya. 'Dasar Kunti mager!' maki Rinda dalam hati. "Hey aku mendengarmu!" Rinda tersenyum malu, baru ingat sosok di belakangnya itu juga punya kemampuan sepertinya yang bisa mendengar suara hati orang-orang. Rinda tertawa hingga menampilkan gigi-giginya yang putih dan rapi. "Habis kalau diajak ke kampusku gak pernah mau. Payah!" ucapnya sambil mengacungkan ibu jarinya secara terbalik. "Aku malas!" "Memang kau selalu malas." "Terserah aku, dong." Rinda memutar bola matanya malas, padahal tinggal melayang saja apa susahnya? Masih saja dia bilang malas. "Huh! Aku punya teman baru di sana, namanya Susan. Susi dan Susan, kalian cocok. Hihi ...." "Dasar kau, enak saja menyamakan aku dengan yang lain!" "Budu amat. Lagi pula untuk apa kau terus di sini? Toh tukang bangunan yang kau sukai itu pun sudah pergi dari sini, kan?" tanyanya penasaran. "Ya, bangunannya kan sudah selesai dibangun. Jadi untuk apa lagi di sini?" "Nah makanya, ayo ikut aku ke kampusku. Supaya kau gak bete. Sekali-kali tak ada salahnya kan?" Susi menghembuskan nafas bosan. "Hah, ya sudah ayo. Dasar kau tukang paksa!" gerutu Susi kesal. Mau tak mau, wanita tak kasat mata itu pun ikut dengan Rinda dengan muka ditekuk kesal. *** Ini kampusmu, Rinda?" tanya Susi berdecak kagum, wanita itu melayang tepat di atas kepala Rinda. pandangannya mendongak ke segala arah, juga pada orang-orang yang lewat. "Hmmmm." jawab Rinda sekenanya. Susi bertepuk-tepuk tangan kecil. Rinda menghentikan langkah, matanya menatap ke atas pada Susi yang kini sedang tersenyum lebar penuh kekaguman. Detik berikutnya gadis itu memutar bola matanya malas saat menyadari kekaguman teman astralnya itu bukan pada bangunan kokoh yang menjulang tinggi, tapi malah ke setiap laki-laki yang lewat. Rinda menggelengkan kepala, "Susi ... Susi ...." gumamnya tak habis pikir. "Rinda kenapa gak dari kemarin-kemarin aja kau ajak aku? Dasar kau teman pelit!" "Heh dari kemarin kan aku udah ajak kamu. Kamunya aja yang gak mau terus, malah sibuk godain si duda kuli bangunan!" "Ahh demi apa, di sini lebih banyak cowok gantengnya. Ya ampun mataku seger banget ngeliat cogan-cogan itu." Astaga! Ya ampun Susi! Rinda mengepalkan kedua tangannya gemas, kenapa ada Kunti centil seperti itu? Benar-benar bilang image Kunti yang menyeramkan lagi menakutkan gara-gara kelakuan Susi yang absurd dan konyol seperti ini. Di ambilnya satu botol minuman dalam tas yang tadi sempat ia beli di minimarket, lalu tanpa ragu ia lemparkan itu tepat ke arah Susi. Bugh! Namun bukannya mengenai Susi malah mengenai orang lain. Rinda merutuk merasa sial karena botol yang dilemparnya malah menembus Susi, dan jatuh mengenai entah siapa. "Hey siapa sih yang nimpuk pake botol minuman begini?" Rinda membulatkan mata, tatapannya mengarah ke seorang lelaki dengan tas ransel yang disampirkan di bahu kanannya saja. Ia menepuk jidatnya, lagi-lagi dia. Laki-laki itu menatap Rinda dengan mata memicing, seakan sedang mengamati bahwa dialah pelakunya. Sedang Rinda hanya bisa tersenyum kikuk, dia salah tingkah karena merasa bersalah. Kini laki-laki itu berjalan mendekat, tatapannya tajam. Rinda sudah berniat akan meminta maaf padanya. Apa yang barusan ia lakukan itu tidak sengaja. Niatnya ingin menimpuk Susi malah salah sasaran. Apes! "Heh cewek jadi-jadian ini botol punyamu, ya?" tanya laki-laki tersebut saat sampai di depan Rinda. Rinda membulatkan mata, lagi-lagi dia dipanggil cewek jadi-jadian, membuatnya kesal saja! "Kalau punya aku emang kenapa, kating rese?" jawabnya menantang dengan pandangan tak kalah tajam. Niat mau minta maaf dan mengakui kesalahan jadi membuat Rinda malas, sebab belum apa-apa laki-laki di hadapannya sudah mengajak berantem. "Astaga itu cowok siapa, ganteng banget anjiiirrrr!!!" Di luar dugaan, Susi malah berteriak penuh kekaguman. Hah, dasar Susi kecentilan! "Emang kenapa, emang kenapa! Ini kena kepalaku tahu!" "Siapa suruh kepala kakak ada di sana, jadi kena, kan?" sahut Rinda mendelik tajam. "Heh dasar kau ini, bukannya minta maaf malah menyalahkan kepalaku karena ada di sana. Memangnya kepalaku tidak boleh ada di sana?" "Yaiyalah, copot saja kepala kakak itu." Arga mengerutkan keningnya, matanya memicing. "Dikira kau aku ini mainan robot-robotan?" "Kurang lebihnya begitu!" Entah kenapa jika keduanya bertemu, selalu saja berdebat. Perdebatan yang entah apa topiknya, sangat sepele dan tidak berfaedah. "Kau sengaja ya melakukan ini padaku karena dendam?" Rinda menggelengkan kepalanya keras-keras. "Enggak, enggak! Enggak begitu! Itu gak sengaja, sumpah!" ucapnya membela diri. "Yaudah kalau begitu cepat minta maaf!" ucap Arga menuntut. "Pada siapa?" "Ya padaku lah, masa minta maaf sama tiang bendera?" Rinda menghela nafasnya, lalu terdiam sesaat. Ya kalau dipikir-pikir, mau menyebalkan bagaimana pun laki-laki di hadapannya ini, tetap saja kan dia yang salah. Ya ya, Rinda yang harus meminta maaf. "Maaf Kak, aku gak sengaja." ucapnya lirih. "Apa? Kok gak kedengeran, ya?" Mata Rinda membulat, melihat Arga yang memasang kelima jarinya di samping telinga. Rinda tahu, laki-laki itu sedang mengerjainya lagi. Hah dasar kating rese! "Maaf Kak, aku gak sengaja. Tadi itu mau nimpuk burung yang e'e sembarangan. Eh malah kena ke kepala kakak. Aku sebenarnya udah mau minta maaf dari tadi, tapi mendengar kakak malah ngatain aku sebagai cewek jadi-jadian, aku jadi kesal. Jadi malas deh minta maafnya." "Tapi sekarang aku beneran minta maaf, aku gak sengaja sumpah!" lanjutnya. Arga terdiam, sebenarnya ia ingin tertawa melihat Rinda yang seperti ketakutan juga terlihat merasa bersalah. Ingin mengerjai lagi, tapi detik kemudian, "Cieee, cieee, kiw ... kiw!" Entah kenapa, sekarang mereka malah menjadi ledekan orang-orang di sekitar. "Eh, kok?" Rinda bingung. "Awas kalau berantem terus, lama-lama jadi cinta loh!" ucap seseorang entah siapa. "Uhukk!" Rinda terbatuk seketika. Keduanya malah jadi salah tingkah. "Jiahhh batuk, jangan-jangan bener nih ada apa-apa." "Iya ada perasaan, wkwkwk." Arga juga bingung kenapa dia juga jadi bahan ledekan teman-temannya. "Rinda kau tidak boleh menyukai laki-laki ini. Karena aku sudah menyukai laki-laki ganteng ini. Awas kau!" Rinda menepuk jidat mendengar Susi yang berteriak kesal. Kenapa dia jadi menyukai kating rese ini? Apa dia tidak tahu laki-laki ini sangat menyebalkan? "Ambil saja Susi untukmu. Aku mana mau sama laki-laki menyebalkan ini. Huh!" ujar Rinda kesal. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD