Mika menatap wajah Kasih dengan tatapan intimidasi, merasa hawa disana semakin membuat dirinya sesak Kasih segera undur diri.
"Nyonya saya permisi," ujarnya sambil membungkukkan badan dan pergi dari sana.
Mika memicingkan matanya dan kemudian berbalik masuk ke dalam kamar.
Kasih terlihat terburu-buru turun ke bawah dengan wajah tegang dan panik, segala hal yang sudah dia dengar benar-benar membuat perasannya tidak aman. Radian benar-benar mengerikan.
"Ibu ada apa kenapa wajahmu panik seperti itu?" tanya Olivine yang melihat wajah kasih panik.
"Nak ayo ikut ibu," ujar Kasih sambil menarik Olivine ke dalam kamar mereka.
Kasih berusaha tenang sambil mengecek keadaan sekitar agar tidak ada yang melihat mereka, kasih menutup pintu kamar dengan pelan sambil menarik nafas dalam.
"Nak dengarkan ibu, ibu tidak tahu kita sedang berada dalam situasi apa ibu tidak ingin membuat kamu panik atau apapun."
Kasih berjalan ke arah lemarinya, dan mengeluarkan sesuatu dari sana yaitu amplop dan juga sebuah foto.
"Ini nak, malam nanti kamu harus pergi dari tempat ini."
"Pergi?" ulang Olivine yang heran dan tidak mengerti dengan ucapan ibunya itu.
Kasih mengangguk, "Kamu harus pergi dari tempat ini, pergi sejauh mungkin mulai kehidupan baru nak."
"Bu sebenarnya ada apa ini, kenapa tiba-tiba ibu seperti ini? jelaskan pada Olivine buk," pinta Olivine namun Kasih sama sekali tidak mau buka suara.
Dia langsung mengemasi barang Olivine ke dalam ransel, "Kamu harus pergi dengarkan ibu dan jangan kembali kesini," ujarnya sambil meletakkan tas itu di pinggir pintu.
Tok tok
Deg!
Wajah Kasih langsung menegang begitu saja saat mendengar ketukan pintu itu, Olivine yang melihat itu semakin di liputi perasaan aneh pada ibunya itu.
Kasih memeluk tubuh Olivine dan mengecup pipi putrinya itu, "Nak suatu saat nanti kamu akan tahu siapa pria yang ada di dalam foto ini," tunjuk kasih pada foto yang berlubang di salah satu sudutnya, menghilangkan wajah seseorang yang seharusnya ada disana.
Kasih langsung berjalan ke arah pintu, sebelum dia membuka pintu itu dia menatap putrinya itu dengan sendu dan penuh harap.
Ceklek
"Kasih saya ingin bicara denganmu," ujar Radian saat pintu baru saja terbuka.
Kasih berusaha menetralkan ekspresinya dan tersenyum, "Tentu tuan, Olivine kamu istirahat saja ya pekerjaan kita sudah selesai," ujar Kasih sambil mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya mengikuti Radian pergi dari sana.
Mendadak perasaan Olivine tidak menentu, dia menatap dua pemberian ibunya itu dengan pikiran yang mendadak jauh.
"Ibu sebenarnya ada apa ini, kenapa kamu memberikan ini," lirihnya.
Tidak mau menduga-duga, Olivine segera menyimpan dua pemberian ibunya itu ke dalam tas dan lekas ikut keluar untuk menemui ibunya.
"Ibu, ibu dimana?" panggil Olivine sambil mencari sang ibu ke setiap tempat yang biasanya mereka bersihkan.
"Ibu, ibu dimana?" panggilnya lagi namun sama sekali tidak ada sahutan.
"Olivine!"
Olivine berbalik saat Mika memanggilnya, "Iya nyonya," jawab Olivine hormat.
"Ibu kamu pergi bersama suami saya, ada urusan!" ujarnya membuat Olivine heran, urusan apa yang sampai harus melibatkan ibunya?
"Urusan apa ya nyonya, bukankah ibu tidak punya kompeten apapun?" tanya Olivine.
"Halah sudah," jawab Mika sambil menyapu udara, "Saya mau tanya beberapa hal dari kamu ikut saya sekarang."
Mika langsung berjalan mendahului Olivine, Olivine yang tidak mau terkena masalah atau hukuman dari majikannya nitu langsung ikut berjalan mengekorinya.
Mika membawa Olivine ke ruang tamu, "Duduk," ujar Mika di angguki oleh Olivine yang langsung duduk di lantai sedangkan Mika di atas sofa.
"Apa ibu kamu membicarakan sesuatu?" ujarnya membuat Olivine langsung mengingat hal tadi.
Olivine menggeleng, "Bicara tentang apa ya nyonya?" ujar Olivine penasaran.
Mika melipat kedua tangannya di depan d**a, "Jangan berlagak bodoh, pasti ibu kamu sudah mengatakan sesuatu setelah turun dari lantai atas."
Kening Olivine mengerut, "Sama sekali tidak ada nyonya saya jujur, memang ada apa nyonya apa ini ada hubungannya dengan perginya ibu saya dengan tuan Radian?"
Mika menatap wajah Olivine lekat, wajah yang benar-benar dia tidak sukai karena kecantikannya melebihi dirinya dan juga putrinya Intan.
"Tidak," jawabnya singkat sambil tersenyum tipis, "Yasudah kamu lanjut dengan pekerjaan kamu," ujar Mika membuat Olivine keheranan.
"Nyonya ibu saya akan pulang hari ini kan?" tanya Olivine yang mulai tidak enak perasannya.
Mika meraih majalah yang ada di depannya,"Emm sepertinya tidak, sudah kamu jangan banyak tanya lakukan tugasmu segera!" ujar membuat Olivine terdiam.
Olivine akhirnya undur diri dari sana, dia kembali masuk ke dalam kamarnya dan meraih tas yang tadi ibunya rapikan.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi sampai ibu meminta aku pergi?" gumamnya.
Waktu mulai berlalu hingga jam 12 malam Kasih belum juga kembali, hal itu membuat Olivine mulai cemas memikirkan ibunya.
"Ibu kemana ya kok belum pulang juga," gumamnya sambil berjalan mondar-mandir dengan harap-harap cemas.
Tin tin!
Mendengar klakson mobil itu Olivine langsung berlari ke arah pintu utama, itu adalah suara mobil Radian artinya ibunya sudah pulang sekarang.
Ceklek, "Yeee ibu pulang!" girangnya saat membuka pintu, namun sesaat setelahnya Olivine terdiam.
"Olivine," panggil Radian membuat Olivine tersentak kaget, Radian tersenyum," Kamu belum tidur?" ujarnya.
Olivine menggeleng sambil matanya terus menatap ke arah mobil, berharap sang ibu keluar dari sana namun sama sekali tidak ada.
"Tuan dimana ibu?" tanya Olivine membuat Radian tersenyum.
"Ibu kamu? saya tidak bersama ibu kamu Olivine, kemana dia?"
Mendengar ucapan Radian sontak wajah Olivine menegang, "Ibu tidak bersama tuan, lalu ibu dimana? bukankah tadi tuan membawa ibu pergi lalu dimana dia sekarang?" tanya Olivine dengan nada kesal.
Radian memainkan kunci di tangannya, "Sepertinya kamu tidak pantas berbicara seperti itu pada bos mu Olivine, lagipula saya hanya membawa ibu kamu ke warung depan sana setelahnya saya pergi ke kantor," ujarnya membuat Olivine heran.
"Ibu ke warung? tuan tolong jujur dimana ibu saya, ibu tidak pernah pergi sampai se larut ini."
Radian mengangkat bahunya, "Saya tidak tahu Olivine, saya masuk dulu."
Radian menerobos masuk melewati tubuh Olivine yang mematung di depan pintu.
"Tuan, katakan jujur pada saya dimana ibu saya sebenarnya," pinta Olivine dengan nada tegas sebelum Radian benar-benar pergi dari sana.
Radian yang mulai jengah lantas berkacak pinggang, Olivine membalik tubuhnya, "Saya sudah katakan pada kamu bahwa saya tidak tahu dimana ibu kamu berada, apa kamu sedang menuduh saya?"
Olivine yang sudah di landa emosi itu lantas berjalan mendekat ke arah Radian, "Katakan jujur dimana ibu saya, saya yakin ibu saya tidak akan mungkin pergi hingga se larut ini. Jika tuan tidak jujur maka saya akan melaporkan tuan ke polisi," ancam Olivine.