"Oh begitu, kamu yakin ingin melaporkan saya ke polisi?" ujar Radian sambil mengangkat bahunya dan menatap sepele pada Olivine, "Silahkan saja Olivine saya tidak takut, silahkan laporkan dan cari dimana ibu kamu berada."
Mata Olivine mulai berkaca-kaca, "Saya hanya memiliki ibu tuan, saya yakin tuan tahu sesuatu tentang ibu saya."
"Saya tidak tahu sama sekali, jangan paksa saya untuk kasar pada kamu Olivine," tegas Radian dan langsung berbalik badan meninggalkan Olivine.
Olivine mulai menangis memikirkan ibunya, teringat olehnya jika Radian mengatakan ibunya pergi ke warung yang berada di sekitar sana. Tidak mau berlama-lama saat itu juga Olivine langsung keluar dan mencari ibunya.
Olivine yang tidak pernah keluar di malam itu terpaksa menerobos dinginnya malam karena baru saja hujan turun, Dengan tubuh yang menggigil Olivine memanggil ibunya.
"Ibu, ibu dimana!" teriaknya sambil berjalan pelan menyusuri jalan itu.
Warung yang di maksud oleh Radian sudah ada di depan mata, Olivine langsung mempercepat langkahnya untuk bisa sampai disana.
"Permisi ibu bapak, saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Olivine.
Para warga itu melirik ke arah Olivine, "Boleh neng mau tanya apa?" ujar seorang pria yang selama ini di kenal sebagai sopir pribadi tetangga Radian yang seorang pengusaha.
"Apa bapak dan ibu melihat ibu saya? saya dengar terakhir kali ibu saya datang kesini," ujar Olivine.
Pemilik warung terdiam seperti sedang mengingat, "Saya ingat ibu kamu memang siang tadi sempat mampir kesini setelah itu kembali pergi bersama tuan Radian."
Warga yang lain mengangguk, "Iya benar saya juga lihat tuan Radian dan juga Mbak Kasih pergi bersama menggunakan mobil."
Mendengar hal itu tubuh Olivine langsung terduduk lemas membuat orang-orang yang ada disana langsung panik melihatnya.
"Kamu kenapa Olivine, apa ada sesuatu?" ujar Mereka.
"Ibu saya hilang pak bu, tuan Radian mengatakan jika dia tidak pergi bersama ibu dia sudah meninggalkan ibu di warung ini hiks," Olivine menutup wajahnya sambil terisak.
Para warga yang juga berprofesi sama seperti Olivine itu yaitu pembantu dan juga sopir langsung menenan Olivine.
"Olivine mungkin ibu kamu pergi ke tempat saudara, coba kamu ingat siapa saudara kamu," ujar Pak Herman.
Olivine menggeleng, "Kami tidak memiliki saudara pak bahkan hanya saya dan ibu saya saja, kami sudah bekerja pada tuan Radian bahkan dari saya kecil."
Mendengar ucapan Olivine orang-orang itu tampak ikut sedih, "Tapi kami tidak berbohong Olivine, kami benar-benar melihat ibu kamu pergi bersama Radian," ujar pemilik warung dan di angguki yang lain.
"Hiks hiks, pak buk tolong bantu saya bantu cari ibu saya," pintanya dengan memohon.
"Iya Olivine, kami akan bantu nanti saya akan ketemu pak RT untuk mengatakan masalah ini kamu tenang ya semoga saja ibu kamu hanya pergi ke suatu tempat dan besok sudah kembali."
Olivine mengangguk lemah, "Terimakasih pak buk, sudah mau menolong saya," lirihnya.
Pemilik warung dengan baik hati lantas memberikan teh hangat untuk Olivine, agar menghangatkan tubuhnya yang menggigil kedinginan.
"Hey Olivine!"
Olivine dan orang-orang yang ada disana melirik ke arah suara, ternyata itu sang putri siapa lagi kalau bukan Intan.
"Heh pulang!" teriaknya membuat para warga itu menggeleng heran.
"Neng kalau ngomong kesini jangan teriak-teriak," ujar pemilik warung namun Intan tidak perduli.
"Saya pulang dulu ya pak buk," pamit Olivine yang langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Intan.
Intan yang tampaknya begitu kesak dengan Olivine itu lantas mendorong bahu Olivine, "Lo tu bisa gak sih gak nyusahin sehari aja hah, gue capek harus nyusul lo kesini!"
Olivine menunduk, "Maaf nok saya sedang mencari ibu," lirihnya.
"Halah, pulang!" sentaknya berjalan lebih dulu di depan Olivine.
Olivine melirik ke arah warung, para warga menatapnya dengan sendu namun dia berusaha tersenyum agar tidak membuat orang-orang yang ada disana kasihan melihatnya.
**
Ceklek
"Nah akhirnya pulang juga kamu," ujar Mika saat pintu rumah di buka secara kasar oleh Intan.
"Kamu darimana?" ujar Radian sambil menutup majalahnya.
"Saya mencari ibu," jawab Olivine dengan tegas membuat Radian tersenyum penuh arti.
"Sudahlah tidak perlu kamu pusingkan ibu kamu itu, saya ingin meminta kartu Identitas kamu," ujar Radian membuat Olivine terhenyak.
"Tuan bilang tidak perlu memusingkan masalah ini, itu ibu saya tuan dan dia begitu penting bagi saya. saya tidak mau memberikan kartu Identitas saya," tegas Olivine membuat Radian kesal.
"Kamu ini kenapa bebal sekali, pantas saja ibu kamu itu pergi ternyata anaknya seperti ini."
"Jangan memancing saya tuan, banyak saksi yang mengatakan jika tuan yang terakhir kali bersama ibu dan tuan membawa ibu menggunakan mobil. jujur tuan, kemana anda membawa ibu!"
Mika dan Radian tersenyum, "Sekarang kamu mau berikan kartu Identitas itu secara baik-baik atau secara paksa?" ujar Mika sambil melirik ke arah Intan.
"Sini lo," Intan langsung menarik tubuh Olivine dan menyeretnya ke arah kamar Olivine, Mika dan Radian juga ikut mengekor di belakang sambil tersenyum manis seakan tengah melihat pertunjukan seni.
"Lepaskan Intan lepaskan tanganku sakit lepaskan!" sentaknya berusaha untuk melepaskan tarikan Intan itu namun sama sekali tidak berhasil.
Brak!
Intan menendang pintu kamar Olivine dan langsung menyeret Olivine untuk masuk, "Dimana kartu Identitas lo!" teriak Intan.
Intan langsung mengacak-acak isi kamar itu, namun tidak mendapati apapun hingga matanya tertuju pada tas yang berada di samping pintu.
"Oh disini," ujar Intan membuat Olivine terkejut, dan berlari ke arah tas itu.
"Heh lepas," sentak Intan saat Olivine menarik tas itu dari tangan Intan.
Intan langsung mengeluarkan isi tas itu hingga semua pakaian Olivine berceceran, uang yang sempat diberikan Kasih pun turut jatuh hingga berhamburan.
Olivine memunguti uang itu dengan terburu-buru, begitu juga dengan foto yang kasih berikan padanya Olivine langsung menyimpannya.
"Nah ini dia," ujar Intan saat berhasil menemukan kartu Identitas Olivine di saku tas itu, Intan menyerahkan kartu itu pada Radian.
Intan dan Mika menatap Olivine penuh curiga, "Lo udah packing, memang mau kemana?" tanya Intan.
Olivine menggeleng, "Tidak pergi kemana pun," lirihnya sambil memeluk tas tadi.
"Kamu ingin kabur?" ujar Mika tersenyum sinis.
Mika melirik ke arah suaminya itu, "Sesuai dugaan pah, sepertinya Kasih sudah mengatakan sesuatu pada Olivine tapi seseorang yang ada di depan kita ini mau coba main-main."
Olivine menggeleng tegas, "Ibu sama sekali tidak mengatakan apapun, sekarang kalian harus jujur dimana ibu berada!"
Mika memberi kode pada Intan dan di jawab anggukan oleh putrinya itu.
"Sini lo ikut gue," Intan kembali menarik tubuh Olivine untuk ikut bersamanya.