"Saya mau dibawa kemana, lepaskan saya lepaskan!" berontak Olivine berusaha melepaskan tarikan Intan.
"Diam kamu Olivine jika tidak saya akan pukul kamu," ancam Mika yang ikut mengekor di belakang bersama Radian.
Olivine di bawa ke kamar tamu yang ada di samping kamar Intan, tubuh Olivine di dorong dengan keras hingga terhempas ke lantai.
Brak!
"Akh sakit," erang Olivine sambil memegang pinggangnya.
Tidak berhenti disitu Mika langsung menarik tubuh Olivine ke meja rias, Radian langsung meraih tali yang ada di ranjang dan Intan langsung menahan tubuh Olivine agar tidak berontak.
"Aaa lepaskan saya, lepaskan!" teriak Olivine sambil menendang Intan yang memeganginya.
plak!
Radian menampar wajah Olivine dengan keras hingga wanita itu kehilangan kesadaran, Radian dengan cepat langsung mengikat tubuh Olivine dengan tali dan menyumpal mulutnya dengan kain.
"Ayo sekarang kita keluar pastikan jendela dan pintu terkunci kita akan meninggalkan Olivine disini."
Mika dan Intan mengangguk, mereka langsung mengecek jendela dan juga mengunci balkon kamar, setelah itu mereka keluar dari kamar dan mengunci pintu.
Radian langsung masuk ke dalam ruang kerjanya, misinya kali ini adalah memasukkan data Olivine ke dalam kartu keluarganya.
Sedangkan Mika dan Intan langsung berkemas, mereka kini tengah di kejar waktu untuk segera pergi dari sana sebelum ada yang mengetahui gerak - gerik mereka.
Merasa kesulitan dengan perubahan data itu, Radian lantas menghubungi seseorang yang bisa dia percaya dia mengirimkan data Olivine dan juga data Intan.
Setelahnya Radian langsung menemui istri dan anaknya, untuk membantu mereka berkemas. Radian melakukan semua itu karena mendapatkan informasi dari seseorang, bahwa ada yang sedang melacak keberadaannya. Dan kemungkinan pria itu sedang bergerak menuju ke kediaman Radian.
Radian tidak tahu pasti siapa orang itu, karena dia butuh waktu yang lama untuk mencari tahu soal itu. saat ini mereka harus menyelamatkan diri dan pergi dari sana.
**
Olivine terdiam mengingat semua peristiwa kelam itu, yang membuatnya berakhir di sekap di rumah Zavier saat ini. dia termenung memikirkan bagaimana nasibnya setelah ini, dengan bayang-bayang Zavier.
Ceklek
Mata sayu Olivine melirik ke arah pintu yang terbuka, Terlihat Zavier yang berjalan ke arahnya sambil membawa piring di tangannya.
"Bagaimana, kau sudah memikirkan jawabanmu? ayolah apa kau tidak khawatir menjadi korban atas kejahatan ayahmu?" ujar Zavier sambil meletakkan piring itu di depan Olivine.
Olivine menunduk, "Saya sudah berkata jujur pada anda, saya bukanlah anak tuan Radian melainkan hanya seorang pembantu."
Brak!
Zavier menendang piring itu dengan keras hingga terbanting, "Kau memang benar-benar keras kepala, lihat ini," Zavier mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan sesuatu pada Olivine.
"Lihat ini, kau bisa membaca kan? lihat kartu keluarga ini menulis namamu, Olivine sedangkan wanita yang kau sebut Intan itu sebagai anak kandung Radian jelas tidak ada disini," teriak Zavier.
Olivine benar-benar tidak percaya atas apa yang dia lihat, "Aku benar-benar tidak percaya ini," lirihnya.
Srek, Zavier mencengkram pundak Olivine dengan kasar, "Sepertinya kau memang tidak bisa di ajak bicara baik-baik, baiklah aku akan membuatmu seperti di neraka."
Air mata Olivine merembes begitu saja, "Hiks hiks, saya sudah jujur benar-benar jujur apakah kamu tidak percaya? bagaimana saya harus mengakui suatu hal yang sebenarnya bukan ulah saya? tolong percaya pada saya."
Plak!
Zavier menampar wajah Olivine, "Kau benar-benar wanita ular penipu, dengarkan aku Olivine," Zavier mencengkram leher Olivine dengan kuat, "Selagi aku tidak menemukan Radian maka bersiaplah untuk menerima akibat dari perbuatan nista ayahmu itu."
Zavier melepaskan cengkramannya itu dengan kasar, matanya menyiratkan amarah memuncak seakan ingin menelam Olivine hidup- hidup saat itu juga.
"Uhuk, uhuk!" Olivine mengelus dadanya untuk sekedar melonggarkan nafasnya yang sempat sesak karena Cengkraman Zavier tadi.
"Saya tidak akan pernah mengakui hal yang sama sekali tidak saya lakukan dan tidak saya ketahui, saya bersumpah jika saya bukanlah anak dari tuan Radian."
"Diam, aku tidak butuh omong kosongmu itu! kau lihat aku sendiri yang akan merobek mulutmu itu di hadapan Radian saat dia aku temukan!"
Zavier berbalik berjalan menuju pintu, "Ya aku akan menunggu hari itu, hari dimana kau akan menyesal karena telah melakukan hal ini padaku!" balas Olivine namun tidak lagi di tanggapi oleh Zavier.
Brak!
Zavier membanting pintu Olivine dengan kasar, "Tuan, kenapa anda begitu emosi?" ujar Kevin yang baru saja tiba disana.
"Wanita itu benar-benar ingin mendapatkan pelajaran dariku," ujar Zavier sambil berjalan pergi dari sana.
Kevin mengikuti langkah Zavier itu, "Tuan tekan emosi anda kita harus segera mencari dimana keberadaan Radian."
Zavier menghempaskan tubuhnya di atas sofa, sambil memijat keningnya dia berujar, "Apa ada kabar tentang dirinya?" tanya Zavier.
Kevin menggeleng, "Sama sekali tidak ada, sepertinya mereka sudah pergi dari kota ini atau bisa saja mengganti identitasnya."
"Jika memang begitu pasti akan ada riwayat pemesanan tiket atau pengurusan ke instansi pemerintahan bukan? lalu kenapa kalian tidak bisa menemukannya?" kesak Zavier.
"Sayangnya ini tidak semudah seperti yang kita pikirkan, mereka sama sekali tidak ada memesan tiket atau apapun, bahkan tidak mengurus apapun sepertinya ada seseorang yang membantu mereka hingga bisa bersembunyi seperti ini."
Zavier terdiam, "Jika ini di luar negeri semuanya pasti akan lebih mudah, akh kacau!" kesalnya.
"Saya hanya berpesan tuan, bagaimanapun Radian putrinya tidaklah bersalah dalam hal ini bahkan saya mencari riwayat hidup Olivine tapi sama sekali tidak ada masalah, saya mohon berikan setidaknya makanan yang layak untuknya."
Zavier melirik tajam ke arah Kevin, "Apa kau tertarik dengan anak pemb*nuh itu? kau selalu membelanya, aku pun tidak mau menyiksa seseorang jika bukan karena kesalahannya, kenapa kau begitu takut jika dia terkena masalah?" Zavier bangkit dari duduknya, "Jika saja Radian bo*oh itu tidak melakukan semua ini aku pun enggan mengotori tanganku untuk mengurus wanita itu."
Kevin menunduk mendengar ucapan Zavier, dia paham bagaimana perasaan dan sakit hati pria itu tapi dia pun tidak tega melihat Olivine yang di ikat seperti hewan dan bahkan belum diberikan makan sejak kemarin.
"Saya pamit tuan," ujar Kevin sambil membungkuk badan.
Zavier sama sekali tidak menjawab ucapan Kevin, dia kesal dengan pria itu yang kesannya tidak berpihak padanya.
**
"İni makanlah dulu, tubuh kamu begitu lemah."
Kevin menyodorkan makanan sehat itu pada Olivine yang terlihat ketakutan, "Tenang saja, ini sehat dan aman aku tidak berniat melakukan hal buruk padamu," ujar Kevin meyakinkan wanita itu.
Olivine mulai berani menyentuh makanan itu, dia yang sudah kehabisan tenaga itu sama sekali tidak bisa menolak makanan itu.