Kau lah otak Pemb**** itu

1007 Words
”Saya mau tanya secara baik-baik pada kamu, jangan khawatir Olivine saya akan melindungi kamu jika nanti Radian justru marah padamu." Olivine menghentikan suapannya dan menatap Kevin dalam, ”Saya bukan putri tuan Radian," jawabnya sama seperti pada Zavier. Kevin menarik nafas dalam, "Kenapa kamu tidak mengakuinya sebagai ayahmu? apa dia menyakitimu?" Brak! Olivine meletakkan piring itu dengan kasar, "Apakah anda tidak paham dengan apa yang saya ucapkan? saya bukan putrinya, bukan putrinya!" teriaknya, "Saya adalah korban, korban keegoisan tuan Radian dia mengikat saya sebelum kalian datang dan pergi begitu saja meninggalkan saya." "Huh," Kevin menghembuskan nafas berat, "Semua ini akan semakin sulit Olivine jika kamu tidak mau mengakui semuanya, Zavier akan terus menyiks* dirimu karena sakit hatinya setidaknya lakukan demi keselamatanmu," lirih Kevin penuh harap. Olivine menunduk, "Bahkan saya juga kehilangan orang tua saya tuan, saya kehilangan ibu saya di hari itu. saya paham bagaimana perasaan tuan Zavier, tapi tidaklah adil jika saya harus menanggung semua kesalahan ini padahal saya tidak tahu apapun." Kevin benar-benar ingin mempercayai ucapan Olivine, ucapan dan tatapan Olivine tampak tulus dan sama sekali tidak ada kebohongan di dalamnya. tapi fakta sudah menunjukkan semuanya jika Olivine adalah putri dari Radian. "Huh, yasudah saya harus pergi sekarang jaga diri kamu dan pikirkanlah dengan baik ini demi keselamatan kamu Olivine." Setelah mengatakan hal itu Kevin segera pergi dari sana, Zavier akan murka jika tahu Kevin memberi Olivine makan. Olivine menatap punggung tegap itu dengan tatapan sendu, siapakah yang akan mempercayainya sekarang jika pria itu pun sama sekali ragu padanya. Olivine melirik ke arah piring itu dan kembali meraihnya, dia kembali menyuap nasi itu dengan lahap untuk bisa mengisi perutnya. ** Brak! ”Bangun, jangan berpura-pura lemas seperti itu bangun!" teriak Zavier pagi ini. Mata sayu Olivine mulai mengerjap pelan, bibirnya yang pucat itu berusaha berucap lirih namun tidak sanggup karena tubuhnya begitu lemah. plak! Zavier menampar wajah Olivine dengan keras, "Ternyata kau otak dari pemb*nuh kakekku!" teriak Zavier sambil menonyor kepala Olivine. Olivine menggeleng pelan, "Saya tidak melakukan itu," ucapnya. "Bohong, kau bohong! aku sudah menangkap salah seorang pria yang terlibat di malam itu dan kau," Zavier menunjuk wajah Olivine, "Kau yang mengarahkan mereka untuk melakukan itu, kau membantu Radian kau pembun*h, plak!" Zavier kembali menampar wajah Olivine hingga bibir wanita itu mengeluarkan darah. Nafas Zavier terengah-engah, "Bawa dia masuk!" teriak Zavier pada anak buahnya. Tidak lama dua orang bertubuh tegap masuk sambil menyeret seorang pria yang babak belur, "Kau lihat siapa dia," tunjuk Zavier pada pria itu. Olivine menggeleng, "Saya tidak tahu tuan," lirihnya. "Akhhh, kau bicara pada wanita busuk ini aku mengira dia sudah mulai lupa ingatan sekarang!" geram Zavier. "Nona andalah yang sudah menghubungi kami untuk melakukan aksi itu, tolong nona jangan berkilah saya tidak ingin di salahkan karena hal ini." "Saya tidak mengenal siapa kamu," jawab Olivine dengan suara bergetar, "Apa salah saya sampai kamu tega memfitnah saya seperti ini." Olivine melirik pada Zavier, "Saya benar-benar tidak mengenal pria ini tuan, saya berani bersumpah." "Dia bohong tuan, nona anda begitu keji mengakulah nona karena dengan begitu semuanya jadi lebih mudah!" Dengan tubuh lemahnya Olivine berusaha untuk bangkit, "Kauuu penipu!" teriaknya sambil menunjuk pria itu dengan tangannya yang terikat. “Diam! kau tidak berhak mengatakan dia penipu, justru kau adalah penipu kau lebih kejam daripada iblis!" Zavier menarik rambut Olivine hingga kepalanya mendongak ke atas, "Wanita iblisss," desis Zavier dengan suara mengeram keras. plak! Zavier mendorong kepala Olivine ke dinding dengan keras, senyuman Zavier begitu puas saat melihat wajah Olivine yang menahan sakit dan juga tubuhnya yang kian melemah. "Aku akan menyiksamu, aku tidak akan menahan diri sekarang karena aku yakin kau tidak akan mengaku atas perbuatan set*n mu itu, cukup dengan pengakuan suruhan mu ini kau akan menjadi sasaran empukku mulai hari ini." "Lepaskan saya, lepaskan!" lirihnya. "Hahahahhaa, jangan berharap Olivine jangan berharap inilah akibatnya karena kau berani menentangku." "Hentikan Tuan Zavier!" teriak Kevin yang tiba-tiba datang kesana. Dug! Zavier melepaskan kepala Olivine dengan kasar hingga kembali terbentur ke dinding, "Kenapa harus berhenti? apa kau tahu ternyata wanita ini adalah otak dari pembun*han opa." Mendengar hal itu Kevin Syok, "Aa apa, ini tidak salah kan?" tanya Kevin dengan terbata. Zavier menggeleng, "Lihat aku berhasil menangkap pria ini dan akhirnya semuanya terungkap," Zavier bangkit dan berdiri dengan bangga, "Dan ternyata apa? wajar saja wanita ini tidak mau mengaku karena dia adalah otak pelaku." "Ck ck, kotor sekali ya. sebenarnya apa niatmu Olivine?" Zavier tampak tersenyum sinis, "Hahahah ayolah aku sudah tahu apa niatmu, kau ingin menguasai harta papa bukan? kau mengira jika papa tidak memiliki anak, ah licik sekali kau ini." "Bun*h saja saya," isak Olivine dengan air mata yang mengucur deras. "Hahaha apa? tenang saja itu akan segera terjadi tapi kau harus melewati tahapan yang tidak mudah Olivine," ujar Zavier. Olivine menatap pria yang ada di depannya itu dengan sendu, "Apa kau tahu dimana keberadaan ibuku? jika memang kau tahu katakan padaku bagaimana keadaannya," lirih Olivine dengan mata penuh harap. Kevin melirik ke arah Olivine dan pria itu, "Apa kau mengenal Olivine?" tanya Kevin. Pria itu mengangguk, "Dia putri tuab Radian, kenapa kamu bertanya dimana ibumu? bukankah nyonya Mika dan tuan Radian sedang pergi sekarang? kau tentu tahu itu nona Olivine, karena kamu lah yang meminta mereka pergi dan sengaja mengorbankan dirimu sendiri." Mendengar hal itu isakan Olivine semakin dalam, kenapa begitu keji fitnah itu kenapa Radian begiru tega padanya apa salah mereka sebenarnya. "Kau sudah dengar Kevin? sudah sekarang bawa pria ini aku muak melihatnya!" titah Zavier. Kevin sama sekali tidak puas dengan ucapan pria itu, dia menahan anak buah Zavier untuk pergi, "Tunggu," Zavier berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan pria itu, "Apa kau sudah yakin dengan ucapan mu tadi? karena perlu kau tahu jika suatu saat kebenaran lain terungkap dan kau menjadi pihak yang berbohong disana maka hidupmu akan lebih menderita," tegas Kevin dengan tatapan penuh intimidasi. Pria itu menunduk, "Saya pasti dengan ucapan saya tadi," ucapnya tanpa berani menatap mata Kevin. mendengar hal itu Kevin tidak lagi mendebat, "Bawa dia," ujar Kevin. Zavier tersenyum pada Kevin, "Sekarang aku yakin Kevin jika wanita ini begitu keji dan kejam."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD