Kevin tertemb*k

1000 Words
"Sekarang katakan padaku dimana Radian berada?" tanya Zavier lagi. "Saya tidak tahu," jawab Olivine dengan tegas yang berhasil membuat Zavier murka. Srek, Zavier menarik rambut panjang Olivine hingga kepalanya mendongak ke atas, "Katakan padaku dimana dia!" teriak Zavier dengan lantang sampai terlihat urat di lehernya. "Saya bukan putrinya," jawab Olivine lagi. Plak! "Zavier!" teriak Kevin saat Zavier menampar wajah Olivine. "Hiks hiks, bun*h saja saya tuan agar anda puas, saya lelah tuan saya mohon percepat saja semuanya tuan saya mohon hiks hiks." "Saya tidak akan seperti ini jika kamu tidak melakukan itu, apa kamu tahu saya kehilangan orang tua saya dan juga kakek sqya dimana nurani kalian sebagai manusia hah? apa kesalahan kami sampai kalian melakukan hal itu?" Olivine menggeleng, "Saya berani bersumpah jika bukan saya anak dari tuan Radian, nama putri tuan Radian adalah Intan pria tadi sudah berbohong tuan." "akhhh," Zavier menodongkan pisau pada Olivine, "Sekarang jawab jujur dimana Radian!" teriaknya. Olivine menutup matanya dan menghembuskan nafasnya perlahan, "Tembaklah tuan saya tidak bisa menjawab pertanyaan Anda, tembaklah saya." Zavier menarik pelatuk pistol itu, " tuan Zavier jangan," Kevin menghentikan Zavier, "Saya akan mencari tahu dimana Radian berada, jangan siksa Olivine." Zavier melirik sinis pada Kevin, "Kau pasti dengan ucapanmu itu? kenapa kau begitu ingin membela wanita ini? cihh memalukan," Zavier menyimpan pistolnya di dalam sakunya. ”Jangan halangi dia tuan Kevin, saya lebih baik mat* daripada mengakui hal yang sama sekali tidak saya lakukan. saya rela mat* di atas kebenaran." "Oh hebat sekali wanita ini, kalau begitu baiklah," Zavier kembali mengeluarkan pistolnya, "Kau ingin ini kan?" "Tuan jangan!" Dor! pyar! Olivine perlahan membuka matanya, dia berfikir apakah dia sudah mat* sekarang tapi kenapa tidak ada sama sekali rasa sakit yang dia dapatkan? "Akhh," Kevin merintih keras sambil memegang lengannya yang terluka itu. "Tuan Kevin," panik Olivine sambil menyeret tubuhnya untuk mendekat ke arah Kevin. Olivine melihat lengan Kevin terkena peluru, peluru itu hanya menggores lengannya saja tapi berhasil membuat lengan itu robek. "Anda kejam tuan," desis Olivine menatap Zavier dengan tajam. "Kenapa kau bertindak bod*h Kevin?" amuk Zavier kesal. "Sudah aku tidak papa Olivine, tuan saya mohon bebaskan wanita ini hukum dia dengan hal lain jangan siksa dia seperti ini tuan," ujar Kevin. Zavier melirik tajam pada Olivine, "Apa kau sudah mempengaruhi Kevin untuk berpihak padamu perempuan ibli* ?" teriaknya. Olivine menggeleng, "Sama sekali tidak, bahkan saya hanya berbicara satu kali dengan tuan Kevin." "Akhhh," Teriak Zavier frustasi. "Bawa Kevin, obati dia!" titah Zavier pada anak buahnya yang berdiri di belakangnya. Kedua anak buah Zavier itu mengangguk dan lekas mengapit Kevin untuk di bawa keluar, sebelum benar-benar pergi Kevin lebih dulu memohon pada Zavier. "Saya mohon tuan, berikan keringanan sampai saya bisa mendapatkan informasi akurat siapapun bisa menjadi apapun. anda harus lebih percaya dan yakin pada saya daripada anak buah Radian. Jika nanti saya menemukan bukti bahwa Olivine bersalah, maka tuan bebas melakukan apapun padanya." Zavier menghembuskan nafas kasar dan memberi kode pada anak buahnya itu untuk lekas pergi. Sepeninggal Kevin Zavier menatap tajam pada Olivine, "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya membuatmu seperti ini, tapi jika nanti apa yang Kevin temukan ternyata benar kau adalah pemb*nuh itu maka kau akan rasakan akibatnya." Olivine menatap berani Zavier, "Baiklah jika nanti memang saya bersalah maka saya sendiri yang akan berdiri di hadapan anda untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan saya." Zavier tersenyum tipis, "cukup berani," lirihnya di dalam hati. Zavier memberi kode pada para anak buahnya untuk membawa Olivine dari sana, entah kemana wanita itu akan dibawa yang jelas Zavier tidak akan melepasnya begitu saja. ** ”Papa sedang apa?" tanya Mika yang kepo dengan urusan Radian yang tampak sibuk di depa laptopnya. "Papa sedang memalsukan data Olivine mah, papa ingin buat jika Olivine pernah berurusan dengan polisi." Mika mengangguk dan duduk di samping Radian, "Sepertinya wanita itu sedang hidup dalam kesengsaraan ya pah, ah sudahlah mama tidak mau memikirkannya." Radian mengangguk, "Sekarang yang kita butuhkan adalah pengacara itu, bagaimana caranya agar papa bisa bertemu dengannya." "Apa papa tidak memiliki kontak atau apapun itu?" Radian menggeleng, "Sama sekali tidak mah, jika papa nekat untuk kembali ke Indonesi* papa khawatir salah seorang dari anak Liam justru menemukan papa." "Tapi bukannya sudah aman pa? kamu sudah membayar semua orang untuk menutupi kepergian kita kan?" Radian mengangguk, "Tapi harus tetap hati-hati mah papa sudah coba mencari informasi terkait anak Liam, ternyata dia bukan orang sembarangan dia juga seorang pemilik perusahaan di luar negeri." "Benar-benar luar biasa pah, artinya dia lebih hebat daripada Liam?" Radian mengangguk sambil membuka situs terkait Zavier putra Liam. "Lihatlah, dia begitu mirip dengan Liam, tapi dia tampak lebih tegas dan lebih hebat daripada Liam." Mika mengangguk, "Bagaimana jika kita kembali masuk ke dalam hidup pria ini? kita ganti semua identitas kita dan menjodohkan Intan dengannya?" Mendengar hal itu Radian terkejut, "Mah apa mama tidak salah? dia bukan pria sembarangan yang bisa kita kelabui begitu saja." Mika menepuk pundak Radian, "Dengarkan mama pah, jika sekarang kita sulit menemukan dimana surat wasiat itu artinya kita harus bisa mengambil dari dalam. jika papa ingin jadi yang terhebat maka papa harus bisa mengalahkan putra Liam." "Akh ma, jangan bod*h papa tidak mau menjadi umpan, sudah cukup Olivine yang kita korbankan." "Tapi ini demi putri kita Intan pah, mama rasa tidak terlalu buruk jika kita menjodohkan Intan dengan Zavier." "Aku setuju mah," Tiba-tiba Intan muncul di belakang mereka. "Intan?" gumam Radian. Intan mendekat dan menatap foto Zavier itu dengan tatapan ingin, "Intan menyukainya pah mah, bahkan sebelum Intan tahu dia adalah putra tuan Liam." "Tapi intan Ini tidak semudah itu." Intan melipat kedua tangannya di depan d**a, ”Sudahlah pah Intan akan berusaha untuk mendapatkannya, lagi pula papa sudah menyembunyikan identitas Intan bukan? jadi santai saja, biar Intan yang akan mendekatinya." Mau tidak mau Radian mengangguk, "Terserah pada kamu saja, yang penting papa tidak mau jika Zavier tahu siapa kita sebenarnya papa tidak mau jika kita terlibat dalam masalah." ********************************************* "Berikan dia pekerjaan yang banyak dan sulit, jangan biarkan dia beristirahat sedikitpun ingat jangan ada yang kasihan padanya karena aku tidak membayar kalian untuk itu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD