Flashback 3

1043 Words
Saat tangan kekar Zavier menyentuh wajah Liam yang kini telah dingin itu disitulah dia seakan di tarik kembali pada saat kejadian masa lalu, dimana sang ayah memeluknya sebelum dia pergi dan Zavier menyentuh wajah Liam dengan deraian air mata. Perasaan Zavier seketika tidak dapat dikondisikan, Zavier menangis dan mengangkat tubuh Liam keluar dari peti agar dia bisa memeluknya lebih erat. Air mata Zavier terus mengalir hingga tanpa sadar suara isakan tangisnya mengganggu Olivine yang sedang tertidur pulas disana. “Bangunlah, kau ingin aku pulang sekarang aku sudah pulang bangun jangan jadi penjahat yang pergi begitu saja, bangun!” isak Zavier. “Kau jahat, kenapa kau meninggalkanku bangunlah aku mohon pukul aku seperti yang kau mau tapi jangan pergi, jangan hukum aku seperti ini Tuhan!” Jerit Zavier. “Engghhh,” Olivine mengerjapkan matanya dan menatap ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukkan hampir jam 4 pagi, suara tangisan itu masih terdengar hingga membuat Olivine bangkit untuk bisa melihat siapa yang sudah menangis. Saat tubuh itu bangkit sambil berpegangan tangan pada Peti yang ada di sebelahnya, disanalah Olivine melihat tubuh Liam yang sedang di peluk seorang pria bertopeng yang kini sedang menangis. “Siapa kau, lepaskan tuan Liam” Teriak Olivine agar semua penghuni yang ada disana bangun. Mendapatkan teriakan seperti itu, Zavier terkejut dia langsung meletakkan tubuh Liam dengan hati-hati seperti posisi semula dan langsung berjalan ke arah Olivine. Melihat pria itu yang mendekat ke arahnya, Olivine semakin histeris dan berteriak kencang. “Siapa kau, jangan mendekat!” teriak Olivine sambil memundurkan tubuhnya ke belakang, namun Zavier sama sekali tidak perduli dan langsung membekap mulut Olivine agar wanita itu berhenti berteriak, dan menarik tubuh Olivine ke pelukannya. ”Eeeee, eeeeee!” suara Olivine sambil menepuk tangan Zavier agar dia melepaskan tubuh Olivine. Zavier menatap ke sekitarnya, dan kemudian berbisik pada Olivine, “Saya mohon jangan berteriak saya bukan orang jahat, saya hanya ingin melihat papa saya untuk terakhir kalinya. Tolong jangan katakan dan beritahu siapapun soal ini termasuk pada Radian. ” Mata Olivine menatap pria bertopeng itu yang hanya terlihat matanya saja, mata itu berwarna biru di seputar lingkar mata pria itu terlihat kulit yang berwarna putih dengan bulu mata tebal. Sejauh ini Olivine sudah memperkirakan pria itu sangat tampan. “apa kau mengerti?” Olivine mengangguk patuh dan sesaat setelahnya Zavier langsung melepaskan tubuh Olivine dan melihat ke sekelilingnya. Dengan cepat Zavier berlari sekuat tenaga meninggalkan tempat itu. Olivine yang masih syok melihat itu hanya terdiam dengan nafas terengah-engah, masih jelas teringat di pikirannya pria itu mengatakan papa dan memohon padanya agar Olivine tidak memberitahu pada siapapun, termasuk pada Radian. Zavier yang melompat dari dinding pembatasan rumah itu ternyata terlihat oleh orang lain selain Olivine, siapa dia? Dia adalah Gading. Gading yang saat itu masih berada di dalam kamarnya terkejut saat ada benda keras yang menghantam kaca. Dengan cepat Gading membuka jendela itu dan melihat ada seseorang yang melompat dari sana. Gading yang selama ini tahu bagaimana Zavier langsung dapat mengenali pria itu sebagai cucunya, “Zavier,” Lirihnya sambil melihat kepergian Zavier yang menjauh dari rumah itu. “Liam lihatlah kenekatan putramu dia lebih tangguh dari aku ataupun dirimu, aku akan menjaganya Liam sebagai permohonan maafku padamu,” Lirih Gading dengan wajah sendu. ** Azan berkumandang pagi itu Olivine, Kasih dan juga Gading langsung melaksanakan sholat subuh begitu juga dengan penghuni rumah lainnya. Setelah selesai sholat mereka langsung bahu membahu untuk melaksanakan proses pemandian jenazah dan ini adalah detik terakhir Gading dapat melihat putranya itu. Para tetangga lantas berdatangan kesana untuk membantu proses pemandian jenazah juga proses pengkafanan. Tangisan orang-orang disana pecah, Liam benar-benar berarti di mata mereka dan hal itu membuat hati Gading semakin sedih karenanya. Gading yang selama ini jarang sekali menangis akhirnya melepaskan semuanya di saat memandikan jenazah Liam, tangannya yang dulu juga memandikan Liam saat anaknya itu lahir dan tumbuh dewasa kini juga harus memandikan Liam untuk terakhir kalinya. Setelah selesai dengan proses memandikan jenazah orang-orang lantas menyiapkan kafan Liam, Lagi-lagi proses itu mengingatkan Gading saat dulu dia membedongi tubuh Liam ketika lahir, sungguh begitu hancur hatinya saat sang putra lebih dulu menghadap sang kuasa. “Tuan, apa anda ingin memeluk tuan Liam sebelum di masukkan ke dalam keranda?” Gading mengangguk dan memeluk tubuh putranya itu dengan deraian air mata, “Nak kau meninggalkanku, bagaimana caranya aku mengatakan jika ini terlalu berat bagiku. Liam maafkan semuanya kesalahan papa di masa lalu nak,” isaknya membuat orang-orang yang ada disana ikut menangis. Setelah cukup lama Gading melepaskan pelukannya pada Liam, dan membiarkan tubuh itu di angkat ke dalam keranda karena akan di bawa ke pemakaman khusus yang ada disana. Gading ikut serta dalam proses pemakaman itu, kuburan Liam berada persis di sebelah makam istrinya yaitu Sonia. Setelah selesai dan orang-orang yang ada disana mulai pulang satu persatu, Gilbert terdiam seakan tidak tahu harus melakukan. Gading berjongkok dan mengelus nişan itu, “Sonia, sekarang aku telah membawa Liam padamu, kamu tidak akan lagi merasa sendiri disini. Liam menepati janjinya untuk tetap sendiri meskipun kamu telah tiada, Sonia perlu kamu tahu putramu telah dewasa dan dia berada disekitar sini sekarang. Cintamu dan Liam abadi untuk selamanya.” Gading menyeka matanya yang kian basah, hingga beberapa saat kemudian seseorang datang dua orang yang menyapanya. “Saya turut berduka cita tuan Gading. Dan maaf saya tidak menyambut kedatangan anda semalam, saya benar-benar tidak tahu jika anda datang,” ujar Radian. Gading memejamkan matanya dan melirik ke arah suara, “Terimakasih,” jawabnya singkat. “Saya adalah teman Liam tuan, nama saya Radian dan ini istri saya Mika.” Gading segera bangkit dari posisinya dan pergi begitu saja meninggalkan Radian juga Mika disana, hal itu membuat Mika kesal tidak terkira karena diacuhkan oleh Gading. “Pah, dia sombong banget sih? Baru juga kaya dikit udah sesombong itu,” geram Mika sambil menatap tajam punggung Gading. Radian menepuk genggaman tangan Mika, “Sudah biarkan saja, dia hanya orang tua jangan khawatir setelah ini dia tidak akan memiliki power apapun karena aku yang akan menguasai semua itu. ” Mika mengangguk senang, “Ah sudahlah pa, lebih baik kita pulang saja mama malas disini, lagipula wartawan juga udah gak ada.” Mika dan Radian segera melangkahkan kaki pergi dari sana, begitu juga orang-orang yang ramai tadi kini berangsur-angsur menghilang satu persatu hingga tidak tersisa satupun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD