Bruk!
Zavier menjatuhkan tubuhnya di tengah-tengah makam papa dan mamanya itu, dia menutup wajahnya dengan kuat sambil berusaha menahan tangis yang sejak tadi sudah tumpah.
“Kenapa, kenapa kalian meninggalkanku ma pa bangunlah aku butuh pelukan kalian, aku butuh usapan lembut kalian, untuk apa semua kekuasaan ini jika kalian tidak berada di sampingku untuk apa hiks hiks.”
“Apa aku terlihat seperti anak yang lemah? Opa mengajariku untuk tidak menangis karena semua hal tapi kehilangan kalian adalah mimpi buruk yang tidak pernah aku inginkan.”
Zavier memeluk nişan Liam itu dengan deraian air mata, “Papaa, Zavier pulang pa Zavier kembali bangunlah pa, papa merindukan Zavier bukan? Sekarang Zavier disini, ayolah pa pukul Zavier yang papa bilang anak nakal ini. Kenapa pa, kenapa papa meninggalkan Zavier, apa papa marah pada Zavier? Jika iya mari bertukar tempat pa hiks.”
Grrrrrr duarrr
Gemuruh petir menyambar dengan keras di langit, menandakan akan datang hujan sebentar lagi, Zavier mendongakkan wajahnya ke langit dan menantikan air hujan itu membasahi wajahnya.
“lihatlah langitpun bersedih akan kepergianmu pa, mereka tahu dirimu adalah orang baik.”
Zavier menutup kedua matanya menikmati gemuruh hujan yang deras itu, tapi tiba-tiba mendadak hujan itu berhenti mengenai tubuhnya.
“Tuan bangunlah, jangan menangis seperti ini."
Ucapan itu sontak membuat mata Zavier kembali terbuka dan terlihat sudah ada seseorang yang memayunginya.
“Untuk apa kamu kesini?”
Kevin mensejajarkan tubuhnya dengan ikut berjongkok di samping Zavier, “Aku datang untuk melihat makam om Liam, tapi ternyata Tuan juga ada disini."
Zavier menatap nişan kedua orang tuanya itu, “Sekarang aku benar-benar sendiri semua Kevin, kenapa kemalangan terus menimpaku.”
Kevin mengelus pundak Zavier, “Tuan tidak sendirian kami selalu bersama dengan anda, sekarang waktunya kita mencari siapa yang sudah melakukan ini” ucap Kevin sambil memandang sendu ke arah Zavier.
Zavier menyeka sudut matanya, “Kau benar, aku tidak boleh lemah aku harus mencari tahu semuanya, aku tidak boleh lemah!"
“Sekarang kita pergi dari sini, jangan sampai ada orang yang melihat keberadaan kita, aku akan mengantar tuan pulang.”
Zavier mengangguk, “Antarkan aku ke apartemen, ada beberapa hal yang harus kita lakukan jangan sampai kita salah langkah dalam hal ini."
Kevin menundukkan wajahnya tanda paham dan bangkit, ”Mari tuan kita langsung berangkat."
Sebelum benar-benar pergi Zavier mengelus nisan sang papa dan tersenyum, dia berjanji dalam hatinya untuk menangkap siapa pelaku yang sudah melakukan perbuatan itu pada sang papa.
**
Gading lantas pulang kembali ke rumah Liam, entah tidak ada komunikasi apapun sebelumnya justru tiba-tiba saat Gading tiba rumah itu sudah di penuhi oleh koper.
“Ini milik siapa?” Salah seorang pelayan keluar, “Maaf tuan ini koper kami mulai hari ini kami sudah berhenti bekerja.”
Mendengar hal itu Gading tentu saja kaget, “Berhenti bekerja? Siapa yang mengatakan kalian berhenti bekerja?” Ujarnya.
Para pelayan itu saling sikut, kemudian salah seorang dari mereka berujar, “Kami diberhentikan oleh tuan Radian. ”
Mendengar nama Radian disebutkan Gading terlihat kesal, apa tak Radian memecat semua karyawan itu. Lalu siapa yang akan membersihkan rumah jika mereka tidak ada, apa Radian mau melakukannya?
“Tidak ada yang di berhentikan bekerja seperti biasanya karena saya sendiri yang akan tinggal di rumah ini bersama kalian!” ujar Gading dengan tegas.
Mendengar hal itu tentu saja para pelayan itu sedang, bukan mudah mencari pekerjaan baru terlebih usia mereka sudah tidak produktif lagi.
Beberapa saat kemudian sebuah mobil mewah datang dan parkir di garasi milik Liam, dengan santai tiga orang itu keluar sambil terlihat tertawa bahagia.
“Loh, kalian kenapa masih ada disini?” ujar Mika, “Harusnya kalian sudah keluar dari rumah ini.”
Mendengar teriakan itu Gading yang berada di dalam rumah langsung keluar, “Apa hal kalian memecat mereka?”
Ucapan Gading itu benar-benar mengejutkan mereka, mereka berfikir Gading sudah tidak ada disana.
“Tuan Gading," lirih Radian berusaha tenang.
Gading berjalan tegap ke arah 3 orang manusia itu, ”Sebenarnya kalian itu siapa, apa hak kalian memecat para pelayan ini? Jangan sembarangan,” ujar Gading.
Ketiga orang itu menunduk, “Maaf tuan, saya mengira sudah tidak perlu lagi adanya ART karena sudah tidak ada yang tinggal di rumah ini.”
“Apa kamu bilang? “ geram Gading, “Apa kamu mengira jika rumah ini kosong tidak perlu di rawat? Saya yang akan tinggal disini.”
“apa!” Kini Mika ikut terkejut hingga suaranya melengking, “Anda akan tinggal disini, lalu kami akan tinggal dimana?” Ujarnya sebelum akhirnya menutup mulutnya karena sadar sudah teledor.
Ucapan Mika itu tentu saja membuat Gading Syok sekaligus kesal, “Siapa yang mengizinkan kalian tinggal disini? Enak saja, jangan kalian pikir jika Liam tidak ada maka kalian bebas melakukan apa saja.”
“maaf tuan tapi sepertinya anda perlu tahu jika rumah ini sudah menjadi milik kami,” ujar Radian.
"Jangan mengada-ngada kamu, kamu kira kamu siapa? sudah pergi kalian dari sini."
Gading langsung berbalik badan dan masuk ke dalam rumah, benar-benar aneh pikirnya siapa mereka begitu lancang seperti itu.
“Pa gimana dong ini,” Kesal Mika karena rumah impian mereka tidak bisa mereka tempati.
Gading menepuk pelan tangan Mika, “Sudah kita pulang sekarang, jangan berulah ayo Intan,” ujarnya.
Mika dan Intan tampak menghentakkan kakinya di lantai, kesal sekali rasanya padahal mereka benar-benar tergila-gila dengan rumah Liam yang super mewah itu. Apalagi setelah menginap semalam uh rasanya seperti Miliuner kelas elit.
Mereka akhirnya kembali pulang ke rumah mereka, meski tidak sederhana tapi rumah itu jauh sekali bedanya dengan rumah Liam.
"Halo, cepat laksanakan tugas yang saya berikan, saya mau besok eksekusi!"
"Apa kamu sudah memastikan jika itu berhasil?" tanya seseorang di sebelah sana.
"Tentu, ternyata si tua bangka itu pulang kesini dan menempati rumah Liam, aku tidak bisa masuk kesana semalam aku sudah mencoba mencari surat wasiat itu tapi sama sekali aku tidak menemukannya."
Seseorang yang di seberang sana mengetuk sisi kursi dengan jari telunjuknya sambil menyilangkan kedua kakinya, "Hemm jika begitu baiklah besok aku akan mengirimkan orang-orang kesana dan melakukan tugas itu, dan ingat Radian kau memiliki hutang bila semua ini berhasil."
*********************************************
"Lepaskan aku, lepaskan! siapa kalian semua!"