Gading di temb*k

1013 Words
Gading mencari keberadaan surat wasiat Liam, dia yakin pasti putranya itu sudah membuat wasiat untuk Zavier sebelumnya. Seisi kamar Liam sudah di geledah oleh Gading, "Apa mungkin surat wasiat itu bersama pengacaranya? lalu dimana pengacara itu berada sekarang," gumam Gading. Gading segera berjalan cepat dan meraih handphonenya yang tergeletak di atas nakas Liam, "Halo cepat cari siapa yang menjadi pengacara Liam sebelumnya, aku khawatir ada seseorang yang sedang mencoba mengambil hak cucuku disini." "Baik tuan saya akan langsung mencarinya." Gading lantas mematikan sambungan teleponnya, kemudian berjalan ke arah balkon untuk sekedar merehatkan pikirannya. "Sepertinya aku harus mengecek soal otopsi Liam, kenapa pria itu justru informasi yang aku dapatkan tidak sesuai dengan yang ada di dalam berita?" Drt drt Gading mengangkat panggilan telepon itu, "Tuan saya sudah mendapatkan informasi tentang pengacara itu dan dia bersedia datang dua hari lagi setelah pekerjaannya di luar negeri selesai." "Baiklah kalau begitu, terimakasih," ujar Gading. Gading sedikit bernafas lega mendengar ucapan anak buahnya tadi, berarti memang benar jika surat wasiat itu ada padanya. ** "Ayo cepat, lakukan tugas kalian ingat kalian harus bisa menangkap pria itu bagaimanapun caranya mengerti!" Orang-orang itu mengangguk, persenjataan telah lengkap tidak ada yang per'u di khawatirkan mereka hanya berhadapan dengan seorang pria tua kali ini. Mereka segera pergi menuju rumah Liam, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam dan mereka akan masuk ke rumah Liam pada jam 1 malam, mereka harus berhasil dalam misi ini karena hadiah yang Radian tawarkan cukup menggiurkan. Radian yang melihat kepergian orang-orang kepercayaannya itu tersenyum senang, "Aku tidak akan membiarkan satupun keluargamu hidup di dunia ini Liam, karena apa? karena kau adalah penghalang dari hidupku selama ini," ujar Radian sambil menyapu kedua tangannya seolah membersihkan kotoran yang lengket disana. Mereka tiba di kediaman Liam tepat waktu, disana begitu sepi tidak ada pengamanan lebih selain satpam yang berada di depan gerbang. 2 jam berlalu kondisi aman, "Kita masuk," ujar mereka dan mulai bergerak berpencar untuk masuk ke dalam rumah mereka memfokuskan satu ruangan yaitu kamar Gading. salah satu dari mereka langsung memanjat ke atas tembok dan melompat menuju lantai dua, dia meringsek masuk lewat jendela. "Ah ternyata begitu mudah mendapatkanmu," ujar pria itu tersenyum sinis pada Gading yang tertidur pulas di ranjangnya. Dengan cepat pria itu langsung membekap mulut Gading, ”Eeee, Gading memberontak, dan memukul pria itu hingga terjungkal "brak!" Kegaduhan yang terjadi membuat mereka yang ada di bawah langsung naik ke atas, "Amankan mereka dan jaga disini kami akan naik ke atas untuk melihat situasi." Mereka langsung bergerak cepat dan membuka pintu kamar, saat pintu terbuka mereka melihat rekan mereka juga Gading sedang saling pukul. "Siapa kalian!" teriak Gading. "Kau tidak perlu tahu siapa kami, sekarang kau menyerahkan diri atau terima akibatnya!" Gading langsung meraih kursi yang ada di dekatnya sebagai alat perlindungan, ”mundur kalian!" teriak Gading sambil mengangkat kursi itu ke atas dan siap melemparkannya pada orang-orang yang ada di depannya. Gading melirik ke arah handphonenya dia harus menghubungi Zavier agar bisa datang kesana, mata Gading bersitatap dengan orang-orang itu. "Menyerahlah tuan Gading, atau anda tidak akan selamat kali ini," ujarnya sambil mengangkat pistolnya dan mengarahkannya pada Gading. Gading yang melihat itu langsung berlari dan dor! bruk! Gading terjatuh dengan satu tembakan lolos mengenai lengannya, Gading berhasil meraih pistol di tangannya dan berusaha mencari kontak Zavier. Orang-orang itu langsung berlari dan menarik handphone itu dengan kasar dari tangan Zavier, "Akh lepaskan aku!" teriak Gading masih berusaha mempertahankan handphonenya. "Dia menghubungi seseorang!" teriak mereka yang melihat Gading sudah menghubungi seseorang. Ketua kelompok itu melotot pada Gading dan langsung menendang tubuh Gading dengan kasar, "Akhh kalian akan merasakan akibatnya!" lirih Gading yang mulai kesakitan. "Şrek! pria itu langsung menarik handphone itu dari tangan Gading dan menginjak tubuh Gading hingga terlungkup, " Akhh lepaskan aku." "Halo opa!" "Zavier tolonggg dor!" Panggilan terputus tepat setelah tembakan itu menembus kepal*Gading, hingga membuat Gading tewas di tempat. "Segera bawa dia, aku yakin sebentar lagi ada seseorang yang datang kesini!" teriak Ketua kelompok itu dan di angguki oleh yang lain. Mereka segera mengangkat tubuh Gading dan turun ke bawah, para pembantu yang ikut disandera oleh kelompok itu begitu histeris saat melihat tubuh Gading yang berlumuran darah. "Lepaskan mereka kita harus cepat pergi dari sini!" teriaknya hingga membuat orang-orang itu segera melepaskan sandera itu dan berlari keluar dari rumah. "Tuan Gading!" teriak mereka. Di sisi lain Zavier yang mendengar teriakan terakhir Gading itu langsung berlari keluar dari apartemen, dia begitu panik saat mendengar adanya tembakan hingga panggilan yang terputus tiba-tiba. Zavier berusaha menghubungi Gading tapi handphone opanya itu sama sekali tidak dapat di hubungi, bahkan kini di luar jangkauan. "Akh, cepat!" teriak Zavier sambil memukul stir mobilnya. Zavier benar-benar tidak mementingkan keselamatannya dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga hanya membutuhkan waktu 15 menit saja. Citttt, ban mobil Zavier terseret karena menekan rem dengan kuat, Brak! Zavier membanting pintu mobilnya dengan kencang dan berlari masuk ke dalam rumah. "Opaaaa!" teriaknya menggema seisi ruangan. Para pembantu yang baru saja melihat Zavier hanya terdiam karena tidak mengenali Zavier sama sekali, Zavier berjalan mendekat ke arah mereka. "Dimana opa!" teriaknya namun mereka hanya menggeleng. "Akh opaaaa!" teriak Zavier sambil memegang kepalanya dan menunduk frustasi. "Tuan maaf, Tuan Gading di bawa oleh orang yang tidak di kenal, mereka masuk secara tiba-tiba dan menyandera kami semua tuan dan mereka juga," lirih pembantu itu tidak dapat meneruskan kalimatnya. Zavier melirik ke arah wanita itu, "Kenapa, katakan padaku!" teriaknya. "Tuan Gading sepertinya mengalami luka serius, kami mendengar suara tembakan begiu keras dari kamarnya." Mendengar hal itu Zavier langsung berlari ke atas untuk melihat sendiri kamar Gading, saat dia membuka pintu itu Ceklek! ceceran darah langsung memenuhi penglihatannya. Bruk! tubuh Zavier terduduk di lantai, air matanya menetes dengan deras, "Opa," lirihnya tidak sanggup lagi untuk berbicara dengan keras. para pembantu juga menyusulnya naik ke atas, saat mereka melihat kamar itu mereka begitu syok dan nyaris pingsan. "Siapa, siapa yang sudah berani melakukan ini," ujar Zavier sambil mengepalkan tangannya dengan kuat. Zavier bangkit dan berjalan masuk ke dalam kamar Gading, genangan darah itu begitu banyak bahkan hampir memenuhi lantai. Zavier berusaha mencari handphone Gading, namun sama sekali benda itu tidak dapat ditemukan disana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD