"Maaf, Pak! Saya benar-benar tidak sengaja. Aduuuh ... bagaimana ini, handphone anda ... maafkan saya, Pak!" Tiya merengek. Wajahnya memelas dengan mata memerah dan berkaca-kaca.
Ponsel tersebut dalam keadaan mati. Tiya sudah berusaha menyalakannya, tapi tidak bisa. Kini dia dalam masalah besar.
Ya Tuhan, gaji dan lemburanku bisa melayang. Sial banget aku hari ini! Gerutu Tiya.
"Coba lihat!" perintah Erland seraya mengulurkan tangannya pada Tiya.
"I~ini, Pak," sahut Tiya dan segera menyerahkan benda pipih itu pada Erlando.
"kau tahu berapa harga ponselku?" tanya Erland dengan angkuhnya.
"Tidak tahu tepatnya, Pak. Tapi saya yakin lebih mahal dari gaji saya sebulan kan," jawab Tiya.
Erland mengangkat ponselnya tinggi. "Harga ponsel ini sekitar tiga puluh juta rupiah."
Tiya membelalakkan kedua bola matanya ketika mendengar nominal angka yang disebutkan oleh Erland. Ralat, tak hanya Tiya yang terbelalak, tapi juga Jecki. Tiga puluh juta rupiah setara dengan gajinya selama enam bulan.
"Itu sama dengan gaji saya empat bulan, Pak. Itu pun masih ditambah uang lembur saya," celetuk Tiya.
"Jangan ngobrol di sini! Kita duduk di sana!" perintah Erland. Lelaki itu menunjuk sebuah meja yang berada di sudut cafe tersebut.
Hm .... Lagu Ten 2 Five pun sudah berganti dengan lagu lain sekarang.
Tidak ada yang membantah. Tiya dan Jecki mengekor mengikuti Erland yang berjalan mendahului mereka. Meski dalam hati Jecki memaki, karena rencananya untuk berduaan dengan Tiya menjadi bubar jalan.
Jecki dan Erland sama-sama menyeret kursi kosong untuk Tiya duduki.
Erland, melirik Jecki dengan penuh dengki.
Jecki, menghembuskan napas kasar dan menahan rasa cemburunya.
Persaingan akan segera dimulai.
Sedangkan Tiya nampak kebingungan mau memilih duduk di mana. Wanita itu terlihat menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Salah tingkah! Ia tidak mau salah mengambil sikap dan berbuntut pada kericuhan di antara dua lelaki yang memperebutkannya.
"Ah, saya duduk di sini saja." Tiya menarik kursi lain yang masih satu meja dengan kursi yang dua lelaki itu sediakan.
"Udaranya panas sekali." Tiya mengibas-ibaskan tangannya. "Di sini kan dekat jendela," lanjutnya.
Keputusan yang tepat. Dengan begini Tiya tidak akan membuat kedua lelaki itu merasa iri.
"Dari mana bisa kau kepanasan? Di sini AC-nya dingin sekali," protes Erland.
"I~iya, itu menurut Bapak, tapi saya kepanasan," sahut Tiya dengan jawaban yang klise.
"Kalau begitu kau duduk di sampingku saja!" Erland memerintah dengan seenaknya.
Jecki kembali menghembuskan napas kasar. "Biarkan Tiya memilih di mana dia harus duduk!" sambung Jecki merasa geram.
"Bukan masalah di mana ia mau duduk, Bang. Tapi ini perkara handphone tiga puluh jutaku," sambut Erland sedikit emosional.
Nah iya, setiap mendengar kata tiga puluh juta, kepala Tiya berdenyut-denyut tidak karuan. Puyeng. Uang segitu banyak cukup berarti untuk menghidupi keluarganya di kampung.
"Aku akan lebih nyaman bicara dengan Tiya bila dia duduk di sebelahku. Atau anda mau mengganti ponsel saya yang rusak ini demi Tiya?" lanjut Erland menantang Jecki.
Dari mana aku mendapatkan uang segitu banyaknya? Kalau aku punya tentu aku rela memberikannya demi Tiya. Nyawa pun akan aku berikan juga demi Tiya. Batin Jecki kalah telak karena nyatanya ia tidak memiliki daya untuk membantah.
"Ya sudah aku pindah ke sebelah Pak Erland kalau begitu, he-he-he," sambung Tiya seraya tertawa kecil. Bukan tertawa karena senang, tapi tertawa waspada. Was-was jika dua lelaki ini beradu mulut lebih jauh di tempat umum yang ramai ini.
For your information, lagu berjudul 'Senorita' kini mengalun menjadi backsound untuk ketiga manusia yang tengah bersitegang ini.
Tiya pun duduk di bangku yang ada di sisi Erland, lebih tepatnya bangku yang tadi sudah Erland tarik untuk Tiya. Yach, upaya Tiya untuk meredam rasa iri di antara mereka pun hanyalah sia-sia. Wajah Jecki pun terlihat masam dan tertekuk-tekuk macam koran bekas.
"Lalu, apa saya harus menggantinya?" tanya Tiya pada pokok permasalahan.
"Tahan! Jangan keburu napsu! Aku haus dan juga lapar. Tolong panggilkan pelayan!" tukas Erland lalu memerintah Tiya seenaknya.
Tiya mencebikkan bibirnya. "Mbak, tolong kemari ya!" Tiya melambaikan tangannya dan berseru meminta seorang pelayan untuk datang.
Tiga buku menu makanan sudah tertata di atas meja masing-masing. Erland sudah membolak-baliknya untuk memilih, sedangkan Tiya dan Jecki justru sibuk memerhatikan Erland.
"Kalian kenapa? Apa di wajahku tertulis menu makanan?" tanya Erlando tanpa mengalihkan pandangan dari buku di hadapannya. Dia sadar kok jika sejak tadi kedua manusia yang duduk bersamanya sedang sibuk menatap dirinya.
Tiya dan Jecki tidak menjawab, mereka memilih untuk purapura membaca daftar makanan dan minuman yang akan mereka nikmati. Meski pada kenyataannya, napsu makan Jecki sudah hilang karena mood-nya yang berantakan akibat kehadiran Erland di antara dirinya dan Tiya. Dan napsu makan Tiya juga hilang karena terus teringat dengan 'Tiga Puluh Juta' yang mungkin harus ia bayarkan.
Siap-siap kau tidak akan makan selama empat bulan dan Ibu serta adikmu akan kelaparan juga. Bodoh kau, Tiy! Tiya sibuk merutuki dirinya sendiri dalam batin. Buku tebal yang berisi nama-nama makanan dan minuman sukses diolak-aliknya tanpa tahu mana yang akan ia pilih.
"Mbak, saya mau .... " Erland menyebutkan pesanannya dan waiters dengan cekatan mencatat pesanan Erland.
Jecki melakukan hal yang sama. Memesan makanan yang paling familiar untuk lidahnya, karena lelaki itu tidak menyukai makanan dengan cita rasa yang kebarat-baratan. Dan Tiya ....
"Hei, apa kau akan terus membolak-balik buku itu hingga cafenya tutup?" tanya Erlando seraya menyenggol lengan Tiya.
"Eh ... Pak, saya .... " Tiya gelagapan. Benar-benar tiga puluh juta membuat pikirannya kacau balau.
"kau kenapa, Tiy?" tanya Jecki sambil berpindah tempat duduk yang ada di depan Tiya. Tak hanya itu, Jecki melakukan satu tindakan yang akan memancing reaksi Erland yaitu memegang tangan Tiya.
"Aah ... Oh ... aku .... aku tidak apa-apa. Aku pesan sama sepertimu saja, Jeck," jawab Tiya tidak lupa ia melempar senyum tercantik yang ia punya.
"Oke, baiklah." Jecki memesankan makanan untuk Tiya sekalian.
Jangan terpancing! Lelaki itu bukan saingan yang berat untukku. Gerutu Erland dalam hati, meremehkan Jecki.
"Oke, sekarang kita kembali pada ponsel tiga puluh jutaku yang kau hancurkan," tegas Erlando seraya menggeser posisinya agar lebih dekat pada Tiya dan dengan angkuhnya ia menjauhkan tangan Jecki dari tangan Tiya.
Erlando merentangkan tangannya. Yang sebelah kiri ia taruh di atas meja dan yang sebelah kanan ia letakkan di sandaran bangku yang Tiya duduki. Dan ini membuat jarak duduk Tiya dan lelaki itu menjadi lebih dekat dan terkesan mesra apabila dilihat.
Jecki sudah merah padam begitu pun dengan Tiya yang belingsatan tidak tenang, lebih tepatnya salah tingkah meski ini bukan pertama kalinya Erland bersikap agresif dengannya.