"Iya, Pak. Jadi apakah saya harus menggantinya?" tanya Tiya berbasa-basi. Berharap dan amat sangat berharap jika Erland akan menjawab, "Tidak."
"Hm ... jika aku memintamu untuk menggantinya apa kau akan mampu untuk menggantinya?" Erland menjawab pertanyaan Tiya dengan pertanyaan pula.
"Jelas tidak, Pak. Saya sudah bilang pada anda tadi, itu setara dengan empat bulan gaji saya plus lemburan. Apa Bapak tega saya dan keluarga saya tidak makan selama empat bulan?" jawab Tiya dengan lugu tanpa ada rasa malu mengakui keadaan hidupnya yang memang paspasan.
Tanpa terasa Tiya menangis sesenggukan dan itu membuat Jecki iba.
"Tiy, jangan menangis!" kata Jecki menenangkan Tiya.
Bagaimana ia tidak menangis? Tiga puluh juta itu bukan uang yang sedikit. Dan itu terjadi karena kecerobohannya. Karena ia terlalu fokus menyanyikan lagu favoritnya.
"Anda kan kaya raya, tapi masih tega meminta ganti rugi dari wanita yang berjuang untuk keluarganya?" lanjut Jecki menghardik Erlando
"Tolong tidak usah ikut campur! Kecuali jika anda bisa mengganti ponsel saya dengan yang baru," geram Erlando membalas ocehan Jecki.
"Pak, apa ponsel itu tidak bisa dibetulkan? Mungkin biayanya jauh lebih murah. Uang segitu besarnya cukup untuk membiayai adik saya yang sedang sakit di kampung, Pak," ujar Tiya masih terisak-isak
"Sejak pagi tadi aku dengar kau selalu menjadikan ibu dan adikmu sebagai tameng ya. Keterlaluan!" omel Erlando tidak serta merta percaya dengan penuturan Tiya.
"Bukan menjadikan tameng, tapi itu kenyataannya," sungut Jecki tidak terima.
"Kau tahu benar tentang hidup Tiya atau hanya sok tahu? Atau kau tipe lelaki yang mudah iba dengan tangisan wanita?" cibir Erland.
"Jadi kau menilai Tiya hanya berpura-pura begitu? Kau ini memang pe- "
"Stop! Stop!" lerai Tiya ketika Jeck sudah hendak menarik jaket Erlando.
"Tolong jangan buat kegaduhan di sini, Jeck!" tegur Tiya.
"Tapi dia sudah menghinamu, Tiy!" sentak Jecki naik pitam.
Erlando masih memasang ekspresi setenang mungkin seolah tidak tertarik untuk berdebat dengan Jecki.
"Biarkan saja! Aku sudah biasa dihina," balas Tiya seraya menghapus air matanya.
"Aku malas berunding jika ada lelaki ini di sini," sambung Erlando sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Kita bahas tentang ini besok. kau ingat kan jika kau masih berhutang janji denganku?" lanjutnya.
Tiya hanya menganggukkan kepalanya karena tidak mau memperpanjang perdebatan.
"Dan sepertinya tanggung jawabmu padaku semakin besar. Ingat? Tiga puluh juta!" imbuh Erland.
"Tiga puluh juta." Tiya mengulang kalimat terakhir yang Erland ucapkan. Tangis wanita itu semakin banjir saja.
"Hanya karena bernyanyi aku harus mengeluarkan uang tiga puluh juta," rengeknya cukup sedih dan menyesal.
"Itu deritamu, Tiy!" ledek Erlando tidak peduli meski Tiya menangis layaknya anak balita yang kehilangan mainannya.
"Kau ini memang lelaki kaya yang tidak punya perasaan!" caci Jecki naik darah.
"Terserah!" sungut Erlando.
"Pesanan anda sudah siap, Pak." Seorang pelayan datang dengan membawa nampan berisi makanan yang Erland pesan.
"Saya mau pindah meja," sahut Erland dan mengomando pelayan dengan lambaian tangannya.
Dua pasang mata milik Tiya dan Jecki menatap punggung gagah Erlando yang berjalan menjauhi mereka. Lelaki kaya dengan paras tampan itu memilih untuk berpindah di meja yang jaraknya tidak terlalu jauh dari meja sebelumnya.
Erlando melirik tajam ke arah Tiya dan Jecki. Dengan cepat Tiya menundukkan kepala seraya menghapus sisa air matanya. Sedang Jecki balik melempar lirikan tajam pada Erland.
"Tiy, kau jangan menangis ya! Aku pasti bakal bantu kau untuk gantiin ponsel lelaki sombong itu," ujar Jecki menenangkan Tiya.
"Kau tidak perlu repot-repot membantuku, Jeck! Aku yang bersalah. Aku yang ceroboh," sahut Tiya.
"Aku akan tetap membantumu." Jecki tetap bersikeras.
Perbincangan mereka terhenti ketika makanan dan minuman yang mereka pesan datang. Tiya dan Jecki memutuskan untuk menikmati makanan mereka yang terasa tidak nikmat. Tiya tidak terlalu suka makanan yang ada di hadapannya. Ini salahnya juga yang memilih untuk mengikuti apa yang Jecki pesan padahal dia sendiri tidak menyimak dengan baik makanan apa yang Jecki order pada pelayan.
Dan ... ditambah dengan pikirannya yang kacau balau membuat nasi goreng cumi terasa seperti nasi goreng bercampur tinta pulpen saja di mulut Tiya.
Bagaimanapun keadaan Tiya, band pengisi cafe tetap saja memainkan alunan musik untuk menghibur para pelanggan. Dengan mendengarkan musik seperti ini membuat perasaan Tiya menjadi lebih baik. Setelah satu buah lagu milik Dewa 19 telah habis mereka nyanyikan, vocalis wanita itu berkata melalui microphone yang dipegangnya, "Selamat malam semuanya. Semoga kalian menikmati lantunan musik yang kita sajikan dengan suasana hati yang suka cita yach. Nah, karena tenggorokan saya lagi sakit sekarang, ehem ... ehem ... Ada nggak sih yang mau nyumbang suara nyanyi bareng kami?" tawarnya seraya dengan senyuman penuh keramahan.
"Kita nyanyi bareng yuk buat hibur para pengunjung di sini!" Penyanyi itu turun dari panggung dan mengedarkan pandangan matanya untuk menyapa banyaknya tamu yang hadir pada malam ini satu per satu.
Dari pada suntuk begini, mending aku nyanyi aja kan? Pikir Tiya seraya mengaduk-aduk nasi gorengnya yang berwarna hitam.
"Saya, Mbak," seru Tiya mengangkat tangannya ke atas.
Kontan semua pasang mata yang ada di sana menengok ke arah Tiya termasuk Erlando.
"Sekretaris itu mau bernyanyi?" lirihnya sambil menarik bibir menjadi sebuah senyum yang tipis.
"Hai, Kakak. Silahkan maju ke depan! Beri tepuk tangan dong!" pinta vokalis yang bernama Ella itu dengan sumringah. Dan seluruh pengunjung pun memberi tepukan yang gemuruh saat Tiya berjalan maju ke atas panggung.
Kini Tiya dan Ella sudah berdiri bersebelahan. Jelas semua perhatian menuju pada Tiya saat ini terutama Jecki dan Erland.
"Hai, Kakak," sapa Ella seraya menjabat tangan Tiya.
"Hai," sapa balik Tiya
"Kalau boleh tahu, Kakak cantik ini siapa namanya?" tanya Ella pada Tiya.
Satu buah microphone diberikan pada Tiya, dengan bantuan alat itu suara Tiya akan mudah didengar dari setiap sudut cafe tersebut.
"Hai, namaku Tiya Areyla," kata Tiya memperkenalkan dirinya.
"Hallo, Kak Tiya! Namanya cantik sekali seperti orangnya," puji Ella tulus. Memang kenyataannya demikian. Kecantikan Tiya mampu memukau setiap mata lelaki yang memandangnya, bahkan beberapa wanita sekarang menjadi was-was karena pasangan mereka begitu fokus menatap wajah Tiya.
"Terima kasih," balas Tiya ramah.
"By the way, Kak Tiy mau nyanyi lagu apa ini?"
"Aku mau nyanyi lagu kesukaan aku yang judulnya Cinta Tak Bersyarat dari Element," kata Tiya disambut dengan tepukan tangan dari semua pengunjung.
"I love you, Tiy," seru Jecki sambil berdiri dari tempat duduknya memberi semangat pada Tiya dengan antusias.