14. Suara Yang Merdu

1005 Words
Erland terus menarik ke dua sudut bibirnya seraya menatap tajam wanita yang memikat hatinya tersebut. Dan tatapan tajam itu berubah menjadi tatapan kagum tatkala ia mendengar Tiya mulai bernyanyi. "Tak ada sedikit pun sesalku ... Telah bertahan dengan setiaku, meski di akhir jalan ku harus melepaskan dirimu ...." Sebuah lagu yang Tiya nyanyikan dengan penuh penghayatan membuat suasana cafe yang remang menjadi syahdu dan romantis. Suaranya benar-benar mirip Jenni. Erlando terkesima. "Ho ... Mengapa tak mampu kau melihat, besarnya cintaku yang hebat ... Hingga ada alasan bagimu tuk tinggalkan setiamu ... Ho ... Demi nama cinta telah kupersembahkan hatiku hanya untukmu, telah kujaga kejujuran dalam setiap napasku ... Karena demi cinta telah kurelakan kecewaku atas ingkarmu, sebab kumengerti cinta itu tak mesti ... Memiliki .... " Banyak pengunjung yang ikut bernyanyi mengikuti alunan musik. Lagu ini memang terkenal pada masanya hingga saat ini pun lagu itu masih banyak terdengar dimana-mana. Bahkan orang-orang mengingat dengan baik bait demi bait lagu tersebut hingga akhir. Lagu patah hati yang menyentuh hati siapa pun yang mendengarnya. Suara Tiya begitu menghipnotis semua telinga yang mendengarnya. Tiya memang memiliki suara yang sangat merdu dan bernyanyi adalah hobinya. Saat sekolah, wanita itu kerap mengikuti lomba bernyanyi dan tak jarang mendapatkan juara pertama. Tiya kecil mendapatkan banyak hadiah dari suaranya dan bisa ikut membantu perekonomian keluarga. Dan karena nilai akademisnya yang mumpuni ditambah dengan prestasinya dalam bidang tarik suara, Tiya berhasil mendapatkan beasiswa. Sempat terbesit dipikiran Tiya untuk menjadi penyanyi yang sukses seperti idolanya yaitu Rossa dan Melly Goeslaw, tapi Tiya berpikir untuk menjadi artis pasti membutuhkan modal. Tanggung jawabnya sungguh besar pada hidup ibu dan juga adiknya, dari pada uangnya untuk yang lain lebih baik untuk fokus menghidupi keluarganya saja. Toh pekerjaannya yang sekarang juga sudah mapan. "Terima kasih, Kak Tiya. Suaranya merdu sekali," puji Ella setelah Tiya menyelesaikan lagu broken heart itu hingga akhir. "Sama-sama," sambut Tiya ramah dan kembali pada tempat duduknya. Saat Tiya berjalan melewati meja yang ditempati Erlando. Lelaki itu menarik tangan Tiya hingga Tiya terkesiap. "Suara yang merdu dan cantik seperti orangnya," puji Erland berbisik di telinga Tiya hingga membuat sekujur tubuh Tiya meremang. "Terima kasih, Pak," sahut Tiya kemudian melepaskan tangannya secara paksa dari Erland dan kembali pada tempat duduknya. Entah apa yang terjadi denganku, setelah sekian tahun hatiku mati rasa dan kali ini jiwa pemburuku kembali bangkit. Aku mau kau, Tiy. Aku harus mendapatkanmu, aku ingin mendengar suaramu sepanjang hariku, bahkan seumuran hidupku. Mendengar suaramu seperti mendengar suara kelinci kecilku hadir dalam hidupku lagi. Pikir Erlando sendu seraya memerhatikan Tiya dari kejauhan. "Suaramu bagus banget, Tiy. Aku sampai meleleh dengarnya," puji Jecki saat Tiya sudah duduk kembali di hadapannya. "Terima kasih, ya," balas Tiya merasa tersanjung. Sambil mendengarkan kembali alunan musik yang terus dimainkan oleh band pengiring, Tiya kembali mencoba untuk menikmati makanannya yang tadi terasa tidak nikmat. Perasaannya sudah jauh lebih baik saat ini. Dan tiga puluh juta yang menjadi momok berhasil ia lupakan meski hanya untuk sejenak. Sebetulnya Jecki penasaran siapa lelaki yang menganggu acara makan malamnya dengan Tiya, tapi ketika akan bertanya lebih jauh, ia memilih untuk mengurungkan niatnya karena takut akan membuat mood Tiya kembali anjlok. "Aku memang suka bernyanyi, Jeck. Sempat berpikir ingin menjadi penyanyi, tapi nasibku membawaku untuk menjadi seorang sekretaris," cerita Tiya. "Tidak masalah, Tiy. Dengan menjadi sekretaris pun kau masih tetap bisa menyanyi kan?" sahut Jecki. "Hm ... iya, kau benar," sambut Tiya. Tak lama setelah itu, datanglah seorang wanita dengan pakaian yang rapi dan formal. Wanita yang diperkirakan usianya sepantaran dengan Tiya tersebut menyapa keduanya dengan sangat ramah. "Perkenalkan saya Selia. Saya manager cafe ini." Wanita itu memberitahu nama dan juga jabatannya. Tiya dan Selia saling berjabat tangan dan saling melempar senyum bersahabat. Entah apa maksud kedatangan manager ini ke mejanya, Tiya pun tidak tahu. Hanya saja dia selalu menjamu dengan baik setiap orang yang mengajaknya berkomunikasi. Setelah berbasi-basi dengan obrolan ringan. Selia kemudian masuk ke dalam pokok pembicaraan utama yang akan dia sampaikan. "Bagaimana apa anda bersedia, Kak? Suara anda begitu merdu, saya yakin dengan anda bergabung di cafe kami, daya tarik cafe ini akan lebih kuat lagi. Ditambah dengan kecantikan anda dan keramahan anda, Kak. Anda dan cafe ini bisa sukses bersama-sama," tutur Selia setelah ia selesai mengutarakan apa maksudnya menemui Tiya. Iya, Selia menawarkan pada Tiya untuk bergabung dan menjadi penyanyi di cafe yang ia pimpin. Ia menilai bahwa kharisma yang ada pada suara dan diri Tiya dapat menarik pengunjung lebih banyak lagi ke cafenya. Selia pun menawarkan gaji yang nilainya cukup lumayan untuk pekerjaan yang hanya Tiya lakukan pada malam hari itu. "Jeck, bagaimana menurutmu?" Tiya meminta pendapat pada rekannya. "Itu terserah padamu, Tiy. Jika kau tidak lelah dan tenagamu kuat kenapa tidak?" jawab Jecki yang memilih untuk menyerahkan keputusan pada Tiya. Aku memang lagi butuh uang, tapi apakah aku mampu untuk melakukannya? Maksudku apa badanku kuat? Pagi harus bekerja dan malam bekerja lagi? Pikir Tiya. "Bagaimana, Kak?" tanya Selia sekali lagi. Tiya masih tampak ragu-ragu untuk mengambil keputusan. Antara tergiur dengan iming-iming uang yang tidaklah sedikit dengan keadaan tubuhnya yang pasti akan sakit bila terlalu ia forsir. "Kakak, apa saya boleh meminta waktu untuk berpikir?" tanya Tiya meminta kelonggaran. "Hm ... baiklah, Kak. Bagaimana jika saya beri waktu seminggu untuk Kakak berpikir?" Selia menyetujui permintaan Tiya. "Ini kartu nama saya." Selia menyerahkan sebuah kertas kecil yang berisi nama, alamat dan juga nomor ponselnya pada Tiya. Tiya mengambil kertas itu dan membacanya. "Oke, Kak. Terima kasih. Saya akan segera menghubungi anda jika saya sudah membuat keputusan," kata Tiya. "Siap, Kak. Saya tunggu kabarnya. Terima kasih. Selamat menikmati hidangannya. Selamat malam," ujar Selia kemudian pergi meninggalkan Tiya. "Jeck, aku jadi galau," keluh Tiya. "Pikirkan dulu masak-masak, Tiy! kau masih punya waktu seminggu untuk mematangkan keputusanmu," nasehat Jecki. Selepas kepergian Selia. Ponsel Tiya berdering. Ada panggilan suara dari Ibu Tiya di kampung. Karena suara di dalam cafe sedikit bising maka Tiya meminta ijin pada Jecki untuk keluar. Setiap pergerakan Tiya tak lepas dari pengawasan mata Erlando yang diam-diam sudah mulai terpikat oleh pesona Tiya. Tidak! Erlando terpikat pada suara Tiya yang mirip sekali dengan mantan kekasihnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD