**
"Kakak, kau sudah pulang? Tidak ada jadwal lemburkah hari ini?" tanya seorang wanita berambut panjang yang baru saja tiba di kediaman pribadi milik pengusaha muda kaya raya Erlando Rajeshwari.
"Tidak, Shan. Aku lelah sekali hari ini. Sejenak aku ingin pulang lebih awal dari biasanya," jawab Erlando seraya merubah posisinya agak condong ke arah wanita yang menyapanya dengan sebutan Kakak. Kedatangan wanita ini mengharuskan Erland untuk menghentikan lamunannya tentang kerinduan yang ia rasakan.
"Iya, Kakak itu bos, tapi aku lihat Kakak terlalu memforsir tenaga Kakak untuk bekerja. Kakak juga butuh liburan, hiburan, biar Kakak nggak suntuk," saran wanita yang bernama Shantika itu pada Erlando.
"Kau tahu aku sengaja melakukan ini, agar aku bisa melupakan apa yang sudah terjadi," balas Erlando seraya berjalan pelan untuk masuk ke dalam kamarnya.
Lelaki itu duduk di atas sofa yang ia pesan langsung dari luar negeri. Ini bukan hanya sebuah kursi biasa yang tidak memiliki arti. Bukan masalah harganya, tapi kursi ini menyimpan banyak sejuta memori tentang 'Kelinci Kecil' yang selalu Erland rindukan.
Shantika mengekor di belakang Erland kemudian duduk di meja yang ada di depan kursi sofa yang Erland singgahi. Kini mereka berdua saling berhadapan.
"Lihatlah apa yang Kakak lakukan!" pinta Shantika seraya menunjuk sebuah figura kecil berwarna kuning keemasan yang sedang Erland dekap.
Shantika tersenyum lalu meraih paksa benda itu dari pelukan Erland.
Sembari meletakkan figura bergambar foto seorang wanita cantik di meja yang ia duduki, Shantika berkata, "Biarkan kelinci kecilmu bahagia dengan takdirnya, Kak! Tuhan tidak memintamu untuk melupakannya, Tuhan hanya mau kau berjuang untuk bangkit dari keterpurukan. Seumur hidupmu, kau tidak akan pernah bisa melupakannya, karena dia tersemat dalam hatimu. Namun, kau masih bisa menata hidupmu lagi dengan orang yang baru tanpa menghapus kenangan bersamanya. Kakak tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi, tapi Kakak bisa berjuang untuk hidup Kakak yang baru," ujar Shantika dengan bahasanya yang apik dan lembut agar tidak membuat Erland tersinggung dengan perkataannya.
"Kau benar, Shan. Tapi dulu itu sangat sulit untuk aku lakukan, sampai akhirnya .... " Erlando tersenyum, dibiarkan kata-katanya menggantung begitu saja hingga memancing rasa penasaran Shantika.
"Sampai akhirnya apa, Kak?" tanyanya ingin tahu.
"Entah apa ini namanya, tapi aku tertarik sejak pertama kali mendengar suaranya," jawab Erland masih menggantung dan tak sepenuhnya menjawab rasa keingintahuan Shantika.
"Suara siapa?" selidiknya lagi.
"Suara seorang wanita yang mirip sekali dengan suara Jenni. Cara ia bicara, tertawanya, juteknya. Dia menarik perhatianku begitu dalam, Shan," papar Erlando dengan ekspresi wajah yang penuh mendamba.
"Dia mirip dengan Jenni?" Shantika masih tergelitik untuk mengetahui lebih jauh lagi.
"No, They have different faces. But, they have the same appeal. (Tidak, mereka memiliki wajah yang berbeda. Tapi, mereka memiliki daya tarik yang sama.)"
"Dia siapa maksud Kakak?"
"Nanti kau juga akan tahu, but not now (tapi tidak sekarang)."
"Terserah Kakak saja! Tapi bolehkah aku mengungkapkan pendapatku?" Shantika meminta ijin.
"Tentu saja. Aku selalu mendengar semua yang kau katakan," balas Erland seraya mencubit hidung mungil Shantika dengan gemas.
"Iya, Kakak dengarkan tapi tidak pernah Kakak lakukan," sungut Shantika kesal.
"Karena cara berpikirmu terlalu dewasa dari usiamu. Katakanlah apa yang ingin kau katakan!"
"Kalau Kakak menyukai wanita itu karena dia mirip dengan Kak Jenni, itu artinya Kakak hanya terobsesi. It's not love (itu bukan cinta)."
"Jelas mereka berbeda, Shan. Dan aku pun tidak bilang kalau aku mencintainya. Mungkin belum ... tapi akan .... " Erland mengakhiri ucapannya dengan menghela napas pendek.
"Baiklah, aku hanya bertugas untuk mendukungmu. Apapun keputusanmu aku selalu bersamamu, Kak." Shantika memberi dukungan.
"Iya, kau memang terbaik." Erlando mengelus wajah ayu wanita yang duduk di hadapannya saat ini.
"Apapun yang kita jalani saat ini, kita harus dan wajib berhati-hati, Kak. Jangan sampai orang tua kita tahu apa yang kita lakukan di belakang mereka," tandas Shantika mengingatkan Erland.
"Tentu saja, Shan. Kita harus selalu waspada, jangan sampai orang tua kita tahu rahasia kita dan perjanjian kita! Setidaknya sampai nanti kita memiliki waktu yang tepat untuk berkata jujur," balas Erland menyetujui.
"Waktu yang tepat adalah ketika Kakak menemukan pendamping hidup Kakak yang sesungguhnya." Shantika menggenggam erat jemari tangan Erlando.
"Semoga secepatnya," imbuhnya kemudian memeluk Erland dengan cukup erat.
"Aku sayang sama kamu," lirih Erland seraya mengelus punggung Shantika dengan lembut.
"Aku juga sayang Kakak," balas Shantika.
Mereka saling melepas pelukan masing-masing dan kembali duduk dengan posisi seperti semula.
"Bagaimana kabar Rendi? Apa hubungan kalian baik-baik saja?" tanya Erland perhatian.
"Hubungan kami baik-baik saja, Kak. Semakin romantis malahan. Aku bersyukur sekali memiliki kekasih sepengertian dia," jawab Shantika membanggakan kekasih yang sudah hampir tiga tahun dipacarinya.
"Syukurlah! Aku turut senang," sambut Erlando merasa bahagia jika Shantika bahagia.
"Dan tentang Kakakmu? Bagaimana proses pencariannya? Apa kalian sudah menemukan informasi baru?" Erland kembali mengangsur pertanyaan pada Shantika.
"Belum, Kak. Tapi Papi masih akan terus mencari mereka. Semoga saja segera ditemukan," jawab Shantika lesu.
"Atau kau mau aku menyewa beberapa detektif untuk membantu proses pencarian?" Erlando menawari bantuan.
"Tidak perlu, Kak. Papi sudah menyewa detektif juga," tolak Shantika.
Shantika terdiam sejenak. Dia membayangkan betapa sakit yang dirasakan Kakak dan juga keluarganya karena ulah dari Papi dan Maminya. Ingin rasanya Shantika bertemu dengan mereka dan meminta maaf atas apa yang terjadi selama belasan tahun ini.
"Apa kau memiliki foto Kakakmu?"
"Tentu saja. Kakak mau melihatnya?"
"Kalau boleh."
Shantika membuka tas miliknya untuk mengambil sebuah dompet. Dan di dalam dompet itulah ia menyimpan sebuah foto seorang gadis kecil yang memakai seragam sekolah dasar dengan kucir dua pada rambutnya.
"Ini foto Kakakku, Kak," ucap Shantika seraya mengulurkan foto itu pada Erlando.
Erlando mengambil kertas foto berukuran 3R itu dari tangan Shantika. Sebuah foto yang sudah sangat usang. Gadis kecil yang nampak pada lembaran kamera itu kini sudah berumur dua puluh dua tahun.
"Itu Kakak keduaku. Namanya Shara."
"Lalu foto Kakak pertamamu?"
"Papi tidak punya, Kak. Hanya itu saja. Itu pun Papi mengambil fotonya secara diam-diam. Saat Papi menemui Kak Sha ke sekolahnya tanpa sepengetahuan Ibu," jelas Shantika.
"Jadi seperti itu." Erlando mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Semoga semua urusanmu dan keluargamu cepat selesai, Shan," lanjutnya.
"Amin," sahut Shantika.
"Kalau begitu, aku masuk ke kamarku dulu ya, Kak. Aku lelah sekali, pekerjaanku di sekolah begitu banyak. Anak-anak banyak yang membuat ulah hari ini," keluh Shantika seraya meregangkan badan untuk memberi rasa rileks pada tubuhnya yang kelelahan.
"Aku sudah memberimu pilihan untuk berhenti bekerja, tapi kau tidak mau," decak Erlando sedikit memrotes.
"Aku suka menjadi guru konseling. Meski lelah, tapi aku bahagia," ujar Shantika.
Shantika memang cerdas. Sudah setahun ini semenjak dia lulus dari kuliah jurusan psikologi yang dia ambil, dia mengabdikan dirinya sebagai guru konseling di salah satu sekolah terkenal di kotanya. Meski sekarang dia masih terus melanjutkan pendidikan S2-nya. Shantika suka sekali terlibat dan membantu orang dalam menangani masalah maka dari itu dia memilih menjadi seorang psikolog.