Tiya melemas, emosionalnya yang memuncak membuat ia kehilangan keseimbangan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk duduk kembali di atas ranjang karena takut bila ia terjatuh pingsan.
Tiya memegangi kepalanya yang terasa berdenyut hebat. Memori tentang masa kecilnya yang pedih kembali menari indah di pikirannya.
Sedang Zeesha begitu shock mendengar pengakuan Tiya. Sekarang ia tahu mengapa rekan sekamarnya itu selalu tersulut api ketika ia membahas tentang perebut suami orang.
"Lihat air mataku jika kau ingin melihat tangis anak-anak Ivan, Zee! Lihatlah kemalanganku jika kau ingin menyaksikan penderitaan anak-anak kekasihmu! Kau boleh meminta hartanya, tapi aku mohon jangan ambil ayah mereka! Itu menyakitkan, Zee. Aku paham bagaimana rasanya, bagaimana perasaan istrinya ... karena ibuku pun tersiksa hingga beberapa kali mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Untuk itulah aku harus bekerja keras hingga sekarang. Karena ayahku yang pergi tanpa memberi nafkah sepeser pun untuk kami. Ini bukan hanya tentang harta, Zee. Namun, cinta seorang lelaki yang sudah terbagi untuk wanita lain tidak akan pernah sama lagi yang ia berikan untuk istri dan anak-anaknya," tutur Tiya menceritakan kebenaran tentang hidupnya dan masa lalunya yang selama ini ia tutupi.
Menjadi anak dari korban perceraian orang tua itu sungguh menyakitkan. Anak broken home yang harus berjuang membantu ibunya mencari nafkah sejak ia masih belia hingga ia dewasa. Betapa tanggung jawabnya begitu berat ketika ada satu nyawa lagi yang masih bergantungan kepadanya yaitu adiknya.
Ketika kepahitan itu terjadi, usia Tiya masih berumur tujuh tahun dan adiknya berumur empat tahun. Tanpa mereka ketahui, lelaki yang kerap mereka sapa "Ayah" bermain api dengan janda beranak satu. Setahun belakangan Tiya kecil dan adiknya kerap kali melihat ibu dan ayah mereka bertengkar. Jerit tangis sang ibu tak ayahnya hiraukan, bahkan air mata Tiya dan adiknya seperti air hujan yang bukan suatu masalah untuk ayah mereka.
Tiya dan Tisha, terguncang setiap kali melihat Ibunya mencoba untuk mengiris pergelangan tangannya sendiri. Tiga kali mereka melihat hal mengerikan itu di depan mata mereka, tapi Tuhan belum mengijinkan ibu mereka untuk berpulang. Dalam dua kali kesempatan, selalu saja ada orang yang menolong mereka untuk mencegah niat buruk ibunya. Dan dalam percobaan ketiga, sang bunda sudah berhasil melukai pergelangan tangannya, tapi untung saja urat nadinya belum terputus hingga nyawa wanita yang melahirkan mereka tersebut masih bisa diselamatkan.
Lalu dimana perginya kepala keluarga yang harusnya melindungi mereka? Entahlah ... Ia pergi tanpa pamit bahkan tanpa bicara sepatah kata pun pada mereka. Tisha kecil terus menangis dalam gendongan Tiya. Sedang sang ibu masih dalam proses penyembuhan luka dan mentalnya yang terpuruk parah.
"Pikirkan apa yang aku katakan, Zee! Aku pergi dulu! Jecki sudah menungguku," pamit Tiya.
Tiya mencangklongkan tas di pundaknya kemudian berjalan perlahan melewati Zeesha yang tengah tertegun mendengar setiap kata yang Tiya tuturkan.
"Apa aku sejahat itu? Tidak ... Aku tidak jahat, Tiy. Aku hanya ingin hidup enak. Aku bukan penjahat," lirih Zeesha.
**
"Tiy, kau baik-baik saja? Aku ... aku tadi mendengarmu berteriak ... kau ... "
"Aku baik-baik saja, Jack," potong Tiya.
"Jangan khawatirkan aku!" imbuhnya.
Jeck terdiam, kediamannya ini membuat Tiya mengerti bahwa Jeck tidak mempercayai apa yang keluar dari mulutnya. Ia paham Jecki seperti itu karena mengkhawatirkan dirinya.
Tiya tersenyum. Dengan lembut ia mengusap lengan Jecki yang tertutupi oleh jaket kulit berwarna cokelat.
"Jangan berpikir yang macam-macam! Aku benar-benar baik-baik saja. Tadi ... tadi aku hanya selisih paham sedikit dengan, Zee. Kau tahu kan dia seperti apa, tapi itu sudah terbiasa terjadi. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jelas Tiya.
"Tapi matamu sembab. Kau menangis?" telisik Jecki seraya memandangi paras ayu Tiya.
"Tidak, Jeck. Aku hanya kecapekan saja," kilah Tiya.
"Ayo kita segera pergi saja!" lanjutnya.
Jecki dan Tiya berjalan beriringan menuju kendaraan Jeck yang terparkir di depan pagar kostan Tiya. Beberapa kawan Jeck terdengar menyoraki mereka. Ada pula yang bersiul-siul menggoda. Namun, Tiya memilih untuk acuh. Hanya Jeck saja yang terlihat menyahut dan meminta mereka untuk diam.
"Jeck, maaf ya aku membuatmu menunggu lama tadi," ucap Tiya merasa sungkan.
"Tidak masalah, Tiy. Aku sudah menunggumu berhari-hari, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, hanya menunggu beberapa menit untuk malam ini bukan suatu masalah untukku," sambut Jecki kemudian tersenyum.
Tiya membalas senyum Jecki, "Maklumlah wanita membutuhkan banyak waktu untuk berhias diri. Aku tidak mau membuat kau malu dengan penampilanku yang berantakan," tuturnya.
Sebuah alasan klise yang Tiya lontarkan untuk menjaga perasaan Jecki. Biar bagaimanapun lelaki itu tidak boleh tahu jika Tiya bersedia pergi karena keterpaksaan saja, karena rasa terima kasih sebab Jeck sudah mengantarnya bekerja dengan tepat waktu dan semoga Jecki juga tidak mendengar apa yang sudah Zeesha katakan tentang dirinya.
"Tanpa berdandan pun kau sudah terlihat sangat cantik, Tiya," puji Jecki dengan setulus hati.
"Terima kasih, Jeck. Tapi maaf ya aku hanya memakai baju sederhana. Tadinya aku mau pakai dress, tapi aku pikir aku akan kesusahan membonceng motormu nanti," ujar Tiya sopan.
"Iya tidak masalah, Tiy. Aku juga sadar diri kok. Kendaraanku tidak terlalu nyaman untuk wanita secantik dirimu," kata Jecki sedikit memamerkan wajahnya yang lesu.
"Ma~maaf, Jeck! Bukan begitu maksudku." Tiya merasa sungkan. Sejenak ia merasa menjadi orang yang paling bodoh karena berbicara tentang hal yang tidak perlu untuk dia katakan.
"Tidak masalah, Tiy. Doakan saja aku bisa segera mengganti tungganganku dengan mobil," sahut Jecki berlapang d**a.
Ya Tuhan, kenapa mulutku pakai bicara seperti itu si? Aku jadi nggak enak sama Jecki. Batin Tiya sungguh sangat menyesal.
**
Langit malam dihiasi oleh gemerlip bintang nan cantik jelita. Suara nyanyian burung malam sayup terdengar menambah kesyahduan yang tercipta. Belaian semilir angin mencumbui sekujur tubuh insan yang tengah berduka.
Seorang lelaki patah hati menatap keindahan rembulan dan berharap akan menemukan cinta sejatinya di dalam langit malam. Sejenak hatinya tergerak, tatkala takdir menyeret ia masuk ke dalam nestapa, beberapa tahun silam. Hanya bisa berharap Tuhan menjagakan hidupnya yang terkungkung kerinduan yang kian menghujam.
'Yang paling menyakitkan dalam hidup adalah rindu. Rindu tanpa bisa bertemu, bahkan untuk menangkap bayangannya pun aku tak mampu. So, nikmati waktumu sebaik mungkin bersama orang yang kau cintai ... Sebelum rindu mengajarkanmu arti sebuah kesakitan yang paling memilukan.' Erlando Rajeshwari.
"Tak ... Tak ... Tak ... " Suara hentakan heels seseorang berbenturan dengan lantai. Tak lama setelah itu tepukan pelan mendarat mulus di bahu gagah Erlando.
Lelaki itu melirik sebuah tangan putih nan mulus yang bertengger di pundaknya. Dia tahu siapa yang datang, tercium dari bau parfum yang setiap pagi ia hisap aromanya.