**
"Ah iya baiklah, Pak. Saya memang seperti nenek lampir." Memilih untuk mengalah dari pada meneruskan perdebatan.
Tiya tertawa kecut, "Jadi sebaiknya tidak usah membahas soal wajah saya! Langsung pada pokok permasalahan saja, Pak! Bapak mau meeting dimana?" tanya Tiya. Pertanyaan yang seharusnya bisa dilontarkan sejak tadi, tapi tertunda karena terlalu banyak drama.
"Di rumahmu," jawab Erlando singkat.
"Apa?" Mata Tiya terbelalak.
"Sudah gila. Ups ... " Tiya keceplosan. Dengan cepat ia membungkam mulutnya.
"Anda bilang saya gila?" tanya Erlando.
"Ti-tidak ... Maksud saya, saya yang gila, Pak," jawab Tiya. Lagi-lagi ia harus mendapatkan masalah karena mulutnya yang tidak ada remnya.
"Kalau itu saya sudah tahu," sahut Erlando santai.
Tiya memutar bola matanya, lalu menghela napas kasar. "Jadi dimana tempat yang anda inginkan, Pak Erlando Yang Terhormat?" Bertanya dengan nada kesal.
"Di rumahmu." Menjawb dengan jawaban yang sama.
"Ya Tuhan, Astaga, berilah aku kesabaran!" gerutu Tiya yang semakin membuat Erlando menjadi lebih bersemangat untuk mengerjai wanita itu. Semakin Tiya kesal semakin lelaki itu senang.
"Jangan mengeluh! Waktu meeting kita tinggal beberapa menit lagi. Jangan buang waktu saya!"
"Bapak yang membuang waktu saya. Astaga! Tuhan, tolonglah hambaMu ini!"
"Saya yang membuang waktu anda? Lalu tadi siapa yang sibuk bergosip saat saya memanggil-manggil anda dan bertanya apa yang bisa saya bantu?" Erlando mengingatkan kembali pada kesalahan awal Tiya.
Ya Tuhan, dia membahasnya lagi. Desah Tiya.
"Iya baiklah, Pak. Semua ini saya yang bermasalah tolong maafkan saya!" Lagi-lagi karena malas berdebat Tiya pun meminta maaf.
"Enak saja minta maaf. Saya akan laporkan kau pada Pak Alex!" Ancaman mulai Erlando layangkan.
"Jangan, Pak!" teriak Tiya histeris.
"Enak saja jangan! Kau sudah membuatku marah pagi ini! Sekretaris yang tidak professional!" umpat Erlando.
"Anda boleh memarahi saya dan membentak saya, Pak. Tapi tolong jangan laporkan saya pada Pak Alex! Beliau bisa memecat saya, kalau saya dipecat lalu bagaimana saya bisa membayar pengobatan adik saya dan membiayai hidup ibu saya di kampung?" Tiya memelas. Matanya sudah berkaca-kaca. Tidak bisa dibayangkan jika sampai ia kehilangan pekerjaannya. Jaman saat ini susah sekali mencari lapangan kerja, mendapatkan gaji yang besar dan sesuai dengan keahliannya seperti ini, untuk itulah Tiya sangat bersyukur bisa kerja di sini.
Pintar sekali dia membual dan berusaha mencari simpatiku. Wanita yang cerdik. Pikir Erlando.
"Aku tidak peduli!" sentaknya galak.
"Pak, saya mohon!" Tiya yang ketakutan parah sudah menangis sesenggukkan. Bisa dijamin seratus persen jika Pak Alex yang terkenal galak dan tegas itu pasti tidak akan mengampuninya dan menendangnya dari perusahaan ini.
Ya Tuhan, wanita ini pandai berakting juga. Batin Erland seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan menangis! Semakin kau banyak menangis waktu akan semakin banyak terbuang percuma, time is money, right? (Waktu adalah uang, benar?)" tegur Erland menggunakan bahasa yang lebih santai dengan mengganti sapaan 'Anda dan Saya' menjadi 'Aku dan kau'.
"Tolong jangan laporkan saya pada Pak Alex, Pak! Saya mohon! Kasihanilah saya! Saya mau Bapak hukum apa pun atas kecerobohan saya, tapi jangan beritahu Pak Alex!" Masih semangat untuk mengiba. Harus tetap berusaha keras agar Pak Erlando mengurungkan niatnya.
"Apa pun kau bilang? Kau berani merayuku?"
"Saya tidak merayu anda, Pak."
"Jam meeting sudah mepet. Datang ke kantor saya sekarang juga bersama Pak Alex! Mendadak saya kehilangan selera untuk keluar kantor."
"Jadi kita meeting di kantor Bapak? Baiklah kalau begitu, Pak. Saya akan segera beritahu Pak Alex sekarang juga."
Ya Tuhan, benar-benar perdebatan yang unfaedaf.
"Tapi urusan kita belum selesai ya!" ancaman kembali Erland layangkan, membuat sekujur tubuh Tiya merinding dibuatnya. Dia dalam masalah besar sekarang dan pasti susah untuk dia melarikan diri.
"Tut ... tut ... tut .... " Erlando mematikan sambungan suara.
"s**t! Kenapa aku bisa seceroboh ini sie? Awas kau Joana! Ini semua karena dirimu!"
*
Di jam dan tempat yang sudah mereka sepakati. Erlando yang duduk di samping Alda, Sekretaris pribadinya kini dalam posisi diam memperhatikan Tiya yang tengah memberikan presentasi di ruang kerjanya. Dalam diam itu, Erlando terkesima dengan kepintaran wanita yang sempat diajaknya berdebat beberapa waktu yang lalu.
Dia smart, hanya sedikit ceroboh saja. Pikir Erland.
Setiap pergerakan bibir merah wanita itu berhasil menghipnotis Erland hingga kelopak matanya pun seolah tidak ikhlas untuk berkedip barang sepersekian detik saja. Pesona Tiya terlalu sayang untuk dilewatkan.
"Sudah selesai, Pak," kata Tiya mengakhiri presentasinya. Tiya memang cerdas dan pembicara yang baik, untuk itulah terkadang dia mendapatkan tugas yang berada di luar dari tanggung jawabnya. Semua Tiya lakukan demi iming-iming bonus besar dari perusahaan. Asal halal semua akan Tiya lakukan.
"Pak, Nona Tiya sudah selesai," tegur Alda saat Erlando tak menjawab, tapi masih fokus memperhatikan wajah ayu Tiya hingga wanita itu dibuat salah tingkah.
Ya Tuhan, Pak Erland sepertinya masih dendam denganku. Pikir Tiya seraya menundukkan kepalanya menghalau tatapan tajam Erlando yang menghunus hingga ke jantungnya.
"Hmm ... baiklah. Mana kontrak kerjasama yang harus saya tanda tangani?" tanya Erlando seraya mengalihkan tatapannya ke sembarang arah.
"Bapak tidak mau bertanya apapun atau bernegosiasi tentang produk yang kami tawarkan?" tanya Pak Alex. Semudah itukah Erlando Rajeshwari menerima kontrak kerja sama dengan perusahaannya tanpa banyak bertanya? Sungguh heran Pak Alex dibuatnya
"Tidak perlu, Pak. Penjelasan sekretaris anda yang nakal ini sudah cukup memuaskan saya," jawab Erlando yang kemudian kembali mengarahkan netranya pada Tiya.
Segera menunduk, Tiya yang tadi sudah berhasil bernapas lega dan mengangkat kepalanya kembali harus menyembunyikan wajah karena Erland kembali mengawasinya.
Mati aku! Apakah setelah ini Pak Erland akan melaporkanku pada Pak Alex? Tamat riwayatmu Tiya! Bisa dipastikan ini adalah hari terakhirmu bekerja. Kau akan jadi pengangguran dan sampah masyarakat! Oceh Tiya dalam hati.
Wanita itu panik. Terlihat ia beberapa kali meremas jemari tangannya untuk melampiaskan pergolakan hatinya. Rasanya ingin melarikan diri sejauh mungkin. Bersembunyi di antah berantah tanpa ada satu pun orang yang akan menemukannya. Benar-benar memalukan saat satu kantor harus mengetahui jika dirinya dipecat karena sibuk bergosip dengan Joanna saat jam kerja.
Joanna! Iya ... jika aku ditendang dari perusahaan ini, maka kau pun juga harus aku sepak. Lihat saja kau Jojo! Gerutu Tiya yang tanpa sadar telah mengepalkan tangannya dan memasang ekspresi garang dengan bibir yang mengerucut ke depan dan matanya mengarah ke depan dengan tatapan kosong tanpa memperhatikan sekitarnya. Saat ini dia sedang membayangkan wajah Joanna yang mengesalkan.
"Lihat, Pak! Sekretaris anda sudah seperti preman saja," kata Erlando mengadukan Tiya pada atasannya.
Pak Alex yang sejak tadi tidak memperhatikan Tiya seketika menoleh ke arah sekretarisnya itu.
"Tiya!" panggil Pak Alex dengan suara khasnya yang lantang dan ngebass.
"Eh, Iya Pak!" Menyahut dengan gelagapan sambil mengalihkan pandangan matanya ke arah Pak Alex.