**
"Kenapa tanganmu mengepal seperti itu? Siapa yang akan kau hajar?" tanya Pak Alex ingin tahu. Ekspresi Tiya memang sangat menunjukkan kalau dia sedang dalam keadaan marah saat ini.
Tiya melihat ke arah jemari tangannya yang masih pada posisi siap untuk beradu jotos. Merasa diamati oleh orang-orang di sekelilingnya dengan tatapan penuh selidik, wanita itu pun segera membuka jemari tangannya dan menyunggingkan senyum ke arah semua orang.
"Ah, tidak. Ini karena saya kedinginan, Pak. Ac di ruangan Pak Erland ini dingin sekali, jadi tangan saya, saya beginikan. Hehehe." Alasan yang cukup bagus dan masuk akal.
Sekali lagi, Joanna sudah membuat hidupnya berada dalam masalah. Huft ... Tiya menghela napas kasar.
Erlando tersenyum sinis mendengar Tiya yang pintar sekali membuat alibi. Padahal lelaki itu tahu jika sekretasis cantik dan ceroboh itu pasti sedang memikirkan seseorang yang membuatnya kesal.
"Ya sudah! Sekarang siapkan semua berkas yang harus Pak Erland tanda tangani!" perintah Pak Alex.
"I ... iya, Pak." Dengan tangan gemetaran Tiya membuka satu per satu stopmap yang dia letakkan di atas meja. Semua isinya adalah perjanjian penting dan beberapa berkas lainnya sebagai bahan penunjang kesepakatan.
"Maafkan apabila sekretaris saya melakukan kesalahan ya, Pak. Tiya ini memang kadang suka ceroboh, tapi dia sangat pintar dan cekatan," ujar Pak Alex memuji sekaligus mencela Tiya bersamaan.
Apa-apaan kau, Pak Alex? Untuk apa anda membicarkan kejelakan saya? Huft ... Ini semua karena Joanna. Bantah Tiya dalam hati. Yes, Joanna tetap menjadi biang kerok dalam masalah ini.
"Sudah saya maafkan sejak tadi meski dia sudah berani mengatakan saya cerewet, tapi its oke, itu tidak masalah," sahut Erlando yang seketika membuat Tiya menelan ludah. Ketakutan yang tadi sudah lenyap kini muncul kembali. Ruangan yang tadinya dingin berubah menjadi panas hingga kening Tiya mengeluarkan keringat dari pori-porinya. Untung bedak yang ia pakai anti air sehingga tidak memudarkan riasannya.
"Kapan Tiya mengatakan anda cerewet, Pak?" tanya Pak Alex sambil melirik ke arah Tiya yang masih sok sibuk dengan kertas-kertas di hadapannya.
Mati aku! Mati! Siap-siap menjadi sampah masyarakat kau, Tiya Areyla! Tiya mengumpati dirinya sendiri.
"Tidak, Pak! Saya hanya bercanda. Sekretaris anda cukup sopan dengan saya. Tidak ada yang saya ... keluhkan darinya," jelas Erlando mengoreksi perkataannya. Lelaki itu tidak tega jika Tiya benar-benar terkena masalah karena dirinya. Melihat wajah wanita itu memucat dan ketakutan membuat hati Erlando iba.
"Ough, saya pikir Tiya benar-benar kurang ajar dengan anda, Pak," kata Pak Alex. Dia pun turut lega, karena jika sampai Tiya terbukti bertindak kurang ajar seperti itu maka credibilitas perusahaan pasti akan juga mendapatkan imbasnya.
Syukurlah. Pak Erland masih berbaik hati padaku. Pikir Tiya.
Telepon Pak Alex berdering, seorang rekan kerja mengabarkan jika beliau harus kembali ke kantor sekarang juga karena ada masalah urgent yang harus beliau tangani.
"Tapi, Pak. Meeting-nya belum selesai," kata Tiya saat Pak Alex sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Tolong kau yang urus sisanya, Tiy! Saya percaya kau bisa saya andalkan," sahut Pak Alex.
"Pak Erland, saya mohon undur diri dulu. Terima kasih atas waktunya dan kepercayaan anda pada perusahaan kami. Setelahnya Tiya yang akan mengurus surat perjanjian dan sebagainya," lanjut Pak Alex berpamitan pada Erlando.
"Ah iya, Pak. Saya turut senang bisa berkerjasama dengan perusahaan anda. Selamat pagi. Hati-hati di jalan!" balas Erlando dengan ramah mempersilahkan coleganya itu untuk meninggalkan ruangannya.
"Alda, kau boleh kembali ke tempatmu!" Erlando meminta sekretaris pribadinya untuk pergi. Alda hanya mengangguk seraya melirik Tiya yang masih menyibukkan dirinya dengan setumpuk berkas, kemudian wanita yang satu profesi dengan Tiya itu menyeret langkahnya keluar dari ruangan Erland.
"Yoga, tolong periksa apa proyek yang ada di kota Xyz berjalan lancar atau tidak!" Erland gantian memerintah asissten pribadinya.
"Siap, Pak!" Yoga melakukan hal yang sama dengan Alda yaitu meninggalkan ruangan Erland.
Kini hanya tinggal Erland dan Tiya berdua di ruangan sebesar itu. Canggung. Takut. Panik. Gugup. Semua perasaan negatif membaur menjadi satu di diri Tiya saat ini. Jika tidak ada accident memalukan sebelum ini, mungkin Tiya tidak akan menjadi gelisah seperti sekarang, karena untuk wanita yang terlahir dua puluh lima tahun yang silam itu, berkomunikasi dan berhubungan dengan orang-orang penting seperti Erlando sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya.
"P~Pak, silahkan ditanda tangani!" pinta Tiya seraya menyodorkan berkas yang tercover dengan stopmap biru itu pada Erlando.
"Tanganku tidak sampai," kata Erlando. Lelaki yang duduk berseberangan dengan Tiya itu memang sengaja ingin menyusahkan pekerjaan Tiya.
Tiya berdiri dari tempat duduknya dan berusaha mendekatkan berkas itu pada Erland dengan cara mencondongkan badannya ke depan melewati meja kaca yang ada di bawahnya.
"Masih belum sampai," kata Erlando dengan santainya seraya membuka dua kancing jas formalnya.Ya Tuhan ...
"Kemari! Dan duduk di sampingku!" perintah Erlando seraya menggerakkan ujung jari telunjuknya, memberi kode agar Tiya mendekat padanya.
"Ta~tapi .... "
"Ayo! Mau aku batalkan perjanjian kontraknya?" potong Erland mulai mengancam dengan kekuasaannya.
"I~iya ... Saya akan segera mendekat, Pak." Tidak ada yang bisa Tiya lakukan selain menurut. Semakin dia banyak berdebat dengan Erland maka hidup dan karirnya akan segera terancam punah.
Tiya mengintruksikan pada ke dua kakinya untuk berjalan mendekat pada Erland. Senyum manis Erland sedari tadi belum surut dan membuat wajah lelaki itu terlihat semakin tampan, ditambah Sorot tajam manik Erland, membuat wajah putih Tiya memerah karena malu.
Dag, dig, dug, detak jantung Tiya bertabuh dengan begitu kencang. Derup napasnya menjadi tidak beraturan. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Oh bukan! Ini bukan jatuh cinta, tapi ketakutan yang parah. Hanya berdua di ruangan sebesar ini dengan lelaki tampan dan kaya raya bernama Erlando Rajeshwari adalah pengalaman pertama untuk Tiya.
Sofa empuk berwarna biru laut membuat tubuh Tiya nyaman berada di atasnya. Dengan jarak hanya dua jengkal tangan orang dewasa, Tiya dan Erland duduk bersisian.
Profesional! Dengan mengesampingkan debaran jantungnya yang tidak bisa diajak kompromi, sekretaris cantik itu kembali berusaha fokus pada pekerjaannya.
Diraihnya kembali stopmap biru yang tadi ia letakkan kembali di atas meja. Dengan sopan dan ramah Tiya menunjukkan di bagian mana Erlando harus membubuhkan tanda tangannya.
"Di sini, Pak!" kata Tiya.
"Hm ... iya, Baiklah. Mana pulpennya?" tanya Erlando seraya menyodorkan telapak tangannya pada Tiya.
"Ini, Pak." Tiya menyerahkan pulpennya yang berwarna gold pada Erland.
Erland terus menatap Tiya, hingga wanita itu dibuat salah tingkah. Erland menggerakkan tangannya mendekati pulpen yang masih berada di genggaman tangan Tiya. Namun, bukan hanya tangannya yang bergerak maju, tapi wajah lelaki itu pun ikut mendekat ke arah Tiya.
Tiya malu luar biasa. Tidak mengerti sudah apa yang lelaki ini akan lakukan padanya. Hanya bisa pasrah sembari menundukkan kepalanya.
"Urusan kita belum selesai!" bisik Erlando di telinga Tiya membuat sekujur tubuh Tiya merinding tidak karuan.