6. Ajakan Dinner Jecki

1024 Words
** Erland dan Tiya bertatapan dengan jarak wajah yang cukup dekat. hembusan napas keduanya saling bersambut dan bertukar dengan sendirinya. Keringat dingin mengucur di kening tiya. Hawa dingin ac pun berganti dengan udara panas yang membuatnya kegerahan. "Kau sekretaris yang nakal," lirih erland. "Ma~maafkan saya, pak! sungguh maafkan saya!" balas tiya seraya menundukkan kepalanya. "Kau kepanasan?" tanya Erland sembari mengusap keringat yang mengucur di dahi Tiya di dengan tangannya. Tiya hanya mengangguk. "Bukannya tadi kau bilang kalau udaranya sangat dingin?" Erland tak henti bertanya, membuat Tiya semakin salah tingkah. "I~itu ... itu tadi, Pak. tapi sekarang tidak," jawab tiya. "Ma~maaf! bisakah bapak menjauh sedikit saja? sa~saya ... saya tidak bisa bergerak," kata Tiya. Dia memberanikan diri untuk meletakkan kedua telapak tangannya di d**a Erland dan mendorong tubuh lelaki itu agar menjauh darinya. "Kau sudah berani menyentuhku?" Erland semakin intens melakukan pendekatan. Ia menarik tangan tiya yang sudah akan Tiya singkirkan dari dadanya. Tubuh Tiya semakin merapat pada tubuh erland. Kedua matanya membelalak. Kaget bukan kepalang. debaran jantungnya semakin tidak beraturan. Napasnya tersengal naik turun seiring dengan setiap sorot mata elang Erland yang begitu tajam menelisik setiap detail wajah ayunya. "Pak, to~tolong jangan kurang ajar! saya ... saya bisa melaporkan Bapak ke pihak yang berwajib!" Tiya memberanikan diri untuk mengancam meski lidahnya serasa kelu untuk berucap. "Kau memang nakal!" ucap Erland. lelaki itu menyentil hidung mancung Tiya dengan ujung jari telunjuknya. Tiya sudah bisa bernapas lega karena sekarang Erland telah menjauh darinya. Duduk dengan jarak dua jengkal tangan seperti semula. Syukurlah! aku bisa kena serangan jantung jika dia terus mendesakku seperti itu. Pikir tiya. Kini wanita itu tengah berusaha untuk membuat jantungnya kembali berdetak normal. "Dimana tadi aku harus tanda tangan?" tanya Erland yang kini sudah kembali fokus pada pekerjaannya. "Di sini, Pak," jawab Tiya sambil menunjuk bagian yang harus Erland bubuhi tanda tangan. Erland menggoreskan tinta hitam di atas kertas putih yang telah tertempel sebuah materai. Mengukir sebuah coretan yang diartikan sebagai tanda bahwa ia menyetujui perjanjian yang telah mereka sepakati. "Yang mana lagi?" tanya Erland. "ini, Pak." Tiya kembali menyodorkan sebuah berkas yang harus erland tanda tangani pula. Total ada sepuluh halaman yang harus lelaki itu tanda tangani. "Sudah semuanya, Pak. Dan itu artinya kesepakatan sudah deal. Saya mewakili perusahaan mengucapkan banyak terima kasih atas kepercayaan bapak kepada kami," ujar Tiya setelah ia selesai mengemasi semua berkas yang ia bawa dan memasukkannya ke dalam sebuah tas besar berwarna hitam khusus untuk menyimpan barang-barang penting. Tiya mengulurkan tangannya pada Erland dan Erland segera menyambutnya tanpa menunggu lama. Senyum itu terkembang di kedua sudut bibir Tiya membuat hati lelaki yang kini tengah bersentuhan dengannya menjadi semakin terkesima. "Kalau begitu saya permisi undur diri ya, Pak. Masih banyak yang harus saya kerjakan," pamit Tiya. Namun, Erland tak juga melepaskan tangannya. "Apa kau lupa janjimu?" tanya Erland. Lagi-lagi sorot tajam netra lelaki itu menghujam tepat ke jantung Tiya. "Janji yang mana, Pak?" tanya balik Tiya. wanita cantik itu tersenyum simpul. "Kau bilang padaku kalau kau akan melakukan apapun yang aku mau asal aku tidak memberi tahu Pak Alex tentang kekurangajaranmu. Apa kau lupa itu?" Tiya bertanya bukannya lupa, tapi memang sengaja pura-pura lupa dan memasang wajah innocent agar Erland menjadi iba seperti yang sudah-sudah. "Ah iya, saya ingat, Pak. Tapi ... tapi saya tidak punya apapun untuk saya berikan pada Bapak dan saya juga tidak bisa melakukan apapun selain mencatat agenda bisnis Pak Alex. hehe." Tiya mencari banyak alasan agar terlepas dari janjinya sendiri. "Benarkah? Jadi kau lebih memilih aku memberitahu Pak Alex tentang kelakuanmu padaku?" Pertanyaan yang mengandung ancaman kembali Erland gunakan untuk mengintimidasi Tiya. "Aduh ... jangan dong, Pak! Saya bisa kehilangan pekerjaan saya nanti," larang Tiya dengan cepat. "Aku mau kau menemaniku dinner nanti malam," pinta Erland. "Dinner? Nanti malam?" Tiya mengulang perkataan Erland dengan bentuk pertanyaan. "Iya, kenapa? Kau menolakku?" "Bukan begitu, Pak. Tapi ... " Flashback beberapa jam sebelum ini. Tiya terlihat buru-buru mempersiapkan semua hal yang akan ia bawa untuk meeting di kantor Erlando. Mulutnya komat-kamit dan pergerakan tangannya begitu cepat memasukkan beberapa dokumen ke dalam tas hitam miliknya. Di saat yang sama telepon selulernya berdering, Tiya menerima panggilan itu tanpa melihat siapa yang meneleponnya karena mata Tiya tengah fokus pada pekerjaannya. "Hallo, dengan Tiya Areyla di sini ada yang bisa saya bantu?" sapanya dengan bahasa yang formal. Wanita itu menjepit handphone-nya di antara telinga dan bahunya, karena ke dua tangan Tiya kini telah penuh dengan barang bawaan. Selama lelaki itu menjawab sapaan Tiya, Pak Alex keluar dari ruangannya dan mengajak Tiya bicara. Kontan fokus Tiya pun terbagi kepada dua orang, kepada Pak Alex dan pada orang yang menelponnya. "Tiya, sudah kau siapkan semuanya dengan baik kan?" tanya Pak Alex seraya memilin ujung kumisnya. "Ah iya, Pak," sahut Tiya. "Saya tunggu di mobil ya," kata Pak Alex kemudian melenggang pergi meninggalkan Tiya. "Siap, laksanakan!" ucap Tiya dengan sedikit berteriak karena Pak Alex sudah berjalan jauh darinya. "Jadi kau mau makan malam denganku malam ini, Tiy?" tanya seseorang yang menghubungi tiya by phone. "A ... apa?" tanya balik Tiya. "Eh, kau siapa?" lanjutnya. "Siapa yang aku ajak bicara? Ya Tuhan! payah sekali aku hari ini," gerutu Tiya sambil berjalan cepat menuju ke parkiran dimana Pak Alex sudah menunggunya. "Aku Jecki, Tiy. Masa kau tidak hapal dengan suaraku?" Ough yes, Si Jecki, lelaki yang tergila-gila dengan pesona Tiya. Yang sudah menjadi penyelamat Tiya dan mengantarnya ke kantor pagi ini dengan on time. Jika tidak ada Jecki maka bisa dipastikan hidupnya hari ini akan semakin bertambah menyedihkan, karena Pak Alex yang garang pasti sudah memaki-makinya tiada henti. "Maaf, Jack. Aku menerima banyak telpon setiap harinya jadi aku tidak mengingat satu per satu suara orang, maafkan aku." "Oke, tidak masalah. Jadi kau mau menemaniku makan malam hari ini?" Jeck mengulang pertanyaannya. Ya tuhan, jika bukan karena dia sudah mengantarkan aku ke kantor, aku tidak akan mau pergi dengannya. "Iya ... aku mau ... nanti kita bicarakan lagi ya, Jeck. Aku sedang sibuk sekali pagi ini, oke. Dah ... " Tiya meletakkan barang bawaannya sekejap di atas meja receptionist agar ia bisa mematikan panggilannya dan memasukkan ponselnya itu ke dalam tas. "Huft ... sial sekali aku hari ini!" guman Tiya seraya menghela napas panjang. Flashback off.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD