Alendra memilih meja yang tidak terlihat dari panggung. Ia tahu, malam ini band Axello akan mengisi pertunjukan di Cloud Nine. Om Johan memang selalu dapat diandalkan. Tidak sia-sia ia memberikan nomor telepon Sheila kepada laki-laki penyuka daun muda—adik ayahnya sendiri.
Ingatan Alendra melayang ke masa lalu.
“Tidak, Al. Tidak ada lagi yang harus dipertahankan,” sergah Axello. ia melemparkan beberapa lembar foto ke atas sofa., dekat tempat Alendra duduk. “Kau boleh melakukan apa pun sesukamu. Aku tidak akan menghalangimu. Anggap saja tidak pernah ada apa-apa di antara kita mulai sekarang.”
“Axel, Sayang, please dengarkan aku dulu,” rintih Alendra berurai air mata. “Aku tidak tahu siapa orang yang telah merekayasa foto-foto ini, tapi kenyataannya tidak seperti yang kamu lihat. Ini hanya main-main.”
“Begini saja, Alendra. Mari kita balik keadaannya,” Axello duduk di depan Alendra, dengan tenang menyandarkan diri pada sofa. “Bagaimana kalau aku yang berada di foto itu, sedang menyentuh payudara gadis yang menjadi rekan duetku, atau menjulurkan lidah menjilat telinganya—seperti yang dilakukan laki-laki yang berada dalam foto itu denganmu? Kau tertawa dan memeluk lehernya dengan mesra. Entah apa saja yang sudah kalian lakukan selama ini, tapi bagiku foto-foto ini saja sudah tidak pantas.”
“Ayolah, Axel. Aku hanya mencintaimu dan ini semua hanya lelucon.Aku tidak berharap kamu akan marah hanya karena foto-foto murahan seperti ini,” Alendra nyaris berteriak karena putus asa. Ia tahu bahwa apa yang dikatakannya terdengar konyol dan tidak masuk akal.
Axello tertawa sinis dan beranjak dari sofa. “Kamu sendiri yang mengatakan bahwa itu murahan. Kamu sendiri yang melabeli dirimu. Orangtua kita tampaknya sudah mulai merencanakan masa depan kita. Aku tidak ingin membuat mereka menghabiskan energi dan uang hanya untuk sesuatu yang sia-sia. Mari kita hentikan saja, ya? Aku akan bicara dengan ayahku dan kuharap kamu juga bisa menjelaskan kepada orangtuamu. Katakan saja bahwa kita tidak cocok.”
“Alendra?”
Lamunan Alendra menguap, ketika seorang laki-laki menyentuh bahu dan menegurnya. Jasid berdiri di depannya, menatap Alendra dengan sorot mata penuh pertanyaan. Alendra tersenyum dan menarik tangan Jasid, agar duduk di sebelahnya. Jasid melihat sekeliling seakan sedang mencari sesuatu.
“Jangan panggil dia,” ujar Alendra separuh berbisik. “Dia tidak akan senang melihatku di sini.”
“Apa yang kamu lakukan di sini? Apa Axel tahu kamu ke sini?”
“Tentu saja tidak. Aku hampir mati karena merindukannya, Jas. Aku tidak tahan lagi dan harus melihatnya. Om Johan yang memberiku jadwal kapan Axel mengisi acara. Please, jangan katakan apa-apa kepadanya. Aku hanya ingin melihatnya menyanyi.”
“Kamu mempersulit dirimu sendiri, Len,” keluh Jasid sambil melonggarkan dasinya. “Kamu tahu bagaimana sifat Axel, kan? Pulanglah. Aku khawatir dia akan melihatmu dan sikapnya akan membuatmu semakin sakit hati.”
“Tidak! Aku akan tetap di sini dan melihatnya. Kamu atau dia tidak berhak menyuruh aku pergi dari sini. Aku pelanggan dan sudah memesan tempat sesuai aturan, jadi layani saja aku dengan baik.”
Jasid menatap Alendra beberapa saat dan akhirnya beranjak dari tempat duduk. “Duduklah di tempat yang tidak akan terlihat olehnya. Aku mengatakan ini hanya untuk membuatmu terhindar dari kesulitan.”
Alendra tidak bergeming. Ia sudah bertekad, tidak akan kehilangan kesempatan untuk memulai misi mendekati Axello lagi. Kesalahannya dua tahun lalu memang suatu kebodohan, tetapi ia akan membuat Axello percaya bahwa ia sudah berubah. Alendra akan membuat Axello kembali ke dalam pelukannya.
Alendra jatuh cinta pada Axello, sejak pertama kali mereka bertemu di acara pesta pernikahan sepupu Alendra. Axello adalah penyanyi yang mengisi acara dalam acara itu dan suaranya begitu memukau. Satu jam sebelum acara berakhir dan para tamu berpamitan satu-persatu, Alendra sudah berhasil berkenalan dengan Axello.
Tidak mudah membuat Axello membalas perhatiannya. Alendra mengorbankan waktu kuliahnya hanya untuk membuntuti dan menonton di mana pun Axello mengisi acara. Ia adalah orang yang bertepuk tangan paling keras saat Axello selesai menyanyi dan selalu siap sedia menyodorkan sebotol air mineral setelah Axello turun dari panggung.
Semua terasa menjadi semakin mudah untuk Alendra ketika tanpa disangka-sangka, ternyata ayahnya mengenal keluarga Axello. Ayahnya sudah bersahabat dengan ayah Axello sejak kecil, hanya saja kemudian mereka berpisah di bangku SMA. Ini seperti pucuk dicinta ulam pun tiba.
Alendra menyatakan perasaannya di belakang panggung setelah Axello mengisi acara sebagai penyanyi tamu di sebuah acara kampus dan kegigihannya selama hampir satu tahun membuahkan hasil yang manis. Axello menerima cintanya dan mereka menyatakan diri sebagai sepasang kekasih sejak saat itu.
Axello adalah kekasih yang luar biasa. Dia memperlihatkan kasih sayangnya melalui perhatian-perhatian kecil yang manis, penyabar dan pengalah. Sifat Alendra yang impulsif diimbanginya dengan baik. Kekurangan Axello hanya satu untuk Alendra. Dia tidak pernah menyatakan cinta dengan kata-kata. Alendara butuh pernyataan.
Ada kalanya Alendra merasakan adanya ruang kosong di dalam hatinya. Alendra membutuhkan sesuatu yang dapat membuatnya yakin bahwa ia bukan hanya sedang menjalani cinta sepihak. Axello selalu dekat dengannya, tetapi tidak pernah bisa sepenuhnya dijangkau. Ada celah kosong di antara mereka.
Kisah kasih mereka sudah berjalan hampir empat tahun ketika Alendra mulai menekuni dunia modeling dan Axello merintis menjadi musisi profesional. Hubungan mereka menjadi agak renggang karena kesibukan masing-masing, meski pun mereka selalu berusaha menyempatkan waktu untuk bertemu dan melakukan kegiatan bersama setiap akhir pekan. Terlebih lagi, keluarga mereka sudah merestui hubungan mereka. Semua orang berharap mereka akan segera menuju pelaminan.
Tawaran iklan mulai berdatangan untuk Alendra dan dalam dua iklan terakhirnya sebelum putus dengan Axello, ia dipasangkan dengan Reivan. Lelucon-lelucon konyol yang dikatakan Reivan membuat Alendra tertawa. Pujian dan sanjungan yang dilontarkan Reivan membuat Alendra tersipu. Cara Reivan menatapnya membuat Alendra merona merah jambu. Alendra melupakan empat tahunnya bersama Axello dan tenggelam dalam pesona Reivan.
Alendra baru tersadar ketika Reivan mendapatkan pasangan seorang model iklan yang baru. Laki-laki itu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya kepada Alendra—kepada model belia yang dipasangkan dengannya dalam iklan sebuah makanan ringan. Semua sudah terlambat. Axello yang memang sudah lama mencurigai hubungan di antara Alendra dengan lawan aktingnya, mendapatkan foto-foto seronok dirinya dengan Reivan. Foto-foto yang semula hanya dimaksudkan untuk main-main itu memang ternyata sevulgar itu.
Beberapa orang di sekitarnya mulai bertepuk tangan. Alendra menyeka sudut matanya yang basah dan melihat ke arah panggung. Axello dan anggota band baru saja naik ke atas dan bersiap untuk mulai bernyanyi. Alendra membetulkan letak kacamatanya dan berharap Axello tidak menyadari kehadirannya.
%%%%%
Axello mengulurkan kantong kertas di tangannya. Chelsa menatap benda itu. “Apa ini?”
“Lihat saja.”
Chelsa mengambil kantong kertas dari tangan Axello dan melihat ke dalamnya. Sebuah kotak berwarna biru muda. Ia mengambil benda itu dan membukanya. Sebuah tas wanita yang cantik di atas kertas putih membuat alis kanannya terangkat. “Tas?”
“Kudengar kamu sudah mulai kuliah hari Senin. Aku hanya ingin menyemangatimu.”
Chelsa menutup kotak itu dan memasukkan kembali ke dalam kantong kertas. “Aku tidak memerlukan tas baru. Tasku ini—,” Chelsa mengangkat tas kain berwarna hitam yang disandang, “—masih bagus dan bisa digunakan.”
Axello menatap gadis di depannya dengan perasaan campur aduk. Gemas, kesal, bingung, dan juga ingin tertawa. Mengapa sulit sekali mengambil hati gadis bermata almond ini. Dia bahkan tidak menunjukkan ekspresi lebih dari heran melihat isi di dalam kotak itu.
“Buang saja kalau begitu, berikan pada Mira atau Anggi, atau sumbangkan saja ke panti asuhan,” ujar Axello datar.
Raut wajah Chelsa berubah. Ia menyambar tangan Axello dan menjejalkan kantung kertas ke dalam tangannya. Suaranya sedingin es ketika ia berkata, “Anak-anak di panti asuhan tidak memerlukan tas seperti ini, semahal apa pun harganya. Mereka lebih membutuhkan alat-alat sekolah berharga murah atau makanan yang dapat dimakan sepuasnya tanpa khawatir teman atau saudaranya tidak kebagian.”
Axello terperangah. Ia sama sekali tidak mengira, tangan kecil dan ramping Chelsa bisa begitu keras mencengkeram tangannya. Mata mereka bertemu. Chelsa terkesiap dan langsung melepaskan cengkeramannya. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya bergetar ketika matanya yang berisi kepanikan menatap Axello. Ia berbalik dan berjalan dengan cepat, menjauh dari tempat parkir. Axello membanting pintu bagasi mobilnya dan berlari mengejar gadis itu.
“Chelsa, Chelsa, maafkan aku,” Axello menjajari langkah Chelsa. Ia meraih tangan Chelsa lembut untuk membuatnya berhenti. Namun, Chelsa merenggut tangannya dengan keras dan terhuyung mundur. “Chelsa, aku tidak akan memaksamu menerima pemberianku. Maafkan kelancanganku. Namun, aku harus jujur pada diri sendiri. Aku sudah kehabisan cara untuk membuatmu mau berlama-lama bicara denganku.”
Airmata Chelsa mengalir pelan-pelan menyusuri pipinya yang merona. Ia menutup wajah dengan kedua tangan dan berjongkok. Axello melihat sekitarnya, khawatir ada orang yang melihat akan berpikir buruk melihat adegan itu. Ia ikut berjongkok di sebelah Chelsa, bingung harus melakukan apa.
“Ma-maafkan aku,” Chelsa mengusap mata dan pipinya setelah beberapa menit. Tangisnya mereda dan ia berdiri dengan canggung. “Aku bukannya tidak tahu berterima kasih. Kamu telah banyak menolongku selama ini dan aku tidak cukup berterima kasih. Namun, aku tidak bisa menerima apa-apa lagi darimu. Itu akan membuatku semakin sulit menjauh darimu.”
“Kalau begitu, jangan!”
Mata Chelsa berkilau oleh sisa airmata. Axello mendekat. Ia ingin memeluk gadis itu ke dadanya, menyesap aroma apel dari rambut Chelsa dan meletakkan ujung dagunya di puncak kepala Chelsa. Ia ingin mengatakan pada Chelsa bahwa jatuh hatinya sudah dimulai ketika melihat guratan sedih di mata Chelsa ketika ia keluar dari kamar mandi wanita dan menjadi semakin sulit dikendalikan setiap kali merasakan Chelsa mencoba menolaknya.
“Aku mungkin terlalu mendesak,” ujar Axello pelan. Ia mengepal kedua tangan di sisi tubuh, untuk menahan jangan sampai bergerak menyentuh Chelsa lagi. Sesaat setelah Chelsa mencengkeram tangannya tadi dan melihat reaksi yang ditunjukkan setelahnya, sesuatu terpikirkan oleh Axello. Chiraptophobia. Mungkin Chelsa mengidap kelainan itu. “Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, ya?”
“Kenapa kamu begitu keras kepala?” keluh Chelsa. Ia mengambil tas yang terjatuh dan menunjuk jalan di depannya. “Aku harus pulang. Sudah terlalu malam.”
“Tunggu di sini. Aku akan mengantarmu. Please, jangan menolak,” Axello mengangkat jari telunjuk ke bibirnya ketika melihat Chelsa sudah siap untuk membantah. “Jangan menolak!”
Melihat gaya Axello seperti seorang guru sedang memarahi siswanya yang nakal, mau tidak mau Chelsa tersenyum. Axello menatapnya tanpa berkedip.
“Matamu berkilau sangat cantik saat kamu tersenyum.”
%%%%%
“Apa hubungan mereka?”
“Tidak ada yang istimewa. Kenapa kamu bertanya?”
“Aku belum pernah melihat mata Axello seperti itu kepadaku selama empat tahun kami bersama. Sorot matanya sangat dalam dan bibirnya tersenyum begitu lebar, ketika dia bersama gadis itu.”
“Alendra, mereka hanya rekan kerja. Sama seperti aku dengan Chelsa. Jangan menilai terlalu berlebihan,” sergah Jasid kesal. Ia sudah mulai merasa terganggu dengan bermacam-macam pertanyaan yang dilontarkan Alendra. “Sudahlah, Len. Sikapmu sama sekali tidak masuk akal. Kamu tidak bisa terus-menerus datang dan bersembunyi, memata-matai Axello seperti ini. Kalian sudah lama berpisah dan kukira Axello juga sudah bisa melupakan kejadian denganmu.”
“Tapi, dia tidak boleh melupakan aku,” desis Alendra tajam. “Aku tidak akan membiarkan dia melupakan aku.”
“Alendra, bukan begini caranya kalau kamu ingin berbaikan dengan Axello. Datang dan temuilah dia baik-baik. Aku yakin dia tidak akan menolak kedatanganmu. Axello bukan tipe laki-laki pendendam. Kalian mungkin tidak akan kembali menjadi sepasang kekasih, tetapi setidaknya masih bisa berteman.”
“Aku tidak pernah mengatakan ingin berteman dengannya. Temanku sudah cukup banyak. Aku ingin Axello kembali menjadi milikku dan gadis bernama Chelsa itu tidak bisa membuatku mundur.”
“Jangan melibatkan Chelsa atau siapa pun yang bekerja denganku di sini,” ujar Jasid tegas. “Mereka tidak memiliki hubungan romantis seperti yang kamu pikirkan dan kamu tidak berhak mengusik mereka.”
“Ucapanmu malah membuatku semakin yakin kalau di antara mereka memang ada hubungan yang istimewa,” Alendra menoleh dan tersenyum sinis. “Jangan khawatir, Sid, aku tidak akan melibatkanmu kali ini.”
Jasid membuka pintu mobil dan keluar dengan cepat. Ia membungkuk di depan kaca jendela. “Pulang dan lupakan Axello untuk selamanya, Len. Kamu bisa mendapatkan laki-laki lain yang lebih baik darinya, dan berikan kesempatan untuk Axello mendapatkan gadis lain yang lebih baik darimu. Jangan menyiksa diri seperti ini terus.”
Alendra memandang punggung Jasid menjauh. Ia memukul kemudi mobil berkali-kali sampai tangannya terasa berdenyut ngilu. Alendra berteriak keras melampiaskan kemarahan. Jadi gadis itu bernama Chelsa. Apa yang dilihat Axello pada gadis pramusaji itu. Dia pendek dan sama sekali tidak memiliki daya tarik. Axello pasti sudah buta. Atau dia terlalu sakit hati sampai menjatuhkan standar, dari Alendra kepada seorang pramusaji biasa seperti Chelsa.
Alendra sudah membulatkan tekad, malam ini akan menemui Axello setelah dia selesai bekerja. Dua tahun memang tidak sebentar, tetapi bukan waktu yang cukup lama untuk membuat Axello melupakannya. Alendra yakin, kisah yang mereka jalani selama empat tahun bukanlah sesuatu yang dapat dilupakan begitu saja. Axello akan terpesona melihat dirinya yang sekarang.
Ia menunggu Axello keluar di tempat parkir, seperti yang biasanya dilakukan selama satu minggu belakangan ini. Semula, Alendra hanya ingin memuaskan diri memandang sosok Axello lebih lama setelah dia turun dari panggung. Melihat penampilan Axello berubah menjadi semakin tampan, dengan rambut sebatas bahu dan bayang kebiruan pada rahang dan dagunya yang kokoh. Kemudian, malam ini Alendra melihat Axello dan gadis pramusaji yang tadi melayani mejanya.
Adegan di depan mata Alendra membuat hatinya bergolak. Apa yang Axello berikan pada gadis itu dan mengapa mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah berdebat? Alendra menelepon Jasid dan hampir berteriak menyuruhnya datang ke mobilnya di area parkir.
Alendra menginjak gas dan selagi mobilnya meluncur membelah malam di jalanan kota, kepalanya berputar menyusun rencana. Chelsa atau siapa pun, tidak akan dibiarkannya mengambil Axello. laki-laki itu miliknya. Selamanya.
%%%%%