Bab 3. Tawaran Pekerjaan

1203 Words
“Kamu yakin, Chel?” Suara Mira penuh kesangsian dan ia mentap Chelsa dengan keraguan yang jelas mewarnai matanya. Ia mondar-mandir di depan Chelsa, dengan tangan bertolak di kedua pinggang dan sesekali menggeleng-gelangkan kepala. Chelsa menarik tangan Mira dan memaksanya duduk di atas tempat tidur. Ia pusing melihat Mira mondar-mandir. Chelsa mengangguk tegas. Benaknya berputar seperti kalkulator. Uang tabungannya tidak banyak dan ia perlu menyisihkan untuk biaya awal kuliah seandainya diterima. Biaya hidup di Jakarta sungguh tidak murah. Chelsa berusaha untuk berhemat, tetapi tetap saja ia harus mencari tambahan. “Tapi, kau bagaimana kalau kamu harus bekerja shif malam? Memangnya kamu bisa? Tidak masalah?” Mira bukannya tidak percaya bahwa Chelsa tidak bisa bekerja. Justru, melihat penampilan Chelsa yang halus dan pendiam, ia merasa sedikit khawatir. Pekerjaan sebagai pramusaji di malam hari memiliki banyak resiko dan Mira tidak ingin terjadi sesuatu pada Chelsa. Selama satu bulan mengenal Chelsa, tidak diragukan lagi bahwa Chelsa adalah seorang pekerja keras dan penuh tanggung jawab. Dia juga rapi dan disiplin. Kamarnya selalu rapi dan bersih. Dia tidak pernah melewatkan jadwal piket membersihkan dapur dan kamar mandi bersama, bahkan kadang-kadang dia membantu Mira ketika giliran piketnya tiba. Namun, tetap saja Mira khawatir. Chelsa sangat cantik dan halus, seperti sebuah boneka porselen yang dipajang di toko-toko barang mahal dan bermerek. Beberapa pelanggan di kafe tidak dapat dipercaya untuk menyimpan tangannya tetap di samping tubuhnya. Mira sudah lama bekerja di sana dan sudah terbiasa menghadapi pelanggan yang nakal. Ia tahu bagaimana menghadapi mereka. Chelsa? “Tidak apa-apa, Mir. Aku tidak betah menganggur lama-lama. Pengumuman penerimaan masih satu bulan lagi. Aku harus segera bekerja. Aku memerlukan uang untuk membayar kos kamar ini dan juga untuk biaya sehari-hari. tabunganku tidak banyak dan akan segera menipis kalau aku tidak segera bekerja.” “Ya kalau kamu yakin, aku akan memberitahukan managerku nanti. Hari ini aku masuk malam menggantikan temanku yang cuti. Aku hanya berpesan padamu, jangan melayani pelanggan yang iseng. Kebanyakan dari mereka suka menguji kita. Kalau mereka melihat kita menanggapi godaan, mereka akan mengira kalau kita bisa dibawa. Kalau kita tegas, mereka akan segan.” Chelsa meringis. Mira bekerja sebagai kasir di sebuah kafe sekaligus kelab malam eksklusif bernama Cloud Nine di pusat kota. Tempat itu sedang membutuhkan tenaga pramusaji dan tidak sengaja Mira mengeluhkan soal itu kepada Chelsa. Manager personalia yang kewalahan mendengar keluhan karyawan yang kelelahan melayani tamu—terutama pada akhir minggu, meminta Mira membantunya mencari karyawan baru untuk tambahan pramusaji, yang dapat diandalkan. “Menurutmu aku memenuhi kriteria? Tempatmu itu, semacam kelab eksklusif, kan?” “Ya,” Mira mengangguk. “Orang yang datang ke sana kebanyakan pekerja kantoran, eksekutif dan pengusaha muda. Mereka mencari hiburan, melepas penat dan menjamu tamu juga di sana. Pada waktu-waktu tertentu, seringkali tamu harus mengisi daftar tunggu untuk masuk, atau melakukan pemesanan paling lambat tiga hari sebelumnya.” “Bagaimana awalnya kamu bekerja di sana, Mir?” “Ada seorang teman SMA yang menawariku. Kakaknya pernah bekerja di sana sebagai tenaga keamanan. Dia tahu aku sedang mencari pekerjaan dan menawariku waktu kelab itu membutuhkan kasir. Aku tidak banyak berpikir lagi, langsung saja kuterima tawarannya. Kesempatan yang bagus dan gaji yang ditawarkan juga lumayan.” “Kamu tidak ingin kuliah?” tanya Chelsa hati-hati. “Usia kita tidak jauh berbeda, masih banyak kesempatan untuk kuliah bersama-sama. Kau bisa mengambil program diploma sepertiku. Waktunya tidak terlalu lama. Biaya awalnya juga bisa diangsur tiga kali. Kau mau?” Mira tertawa ringan. “Aku bukan siswa yang pintar dan nilaiku juga biasa-biasa saja. Bekerja di Cloud Nine membuatku mempunyai penghasilan cukup, untuk diri sendiri dan membantu ibuku menyekolahkan adikku. Mungkin suatu saat aku akan tertarik untuk kuliah, tapi bukan sekarang. Biar saja adikku lulus sekolah dan kuliah dulu. Dia laki-laki, harus lebih sukses dariku.” Chelsa menatap Mira dengan kagum. Gadis itu tidak pernah terlihat bersedih, sejak pertama kali Chelsa berkenalan dengannya—satu bulan yang lalu. Mira suka bicara dan bercanda, tetapi di balik keceriaannya itu, kisah hidup Mira ternyata cukup berat. Ayah Mira—seorang laki-laki yang suka berjudi, tewas setelah menabrakkan diri pada sebuah kereta api yang sedang melintas. Ia putus asa karena dikejar-kejar penagih hutang akibat hutang judinya yang membengkak. Mira yang waktu itu baru kelas dua SMA, Ibu dan adik laki-lakinya diusir dari rumah mereka yang disita sebagai pembayar hutang ayahnya. Untung saja ada sepupu ibunya yang tergerak untuk menolong. Mereka diberi tempat tinggal gratis—sebuah rumah petak satu kamar dan sedikit modal usaha. Ibu Mira membuka usaha membuat kue di rumah, sementara Mira membantu menitipkan kue-kue buatan ibunya ke toko dan warung terdekat, termasuk kantin sekolah. Selepas SMA, Mira memilih untuk mengadu nasib ke Jakarta. Ia sempat bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan pelayan toko, sebelum bertemu dengan teman yang menawarinya bekerja Cloud Nine. Kekaguman Chelsa semakin lama semakin bertambah karena Mira selalu bersikap optimis dan penuh percaya diri. Ia menceritakan keadaan keluarganya tanpa merasa sungkan atau malu. Ia bangga pada ibunya yang pekerja keras dan tangguh, juga pada adik laki-lakinya yang cerdas dan penurut. “Aku ini kepala keluarga, Chel. Aku harus kuat untuk Ibu dan adikku. Kami tidak akan menyerah meskipun keadaan sulit. Menyerah itu hanya untuk orang-orang lemah dan bodoh, begitu kata ibuku,” kata Mira dengan mata berbinar. Chelsa menyetujui ucapan Mira waktu itu dan menerapkan ucapan itu ke dalam hatinya. “Hei, kok malah melamun,” Mira menepuk kaki Chelsa. “Kamu tahu tidak, katanya, kalau orang suka melamun, lebih mudah dimasuki yang halus-halus. Ih!” “Apa itu, yang halus-halus?” “Itu lho, mahluk yang tidak terlihat. Mahluk halus.” Mira bergidik. Ia menarik tangan Chelsa dan membawanya keluar kamar. “Ayo cari makan dulu, ah. Aku tiba-tiba merinding berada lama-lama di kamarmu.” Chelsa tertawa dan menutup pintu kamar. “Tidak apa-apa, Mir. Mahluk halus itu, kan bagian dari dunia kita juga. Mereka ada di sekeliling kita, bahkan bisa jadi di dalam diri kita juga ada. Kenapa harus takut?” “Serius, Chel. Aku pernah mendengar cerita, katanya di tempat kos tepat di belakang tempat kos kita ini, pernah ada yang bunuh diri. Katanya, dia dipecat dari pekerjaannya karena ketahuan oleh istri atasannya, telah menggoda suaminya. Setelah dipecat, dia baru tahu bahwa dirinya hamil, tetapi si laki-laki malah menuduhnya mau memeras.” “Yah, itu kisah yang mungkin terlalu dibesar-besarkan, Mira. Jangan mudah percaya, ah. Setiap tempat kos selalu mempunyai kisah seperti itu. Siapa tahu, di tempat kita ini juga ada sebuah kisah yang kita tidak tahu. Bisa jadi malah lebih seram dari yang tadi kau ceritakan.” “Ih, Chelsa, malah menakuti aku,” sungut Mira. “Serius, nih, Chel. Memangnya kamu pernah bertemu mereka? Mahluk halus? Kau mempunyai kemampuan seperti paranormal? Apa ya istilahnya untuk orang dengan kemampuan seperti itu?” “Indigo.” “Nah, itu dia. Kau seorang indigo?” “Bukan, Mira. Aku tidak bisa melihat mahluk halus dan semoga saja tidak akan pernah bisa,” sahut Chelsa sambil tertawa. “Aku hanya bisa melihat warna pada manusia. Mereka lebih menakutkan daripada mahluk halus,” sambung Chelsa dengan suara lirih. “Apa, Chel? Kau bicara apa? Warna?” tanya Mira bingung. Ia mendengar Chelsa menggumamkan sesuatu yang tidak jelas tertangkap telinganya. Chelsa menggelengkan kepala dan tersenyum. Ia menggandeng tangan Mira. “Yuk, beli makan.” %%%%%
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD