Perempuan dengan baju setelan putih ini mengguncang-guncang pundakku. Aku tidak terlalu ingat dia siapa, maka dari itu reaksiku hanya senyum tipis yang tak ada artinya. Segera aku menepis dengan lembut, tangan yang sedang menahan pundakku. Kutatap kembali ke arah Shanum, tapi ternyata dia telah berbalik dan pura-pura tak melihatku. Ini biasa terjadi, aku akan menghampirinya. “Rasya, ini tante! Kamu lupa?” Perempuan paruh baya ini menahan pergelangan tanganku dan mencegah aku untuk melangkah pergi. Aku mengangguk dan mencoba melepas tangannya. “Aku mamanya Vivin dan Vanya! Aku ke sini karena ingin bertemu denganmu!” ujarnya membuat aku terkejut setengah mati. Aku tidak mau dihubung-hubungkan dengan anak itu lagi! Kenapa harus sekarang? Di saat aku sedang terburu-buru. Mencoba a

