STORY 48 - Kepingan Pertama
[TIME TRAVEL STORY]
.
.
.
.
[ Tahun 2025 – Masa kini ]
[REKOMENDASI LAGU – Let Me Down Slowy – Lagu bisa cek di IGG]
Sejak malam itu, entah kenapa Ratu kembali dihantui mimpi buruk. Tidak bisa tidur dengan tenang, bahkan sering kali terbangun, berteriak dan menangis. Beruntung, selalu ada Arsenio di sampingnya.
Tanpa bertanya lebih lanjut, lelaki itu bersedia menghabiskan malam untuk menjaga Ratu sampai terlelap, tak pernah sedikit pun Arsen meninggalkan wanita itu.
Tapi tetap saja, Hanum selalu muncul bersama dengan dua orang anak kecil di sampingnya. Mengirim mimpi buruk berulang kali, dalam beberapa hari saja. Wajah Ratu sudah pucat pasi, karena tidak bisa tidur dengan tenang,
Pagi itu, tepat seminggu setelah dirinya kembali ke masa lalu. Mencoba memperbaiki semua, tapi entah kenapa Ratu merasa kalau dirinya melewatkan sesuatu yang penting?
.
.
.
“Makan malam bersama?” beo sang Edrea saat mendengar ajakan Arsen pukul delapan pagi, sebelum wanita itu berangkat kerja. Di ruang makan, Ravin dan Asta yang mendengar ucapan sang ayah tiba-tiba menghentikan acara sarapan mereka.
“Makan malam dimana, Ayah?” sahut Ravin dengan manik berbinar, Asta mengangguk setuju namun lebih memilih diam. Sementara manik Ratu memperhatikan gerak-gerik putra sulungnya itu,
Sejak keduanya sakit beberapa hari lalu, entah kenapa Ratu mulai merasa kalau Asta mau membuka diri padanya. Pemuda kecil itu tidak lagi membentak, bahkan saat Ratu berusaha menyapa Asta, dia pasti menjawab walau dengan malu-malu.
Arsen tersenyum tipis, mengacak pelan rambut Ravin, “Restaurant keluarga kesukaan kalian, hari ini biar Ayah yang traktir. Bagaimana? Kalian mau?”
Ravin dan Asta mengangguk lagi, “Mau!” teriak mereka kompak. Namun beberapa saat kemudian, dua orang itu reflek menatap Ratu, dengan pandangan penuh harap. Ravin yang lebih dulu bergerak turun dari kursinya.
Menghampiri sang ibu tanpa malu-malu, dia sendiri sudah terbiasa menghadapi sikap dingin Ratu selama ini. Jadi saat ibunya mulai terbuka, Ravin lebih mudah berinteraksi dengan wanita itu.
Berdiri di samping sang ibu, “Ibu, ikut ‘kan dengan kita?” Manik polos itu membulat, bibir mengerucut sekilas, wajah Ravin membuat Ratu kembali teringat akan mimpinya. Rindu yang besar dan rasa sayang wanita itu membuncah.
Menunduk berhadapan dengan Ravin, Ratu bergerak pelan menggendong tubuh mungil itu hingga duduk di pangkuannya. “Tentu saja Ibu mau,” jawab Ratu cepat, tanpa ragu.
Tersenyum lebar, “Yeay!! Benar ya, Bu?! Ayah, ibu, aku dan Asta, kita pergi sama-sama malam ini!” teriak Ravin penuh semangat, kedua tangannya pun tak ayal langsung memeluk leher Ratu. Erat diiringi tawa kecil, “Aku, sayang Ibu dan ayah!” lanjutnya.
Memeluk balik Ravin, melepas semua bebannya selama ini. Hanya dengan melihat wajah kedua putranya di pagi hari saja sudah cukup membuat Ratu lupa akan mimpi buruknya.
Tanpa Ratu dan Arsen sadari, sosok mungil tak jauh dari posisi mereka kini masih menunduk, bermain dengan segelas s**u anggur favoritenya.
Manik bulat itu melirik ke arah Ravin, sang adik yang bisa dengan leluasa mengungkapkan isi hatinya. Tersenyum, memeluk sang ibu tanpa rasa canggung, bahkan saat wanita itu memeluk balik Ravin.
Ratu tidak pernah memeluk Asta sebelumnya. Seerat itu, apa karena sikap Asta yang tidak pernah bisa membuka diri pada Ratu, bahkan sering kali membentak sang ibu?
Dada pemuda kecil itu terasa sesak, Asta bingung. Bibirnya mengerucut sekilas, bergerak cepat dan meneguk s**u miliknya. Apa dia memang tidak akan bisa sedekat itu dengan ibunya?
Kadang satu benak terlintas tiba-tiba dalam pikiran pemuda kecil itu. Hal yang berusaha Ia lupakan, apa mungkin Ratu sebenarnya lebih menyayangi Ravin dibanding dia?
Karena pasalnya, hanya Ravin yang selama ini selalu tersenyum di hadapan sang ibu, dan wanita itu pun memperlihatkan sikap yang lebih baik pada Ravin.
‘Apa ibu lebih sayang Ravin?’
Sementara Rheandra, wanita yang masih sibuk membuatkan sarapan untuk keluarga itu berusaha menahan amarahnya. Sekilas melirik ke arah Asta yang masih diam menatap penuh harap ke arah ibunya.
Bibir wanita itu tiba-tiba berucap santai, “Hm, apa Ravin tidak mengundang Kak Rhea untuk ikut?” tanya Rhea singkat, dengan senyuman tipis, menolehkan wajahnya.
Tawa Ratu terhenti sementara Ravin mengerjap polos, memikirkan ucapan Rheandra beberapa saat. “Um, Kak Rhea jangan ikut dulu ya, soalnya Ravin mau jalan sama ayah, ibu dan kak Asta saja,” jawabnya polos.
Ekspresi wanita itu mengeras sesaat, namun ditutupi dengan senyuman tipis. Melihat bagaimana Ravin kini terfokus pada Ratu, sementara maniknya masih bertabrakan dengan sang Edrea.
Walau tanpa suara, Rhea sudah bisa menebak apa arti pandangan itu untuknya. [Apa maksudmu bertanya seperti itu?] Well simple saja, Rheandra suka melihat eskpresi kesal Ratu.
‘Aku tinggal mendorong satu hal lagi,’
Saat fokus Ratu kembali pada Ravin, Rheandra menatap balik Asta yang masih diam di posisinya. “Hm, tapi nanti kalau nyonya Ratu dan tuan Arsen hanya fokus pada Ravin, lalu bagaimana dengan Asta? Kak Rhea bisa menemani Asta kok,” Memasang wajah penuh senyuman.
Satu pernyataan Rhea sukses mengagetkan Arsen dan Ratu, “Apa maksudmu berkata seperti itu, Rhea?” Arsen yang bertanya lebih dulu, memicing tajam.
Rhea terkekeh kecil, “Saya hanya bercanda, Tuan Arsen.” Mengibaskan tangan singkat, “Kalau begitu malam ini saya akan pulang lebih cepat, jadi kalian bisa makan malam bersama,”
Tidak ada yang tahu bahwa dibalik kalimat wanita itu, mungkin hanya Ratu yang merasa tak beres, sengaja masuk ke dalam pembicaraan mereka begitu saja. Menyinggung masalah dimana dia akan lebih terfokus pada Ravin dibandingkan Asta?
‘Apa mau-mu sebenarnya, Rhea?’ batin Ratu.
.
.
.
.
.
[Pukul 16.00 pm]
Ravin tertidur di sofa empuk ruang tamu, sementara area teras dalam dengan dua buah pintu kaca besar terbuka lebar, taman kecil berisikan banyak permainan untuk mereka. Asta duduk tepat di area ayunan kecil,
Matahari sore tepat mengenai tubuhnya, membias dan memberikan hangat, sementara pikiran pemuda kecil itu masih mengawang.
Ayahnya kembali ke toko setelah mengantarkan mereka pulang dari taman kanak-kanak tadi, jadi sekarang Asta dan Ravin seperti biasa menunggu orangtua mereka pulang kerja dengan bermain bersama.
Ravin sudah lebih dulu tidur karena kelelahan, tapi sayang entah kenapa hari ini Asta tidak merasa ngantuk sama sekali,
Dia masih memikirkan acara makan malam hari ini, apa benar kalau ibu dan ayahnya akan lebih fokus pada Ravin dibandingkan dengannya?
Adiknya yang ceria dan penuh semangat. Ada sedikit rasa cemburu datang tiba-tiba, namun dengan cepat Ia tepis. Asta menggeleng kecil,
“Aku sayang Ravin, ayah dan ibu,” bisiknya pelan. Menunduk sembari membiarkan ayunan itu bergerak lagi.
Tanpa menyadari kedatangan kak Rhea dari arah ruang tamu. “Asta, Kakak sudah memotongkan buah untukmu, ayo dimakan dulu,” panggil wanita itu pelan.
Kembali menggeleng, “Aku tidak lapar, Kak.” tolak Asta cepat.
“Eh? Tapi ini buah kesukaanmu lho, ayo ke sini.” panggil Rhea lagi, Asta masih keukeuh dengan pendiriannya. “Tidak lapar,” jawab pemuda kecil itu singkat.
Sang Daffy bergerak turun ke area taman, menghampiri Asta. “Asta, kenapa? Dari tadi Kakak lihat sepertinya lesu sekali,” tanya wanita itu, sembari mensejajarkan tubuh dengan pandangan Asta.
“Tidak ada,”
“Ayo ceritakan sama, Kakak. Tidak apa-apa kok.”
Masih diam, Asta memilih untuk bermain ayunan lagi, sementara Rhea kini tersenyum tipis, seolah bisa menebak jalan pikiran pemuda kecil itu,
“Apa ada hubungannya dengan Ravin, dan nyonya Ratu?” tebak Rhea santai,
Tubuh Asta menegang, tebakan wanita itu tepat sasaran. Sosok kecil di depannya kembali menunduk, dengan bibir mengerucut, “Kak, boleh aku tanya tidak?”
“Hm, silahkan.”
Manik Asta perlahan menatap Rhea balik, “Kira-kira ibu sayang tidak sama Asta?” Dengan polos bertanya, satu hal yang sudah lama Rhea tunggu sejak tadi. Senyuman tipis masih menghiasi wajah wanita itu,
“Menurut Asta bagaimana?” tanya Rhea balik.
Asta hanya diam, bibirnya semakin mengerucut, “Ibu, tidak pernah memelukku seerat tadi, ayah juga,” bisik sang Faresta singkat.
“Apa ibu benci ya sama Asta? Ibu lebih sayang Ravin,”
“Kenapa Asta bisa berpikiran seperti itu?”
“Soalnya Ravin itu suka sekali tersenyum, ibu pasti lebih suka bersama Ravin.” Menahan tangisannya, Asta menarik ingusnya singkat. Sementara Rheandra masih tersenyum tipis, salah satu tangan itu bergerak mengacak pelan rambut Asta.
Senyuman yang perlahan berubah menjadi seringai, di hadapan sosok polos itu, Asta sama sekali tidak mengerti.
“Bagaimana kalau kita tes saja nanti?” Satu pernyataan terucap singkat, manik Asta melebar polos, “Tes apa, Kak?”
Seringai itu masih tercetak, “Siapa yang lebih disayangi ibumu. Asta atau Ravin?”
.
.
.
.
.
.
Alis Ratu tertekuk, saat tiba di rumah pukul enam sore, sengaja menyelesaikan pekerjaanya lebih awal dan tidak mengambil lembur lagi beberapa waktu ini.
Dia mengira kalau Rheandra sudah tidak ada di rumahnya lagi, karena wanita itu sendiri bilang kalau dia akan pulang lebih cepat hari ini. Tapi kenapa?
“Kau belum pulang?”
Melihat wanita itu di area ruang tamu, dengan pakaian yang terlihat lebih modis dibanding biasanya. Rheandra tersenyum tipis, duduk di samping Asta yang masih bermain dengan Ravin.
“Saya baru saja selesai mendandani Asta dan Ravin untuk acara makan malam hari ini,” jawabnya singkat.
Masih tertekuk, “Lalu, kau masih mau tinggal di sini lebih lama? Aku dan Arsen kebetulan sudah pulang, jadi kau bisa pulang sekarang,” tukas Ratu singkat,
Kali ini tidak Ratu kira, bukan Rhea yang menjawab pertanyaannya melainkan Asta. “Biarkan kak Rhea ikut ya, Bu?”
“Apa?”
Asta yang sejak pagi hanya diam saja kini ingin mengajak Rheandra ikut? “Kalau kak Rhea tidak boleh ikut, aku juga tidak ikut,”
Pernyataan yang tegas terucap dari bibir mungil itu, alis Ratu semakin tertekuk. Menatap tajam ke arah wanita yang kini justru tersenyum tipis,
“Saya tidak bisa menolak permintaan Asta, Nyonya.” ujarnya singkat.
Menolak permintaan Asta sama dengan Ratu melempar boomerang pada dirinya sendiri, entah efek apa yang akan terjadi kalau Ratu masih bersikap dingi dan menolak permintaan putranya.
Ravin yang duduk di samping sang kakak hanya bisa merengut, menatap Asta, “Kakak, kenapa tiba-tiba ajak kak Rhea?” Seolah tidak setuju, salah satu tangan pemuda kecil itu menarik baju Asta pelan. “Aku ‘kan maunya jalan sama kakak, ayah dan ibu saja,” rengeknya, dan hal yang selanjutnya Ratu takutkan tiba-tiba terjadi.
Asta reflek menepis tangan adiknya, “Tidak mau, pokoknya kak Rhea harus ikut!” Untuk pertama kali, bahkan di kehidupannya dulu, Ratu tidak pernah melihat Asta menepis dan berteriak di hadapan adiknya sendiri.
Manik Ratu melebar, berjalan mendekat saat melihat wajah Ravin merengut menahan tangis, tepisan sang kakak cukup kuat hingga membuat jemarinya memerah,
“Ke-kenapa Kakak pukul tanganku?” Manik Ravin mulai berkaca sementara Asta terkejut, bibir pemuda kecil itu hendak berbicara, “Ma-maaf-”
“Asta,” Tapi suara ibunya menghentikan ucapan sang Faresta, pandangan Asta menengadah melihat seperti apa ekspresi wanita itu, sosok Ratu menghampiri Ravin, mencoba menenangkan sang bungsu, “Jangan seperti itu dengan adikmu,”
Bukan tatapan marah seperti yang biasa Asta lihat namun kekecewaan tercetak di wajah Ratu, melihat wanita itu memeluk Ravin membuat amarahnya tiba-tiba datang,
Bergerak menggenggam pergelangan Rhea, “Pokoknya kak Rhea harus ikut hari ini!” tegas pemuda kecil itu, beranjak pergi dari ruang tamu.
“Asta, tunggu! Dengarkan Ibu dulu!”
Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa sikap putra sulungnya bisa berubah dalam beberapa jam saja? Melihat sosok Rheandra, semua kecurigaan Ratu semakin terbukti.
‘Apa wanita itu yang membujuk Asta sampai berbuat seperti ini?’
Ratu tidak bisa lagi mengabaikan keberadaan Rheandra, sang Edrea memang berencana menunggu waktu yang tepat sembari mencari beberapa bukti lagi, kemungkinan kalau Rhea-lah dalang dibalik beberapa kejadian yang menimpa keluarganya selama ini.
Tapi sekarang, melihat sikap Asta tadi, ‘Aku harus mempercepat semuanya,’ batin Ratu yakin.
Wanita itu berbahaya.