[ 47 - Mimpi Buruk ]

1451 Words
STORY 46 - Berusaha Melupakan *** Tahun 2025 – Masa kini REKOMENDASI LAGU – Yoasobi – Lagu bisa cek di IGG “Tolong aku, Ratu.” Suara familiar itu bergema terus menerus dalam ingatannya. Diiringi isak tangis, kedua manik Ratu yang awalnya perlahan terbuka, kini langsung dikejutkan dengan pemandangan itu lagi. “Hanum,” Lagi dan lagi, sosok wanita itu menggandeng dua orang anak kecil di samping kanan dan kirinya. Manik yang awalnya kabur berusaha mendekat, Ratu mengusap mata berulang kali. “Kenapa kau tidak mau menolongku saat itu?” “Apa?” Alis Ratu tertekuk, bayangan yang biasanya hanya meminta tolong, kini seolah berbicara balik padanya. Melangkah kembali, kedua tangan Ratu terkepal, “Aku tahu ini kesalahanku, karena itu kumohon Hanum,” bisiknya pelan. Wajah wanita itu semakin jelas, tetesan bening dan raut pedih nampak di sana. “Sebelum semuanya terlambat, kau harus memilih Ratu.”!ujar Hanum pelan. Memilih apa? Ratu tidak paham sama sekali. Saat dia semakin mendekat, bayangan dua anak kecil di samping Hanum jelas nampak. Di sebelah kanan seorang gadis kecil dengan kunciran pony tail melambai ke arahnya, “Va-Vanessa?” Tubuh Ratu nyaris menegang shock, melihat gadis itu tersenyum ke arahnya. Namun pandangan Ratu tertuju cepat ke arah sosok kecil di samping kiri Hanum. “Ibu,” Jangan lagi, detak jantung Ratu semakin cepat melihat dengan jelas sosok Ravindra kini menangis terisak. “Tolong aku, Ibu.” Ratu reflek berlari, kali ini entah kenapa dia bisa mendekati ketiga orang itu sesuai dengan kehendaknya. Menggapai Ravin ke dalam pelukan Ratu dan menarik pemuda kecil itu menjauh dari Ravin, “Kumohon, jangan lagi Hanum. Jangan bawa putraku pergi,” pinta Ratu dengan nada lirih, menahan diri agar tidak menangis. Memeluk Ravin erat, “Aku janji, akan menyelamatkan kalian semua. Aku janji akan menolongmu kali ini, karena itu kumohon---jangan bawa putraku pergi,” Entah sudah berapa ratus kali Ratu bermimpi Hanum mengajak Ravin pergi dari hadapannya. Pergi jauh ke tempat yang tidak bisa Ia gapai, “Maaf, karena sikap pengecutku malam itu, kau harus pergi,” Menatap Hanum takut, Sosok itu hanya berdiri menggandeng tangan Vanessa putrinya, tanpa ekspresi dalam balutan dress putih dan rambut panjang tergerai. “Kau harus memilih, Ratu.” Lagi-lagi Hanum memberikannya pilihan, “Pilihan apa?! Jika aku bisa menyelamatkan kalian semua, akan kulakukan!! Kali ini aku akan berusaha sekuat mungkin, karena itu-” Suara Ratu tercekat saat melihat tatapan pedih Hanum tercetak jelas, Ia justrus menggeleng tipis, “Nanti kau akan mengerti, bahwa tidak semua hal bisa kau ubah semudah itu, Ratu.” Hanum menatap ke atas, dengan pandangan kosong, “Perlahan kau menggerakkan roda masa depan yang awalnya rusak. Kau mengubah masa depan itu sendiri, Ratu. Apa semua hal akan berjalan sesuai dengan keinginanmu atau sebaliknya? Kita tidak tahu,” Ratu masih tidak paham, apa maksudnya bahwa semua keinginan Ratu tak sepenuhnya bisa Ia kabulkan? Akan ada masa depan dimana dia tak bisa mengubah hal itu, “Tidak, aku----aku akan berusaha mengubah semuanya! Sampai kau, Vanessa dan Ravin tetap selamat, itu janjiku!” teriak wanita itu yakin, “Aku tidak akan membiarkan Tuhan merebut orang-orang yang kusayangi lagi,” Semakin lirih, “Karena itu, Hanum kumohon beri aku kesempatan,” Hanum tetap berdiri di sana, “Pilihan itu akan datang suatu saat nanti, Ratu. Ingatlah,” “Tidak!!! Ravin akan tetap hidup!! Dia akan selamat, aku akan menyelamatkan kalian semua!! Kau dengar itu?!” Untuk pertama kalinya, Ratu berteriak, sembari menangis dengan napas tercekat. Memeluk Ravin yang kini justru perlahan menghilang bagai asap. Terkejut, “Tu-tunggu dulu, Ravin!! Ravin, dimana kau?!” Mencari sosok mungil itu, manik Ratu teralih menatap Hanum yang kini ikut hilang, “Hanum!!” Asap putih menghalangi pandangan Ratu, membuatnya semakin panik, “RAVIN!! HANUM!! JANGAN PERGI, AKU BELUM SELESAI!! RAVIN!!” Diliputi rasa takut, berniat menggapai sesuatu namun tidak bisa. “RAVIN!!” Memanggil nama putra bungsunya, menangis kencang. “Jangan bawa putraku pergi, Hanum!! Aku mohon!!” Satu teriakan terakhir Ratu, diiringi suara panggilan yang cukup keras membangunkan sang Edrea dari mimpi buruknya. “Ratu, sadarlah!” Jemari yang menggenggam tangannya erat, raut khawatir tercetak jelas, tepat berada di samping Ratu. Hal pertama yang terlintas dalam pandangan Ratu setelah itu adalah sosok Arsenio. **" Sebelum itu - Disisi Arsenio Pukul 23.00 pm Jarang sekali rasanya dia bisa melihat wanita itu terlelap tidur di sampingnya. Jika setiap hari Arsen akan tidur sendiri dan kadang menunggu Ratu pulang dari kantor, itu pun setiap jam dua sampai tiga dini hari, bahkan saat sang istri memilih untuk menginap di kantor karena pekerjaan urgent. Kali ini, selang beberapa hari setelah insiden wanita itu datang ke taman kanak-kanak dan membela kedua putranya, saat Ratu menangis di hadapan Arsen, sikap wanita itu memang berubah drastis. Sifat dingin sang Edrea perlahan menghilang meski tidak secara langsung. Ratu jadi lebih nyaman berbicara apapun padanya, tanpa ada hal yang disembunyikan lagi, bahkan sekarang pun. Wanita itu pulang dari kantor selalu pukul 5 sore, mereka menghabiskan waktu makan malam bersama Asta dan Ravin, dan sekarang hingga tidur bersama. Melihat wanita itu tertidur lelap membuat Arsen tenang. Dia tahu seberapa lelah Ratu selama ini, berkutat dengan pekerjaan dan mengurus semuanya, Tersenyum tipis, hari ini dia memang sengaja ingin tidur agak malam, tak masalah ‘kan kalau sekali-kali Arsen berpuas diri menatap wajah tidur Ratu yang jarang Ia lihat. Cantik dan nampak sangat polos. Perlahan menggerakkan satu tangan dan mengusap rambut Ratu, menyampirkan anak rambut yang menghalangi wajah wanita itu, ‘Kau pasti kelelahan,’ batinnya, saat berniat menyampirkan rambut lagi. “Ungh-” Tiba-tiba Ratu meringsek dari tidurnya, Arsen langsung menarik diri, takut jika Ratu mungkin saja kaget jika melihat sikapnya tadi. “Jangan-” Tapi yang Arsen lihat justru sikap aneh Ratu. Wanita itu nampak tidak nyaman, perlahan mulai berkeringat dan mengigau, Arsen mulai merasa ada yang aneh. Bergerak mendekat, memperhatikan ekspresi Ratu. “Ratu,” Wanita itu sekarang menangis dalam tidurnya, “Jangan—jangan bawa putraku, Hanum! Kumohon!!” teriaknya kecil, kedua tangan bergerak berusaha menggapai sesuatu. “Jangan bawa Ravin!!” Alis lelaki itu tertekuk bingung, isakan demi isakan keluar dari bibir istrinya, menangis kencang, berkeringat dan gemetar. “Aku berjanji-hiks—aku akan menolong kalian semua,” “Karena itu---hiks—jangan bawa putraku!!” Arsen tidak mengerti, apa yang sebenarnya Ratu mimpikan? Kenapa nama Hanum bisa terucap dari bibir wanita itu? Sikap Ratu semakin menjadi, berusaha keras menghentikan wanita itu, memanggil Ratu berulang kali, “Ratu, sadarlah! Ratu!” Menepuk pelan pipi istrinya, “Sadarlah!” Ratu memberontak, “Jangan bawa, putraku, Hanum!!” Menangis terisak, Tak ada pilihan lain, Arsen bergerak mendekat, dan kali ini membawa tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. “Ratu, sadarlah!” “AGHH!!” Satu teriakan terakhir, kedua manik Ratu terbuka cepat, napasnya terengah, air mata sudah membasahi pipi wanita itu. Masih dalam keadaan tidak sadar, dalam pelukan Arsen. Ratu mendapat kehangatan, aroma yang familiar membuatnya tenang. Tidak seperti dulu, setiap harinya, saat wanita itu terbangun dari mimpi buruk. Tak ada siapapun di sampingnya. Ranjang yang kosong dan dingin, bangun sendiri dalam keadaan shock, keringat membasahi tubuh, kamar yang gelap, tidak ada Arsen. “Apa yang mimpikan, tenanglah,” Tapi sekarang, Ratu merasakan sendiri bagaimana erat tubuh lelaki itu memeluknya, dalam kondisi berbaring, detak jantung mereka seolah menyatu. Tubuh Ratu yang awalnya gemetar pelan-pelan mulai mendapat kesadaran lagi, jemari itu bergerak reflek memeluk tubuh Arsen balik. Terisak, “Ravin, Hanum ingin membawa Ravin pergi dariku,” racaunya tipis. “Ssh, jangan khawatir. Tidak akan kubiarkan siapapun membawa kedua putra kita pergi,” Deru napas Arsen dan pelukan yang erat, kalimat menenangkan. “Aku sudah berjanji akan menjaga kalian bertiga selamanya, karena itu jangan takut,” Isak demi isakan, memeluk Arsen balik, menenggelamkan wajahnya di tubuh lelaki itu. “Aku takut, Arsen. Mimpi itu selalu datang, mereka berusaha membawa Ravin dan Asta pergi dariku-hiks, aku takut,” Ratu yang lemah dan rapuh, dalam pelukan Arsen wanita itu kini bagaikan sosok kecil tanpa perlindungan. Berusaha menutupi dirinya yang lemah dengan benteng dingin selama ini, berdiri menantang semua, melawan ketakutan dan mempertahankan ego-nya. “Tidak akan kubiarkan siapapun membawa kedua putra kita pergi,” Satu janji terucap terus menerus, tepukan yang lembut, diiringi isakan kecil Ratu. Memeluk wanita itu erat, “Aku akan melindungi kalian selamanya,” “Jangan takut, Ratu.” Pertemuan Ratu dengan Hanum dan Abhimanu tanpa Ia sadari membuka kembali mimpi buruk dan ingatan yang berusaha Ratu lupakan selama beberapa saat. Jika sedikit saja Ratu melakukan kesalahan entah apa yang akan terjadi. “Kau harus memilih, Ratu.” Pilihan apa yang harus Ratu buat? Apa ini berhubungan dengan keputusan Ratu menyelamatkan Ravin, Hanum dan Vanessa di masa depan? Tapi kenapa raut wajah sahabatnya nampak begitu sedih? Keputusan apa yang akan Ratu buat? Hanum seolah sudah mengetahui semuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD