[ 42 - Tidak Semudah Itu ]

1736 Words
STORY 42 - Tidak Semudah Itu *** Tahun 2025 – Masa kini REKOMENDASI LAGU – Little Do You Know – Alex & Siera Mereka tumbuh hanya dengan kasih sayang sang ayah selama bertahun-tahun. Bahkan mungkin Asta bisa menghitung waktu dimana wanita cantik itu datang, menyelipkan sedikit kesempatan untuk bersama dengan mereka. Sosok dingin tanpa ekspresi yang sengaja membangun tembok tak terlihat diantara keluarga kecilnya. Selalu menjauh, disibukkan oleh banyak pekerjaan. Selama dia mengenal wanita itu, Asta dan Ravin nyaris tidak pernah melihat sosok ibuk mereka tersenyum. Tapi sekarang? Apa yang berbeda? Tuhan, seolah memberikan kejutan untuk mereka. Melihat sikap aneh sang ibu di pagi hari. Senyum yang begitu mudah nampak di wajah cantiknya. Memeluk mereka, erat membiarkan Asta dan Ravin mencium aroma tubuh sang ibu. Hal yang berubah perlahan tanpa dia sadari, apa memang semudah itu? Kedua manik Asta kini melihat bagaimana ibu mereka berdiri seolah melindungi. Nampak tegas, dan dingin di hadapan ketiga ibu-ibu yang membela putra mereka. Mendengar ucapan maaf berulang kali, semua masalah berakhir tanpa mereka perlu meminta maaf? Ibunya menang? Pemuda kecil berusia 5 tahun itu masih tak mengerti, perubahan sang ibu terjadi begitu tiba-tiba. Dia tak paham, rasa tidak nyaman sudah lebih dulu melekat dalam diri Asta. Bahkan saat wanita itu berbalik dan menatap mereka dengan senyuman, “Kalian tidak apa-apa ‘kan?” Asta hanya bisa mengangguk ragu, sementara Ravin tersenyum lebar. Sifatnya dan dengan sang adik memang sangat berbeda, Asta tumbuh menjadi sosok pemuda kecil yang sensitive, mudah terpancing emosinya, dingin, dan sedikit pemalu. Sementara Ravin, seolah menjadi penopang Asta selama ini. Sikap ceria, dan penuh semangat Ravin berhasil membuat Asta merasa nyaman. Saudara kembar yang sangat Ia sayangi melebihi apapun. Karena itu, sedikit saja ada yang berani menyakiti Ravin, Asta tak akan main-main untuk membalas mereka, Siapapun yang membuat adiknya menangis, Asta tidak akan bisa memaafkannya. Semua orang termasuk sang ibu, Tapi melihat senyum di wajah Ravin, mau tak mau Asta menepis perasaannya itu. Untuk kali ini saja, Asta akui sikap ibunya keren sekali, melebihi apapun. Bahkan ayah dan kak Rhea pun ikut terpesona ‘kan? ‘Ugh,’ Mengernyit sekilas, rasa sakit tiba-tiba datang dari bagian tubuh yang kini ditutupi oleh pakaian. Tak ada yang sadar, mungkin hanya Ravin saja. Saat manik mereka bertemu, Pemuda kecil itu juga nampak menahan sakit, seolah melempar telepati, Asta berakhir menggeleng tipis pertanda keputusannya untuk tetap diam. Ada satu hal yang tidak mereka katakan pada siapapun, rahasia kecil keduanya. Jika ayah sampai tahu hal ini, lelaki itu pasti akan sedih, sementara ibu mereka? Asta takut, jika sifat ibunya kembali berubah dan membuang semua harapan yang sempat terlintas dalam benaknya. Wanita itu akan kembali bersikap dingin dan menepis keberadaan mereka. Ekspresi Asta berubah saat melihat ayahnya berjalan mendekat. Raut khawatir nampak jelas di sana, “Kalian terluka seperti ini, kita harus pulang sekarang,” ucap lelaki itu sigap. “Tapi Ayah, kami baik-baik saja kok, lihat!” Memperlihatkan luka goresnya lagi, tapi Arsen tetap tegas. Bergerak menggendong tubuh mungil kedua putranya, “Tidak, kita harus pulang sekarang.” Sang Rajendra menatap ibu guru Vera yang setuju dengan keputusannya, “Saya izin mengajak Asta dan Ravin pulang, Ibu guru. Tidak masalah ‘kan?” “Tentu saja, Tuan. Mereka harus istirahat hari ini, kebetulan jam sekolah juga akan segera selesai,” Arsen mengangguk tipis, tersenyum sopan dan melangkah keluar sembari menggendong Asta serta Ravin. Rheandra mengikuti langkah lelaki itu, Sementara Ratu, masih berdiri di posisinya. Dia masih mengingat jelas respon Asta. Tentu mereka tak baik-baik saja, karena Ratu tahu apa yang sebenarnya disembunyikan oleh keduanya. Kilas balik saat Ravin menemui Ratu sembari menangis di dalam ruangan. Memberitahu semua pada sang Edrea, tentang luka yang sengaja mereka sembunyikan dibalik pakaian. Walau Ratu bisa menghentikan masalah kali ini, bukan berarti luka itu akan hilang. Dia tidak tahu sejak kapan para kakak kelas itu mengganggu kedua putranya. Mungkin sudah lama, dan dia hanya bisa abai, bersikap tak peduli. Kedua tangan Ratu terkepal kuat, ‘Belum cukup,’ batinnya, semua dosa yang Ia pegang tak akan berakhir hari ini. Dia tidak boleh merasa puas, Melangkah keluar dari ruangan, melirik sekilas ketiga ibu-ibu yang kini masih menunduk takut, tak berani menatap balik. “Tolong diingat kata-kata saya tadi, jika sampai kejadian hari ini terulang lagi. Kalian tahu akibatnya?” Mereka kembali menegang takut, “Ba-baik!! Kami janji!!” Mendengus tipis, wanita itu melangkah keluar, dengan kedua manik yang menatap ke depan. Memperhatikan sosok tegap di luar sana, menggendong kedua putra yang kini nampak tertawa dengan candaan sang ayah. Apa Ratu bisa masuk ke dalam celah keluarga kecilnya lagi? Bersikap seolah tak terjadi apapun selama ini. Apa dia punya kesempatan? *** “Kalau begitu saya kembali ke kantor dulu, Nyonya.” Raven menunduk sekilas, menerima handphone dari tangan Ratu. Mengangguk kecil, “Terimakasih karena sudah membantuku tadi,” Singkat namun jelas, manik Raven mengerjap lagi, bergerak menggaruk bagian belakang kepalanya sedikit gugup. “Hh, saya tidak terbiasa dengan sikap baru anda Nyonya,” tukas lelaki itu cepat, Ratu mendengus menepuk pundak sang Holigan. “Kembalilah bekerja,” “Anda tidak ke kantor hari ini?” tanya Raven lagi, Ratu terdiam sesaat. Menimbang kembali, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, kepala Ratu masih terasa sakit. “Aku ingin beristirahat saja,” jelasnya. “Baiklah kalau begitu, saya pergi dulu, Nyonya.” Fokus Ratu langsung teralih menatap mobil milik Arsen yang terparkir tak jauh dari posisi mobilnya. Rheandra pun sudah bersiap ikut masuk ke dalam mobil sang Rajendra, sementara dia berjalan menuju mobilnya. Tak menyadari kalau Arsen bergegas menutup pintu mobil, berjalan ke arahnya. Sebelum Ratu pergi dari sana, tangan besar itu menggenggam pergelangan Ratu cepat, “Tunggu,” “Ada apa?” Ratu menatap heran, suaminya nampak sedikit beberapa saat. “Ikutlah di mobilku bersama Asta dan Ravin,” Manik Ratu melebar tak percaya, “Apa maksudmu? Aku membawa mobilku sendiri tadi, siapa yang mau menaikinya?” ungkap sang Edrea bingung, “Aku akan meminta Rheandra untuk menggantikanmu,” jawab Arsen tanpa ragu, “Anak-anak membutuhkanmu sekarang, dan aku tahu kau juga begitu,” lanjut sang Rajendra yakin, Tertegun, seberapa cepat sebenarnya Arsen mampu beradaptasi dengan semua sikap Ratu yang kadang berubah-ubah. Lelaki itu tak pernah lelah dan selalu berjuang menyatukan keluarga kecil mereka, Manik amber itu meredup, “Anak-anak pasti akan nyaman jika bersama Rhea di sana,” Genggaman tangan itu mengerat, tanpa menjawab lagi, Arsen bergerak menarik tubuh Ratu menuju mobilnya. “Kau itu ibu mereka, Ratu.” Kalimat singkat yang mampu memberi Ratu ketenangan walau sesaat, memperhatikan bagaimana tangan besar itu menggenggamnya erat. Kadang Ratu merasa heran, kenapa lelaki sebaik Arsen mau menikahi wanita sepertinya? Apa semua itu dia lakukan karena terpaksa atau ada maksud lain? Ratu tidak tahu. *** “Lho, Nyonya Ratu, anda mau ikut di sini juga?” Pertanyaan polos terlontar saat Rheandra sudah duduk di samping Asta. Bukan Ratu yang menjawab, justru Arsen. “Rheandra, kau bisa naik mobil ‘kan?” Tubuh Rhea membeku, seolah tahu perkataan Arsen selanjutnya. “Saya ini penjaga Asta dan Ravin, saya ingin menemani mereka pulang, Tuan.” “Tolong gantikan Ratu membawa mobilnya pulang, sudah ada ibu mereka di sini, jadi aku ingin minta tolong itu saja,” Tegas tanpa memberi Rhea satu kesempatan untuk menolak. Rhea menatap Asta dan Ravin bergantian, “Tapi, Tuan, saya penjaga mereka ‘kan. Pekerjaan saya adalah menjaga Asta dan Ravin, tidak lebih.” Ratu menatap ekspresi Asta yang kini masih nampak ragu, sementara Ravin kini telah terlelap di samping kakaknya. Menahan lelah setelah digendong sang ayah tadi, Arsen mendengus tipis, “Kalau begitu tolong kau kemudikan mobilku, biar mobilmu aku yang membawa. Bagaimana?” Satu hal yang tidak Rhea duga, manik wanita itu melebar tak percaya. Ratu mengangguk tipis, “Baiklah,” “Bagaimana kalau nanti Ravin mencari anda, Tuan?” “Jangan khawatir, Ibu mereka sudah ada di mobil yang sama sekarang. Aku dan Ratu tak ada bedanya,” Kalimat terakhir Arsen berhasil membungkam Rhea. Sang Rajendra menepuk pelan pundak Ratu, tersenyum tipis, “Aku akan mengikuti kalian dari belakang,” Tidak tahukah seberapa besar efek perbuatan Arsen padanya? Memperlakukannya dengan lembut, menghargai Ratu, tanpa dia sadari sosok tampan itu perlahan menjadi jalan keluar untuknya. Sikap hangat sang Rajendra selalu bisa melelehkan dinding yang Ia buat selama ini. Manik Ratu hanya bisa memandang sendu punggung lebar itu, tanpa bisa mengatakan apapun lagi. *** “Jangan!!” Ratu yang awalnya mengira dari semua tindakan wanita itu hari ini, mungkin sedikit saja kedua putranya terutama Asta mau membuka diri. Meski hanya sesaat, Tapi apa yang dia dapatkan? “Kan sudah kubilang aku tidak apa-apa!” Tubuh Ratu menegang saat tiba di rumah, wanita itu mencoba mengecek luka kedua putranya. Dia tahu kalau mereka sengaja menyembunyikan itu, Ratu hanya tidak mengira kalau Asta akan menepis tangannya. Memandang dengan kedua manik yang nampak ragu dan takut, “Aku baik-baik saja,” tukas pemuda kecil itu, berusaha memperbaiki pakaiannya kembali. Ratu masih berusaha untuk bicara, “Ibu, tahu kalian sengaja menyembunyikan luka di balik pakaian dari kami semua,” ujarnya gamblang. Manik Asta melebar kaget, begitu juga Ravin yang kini sudah terbangun karena teriakan Asta. “Ka-kami baik-baik saja!” Masih tak mau mengaku, Asta bergegas menggenggam tangan adiknya, “Ayo kita ke kamar,” “E-eh, tapi ‘kan Kak,” rengek Ravin sembari menatap ibunya tak rela. “Asta,” Ratu kembali memanggil putranya pelan, dengan kedua manik menatap sendu. Saat Rheandra datang membawa alat P3K, barulah Asta menoleh cepat. “Untuk apa Ibu bertanya luka kami sekarang?” Menatap redup, berdiri dengan tubuh tegap yang memandang tegas. “Bukannya sejak awal, Ibu memang tidak pernah peduli?” Telak mengenai Ratu. Sosok mungil itu seolah dipaksa untuk berpikir dewasa, dalam lingkungan yang Ratu buat sendiri. Tak ada sifat Asta yang manja dan Ravin pun tidak bisa mengelak, dia diam dan merengut tipis. Asta mengalihkan pandangan, menatap kak Rhea ragu. “Bi-biar kak Rhea saja yang mengobati kami,” Kembali berjalan keluar dari ruang tamu, meninggalkan Ratu dan Rheandra berdua. Ratu masih terdiam, meresapi tiap perkataan Asta padanya. Sementara Rheandra, Menyeringai dalam hati, ‘Ternyata aku tidak perlu repot-repot menjauhkan dia dengan putranya.’ Karena pada dasarnya, Ratu-lah yang lebih dulu menjaga jarak. Membangun dinding tebal tak terlihat, seolah mengetahui tugas Ratu sebagai seorang ibu yang hanya perlu memberikan banyak uang untuk kedua putranya. “Kalau begitu saya permisi, Nyonya.” Rheandra pun meninggalkan Ratu dengan senyum kemenangan di wajahnya. Ternyata tidak semudah itu, memenangkan hati yang sudah bertahun-tahun Ratu abaikan. Kenapa rasanya sesakit ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD