STORY 43 - Menyadari Semua
***
Tahun 2025 – Masa kini
REKOMENDASI LAGU – Sad Song – We the Kings, Elena Coats
Malam itu, tidak seperti di masa lalu, saat Ratu melihat bagaimana Ravin menangis di dalam kamarnya dan menjelaskan semua luka dia serta Asta pada sang ibu. Kebenaran pertama yang Ravin katakan, kedua putranya sengaja menyembunyikan luka dibalik pakaian itu.
Agar mereka tidak khawatir? Kali ini Ratu sama sekali tidak melihat keberadaan Ravin, kenapa? Apa karena sudah ada Rheandra yang mengobati mereka? Itu berarti masa depan perlahan berubah.
Tapi kenapa Ratu tidak merasa senang sama sekali? Apa Ravin juga perlahan menyukai wanita itu? Sehingga sang Abel tak menghampiri Ratu seperti dulu? Dia hanya bisa duduk di atas tempat tidur memikirkan semua kemungkinan yang bisa terjadi.
Tidak menyadari pintu kamar perlahan terbuka, Arsen datang sembari membawa segelas susuu hangat, kopi susuu dan sepotong cheesecake. Semua makanan kesukaan Ratu,
Lelaki itu datang menghampirinya, dalam balutan baju santai. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Jarang sekali mereka bisa menghabiskan waktu berdua, karena Ratu selalu memilih untuk diam di kantor, fokus dengan pekerjaan. Bahkan kadang pulang dini hari,
“Minumlah dulu, setelah itu segera beristirahat,” ujar sang Rajendra pelan, menaruh nampan di atas meja, dan bergerak mengambil buku untuk dibaca. Manik Ratu melihat gerak-gerik suaminya lekat,
“Apa Ravin dan Asta sudah tidur?” tanya Ratu sekilas, Arsen mengangguk kecil, “Sudah, tadi Rhea baru saja pulang setelah mengobati mereka,” Mendengar nama Rheandra dari bibir Arsen entah kenapa membuat Ia sedikit tak nyaman,
Menggeleng tipis, tangan Ratu bergerak mengambil susuu hangat miliknya. “Terimakasih,” ujar wanita itu lagi,
Duduk bersandar pada kepala tempat tidur, Arsen mendengus geli, “Untuk apa? Jika karena membawakan susuu dan makanan kecil, aku rasa kau tidak perlu mengucapkannya,” canda lelaki itu cepat.
Menarik garis tipis bibirnya, candaan yang tidak pernah hilang dari diri Arsenio. Sedingin apapun sikap Ratu, seberapa keras dia berusaha membangun dinding yang tinggi. Arsen akan punya seribu satu cara untuk membuatnya luluh. Meski dulu, tindakan lelaki itu hanya berefek kecil bagi Ratu.
Tidak sekarang, hanya candaan kecil saja sudah cukup membuat Ratu tersenyum tenang. Arsen yang sekarang tidak seperti di masa depan dulu, saat senyuman lelaki itu benar-benar hilang di depannya.
“Terimakasih karena sudah mengerti,” Begitu banyak arti dalam kata-katanya, menyesap susuu hangat buatan lelaki itu, “Terimakasih karena selalu berada di sampingku,” Singkat, namun kalimat wanita itu sanggup mengalihkan seluruh perhatian Arsen.
Lelaki itu tertegun sesaat, tanpa Ia sadari tubuh sang Rajendra perlahan bergerak mendekat, melupakan buku yang dia pegang tadi. Kedua tangan Arsen pelan, menangkup kedua pipi Ratu.
Dalam jarak yang cukup dekat, manik Ratu mengerjap polos. Menatap balik Arsen bingung, sementara lelaki itu masih tak paham, bibirnya masih bungkam. Memainkan kedua pipi Ratu lembut,
“Ini benar-benar kau ‘kan, Ratu?” ungkapnya singkat.
Ya, siapapun yang melihat sikap Ratu sekarang pasti akan berpikir sama. Aneh dan bingung, “Apa aku perlu membuktikannya padamu?” jawab sang Edrea sekilas,
Manik mereka bertemu, dalam jarak dekat, menciptakan degup jantung yang sudah lama tidak berfungsi dengan wajar, kali ini perlahan berubah cepat. Baik Ratu ataupun Arsenio hanya bisa diam,
Merasakan tangan besar itu menangkup kedua pipinya, rasa nyaman menjalari, tanpa sadar kedua manik Ratu tertutup perlahan, menikmati sensasi sentuhan Arsen.
Tersenyum tipis, rindu menguar, menghirup aroma khas lelaki itu. Sudah lama sekali, Ratu tidak merasakan hal ini, berdiri dengan jarak yang dekat, tidak ada yang mengganggu mereka lagi.
Saat manik amber keemasan itu terbuka perlahan, Ratu merasakan hangat tangan Arsen menghilang, sang Rajendra menarik kedua tangannya cepat, “Maaf,” Mengucap maaf sembari bergerak menuruni tempat tidur,
“Aku ingin menenangkan diri sebentar,” Melangkah pergi, keluar dari kamar mereka. Meninggalkan Ratu tanpa memberi alasan yang jelas, seluruh kehangatan Arsen menghilang saat itu juga, digantikan rasa sakit di dadaa.
Apa laki-laki itu akhirnya perlahan membenci Ratu juga?
***
Di tempat lain
Sosok tegap itu berdiri tepat di area teras, menutup mata dan menghembuskan napas panjang. Apa yang baru dia lakukan? Hanya karena Ratu memberikan ruang cukup banyak bagi mereka, bukan berarti dia bisa berbuat seenaknya saja.
Pernikahan mereka yang sudah berjalan selama bertahun-tahun lamanya. Dalam ikatan kontrak selalu mengingatkan Arsen tentang posisinya sendiri.
Bergerak menepuk dadaanya yang kini berdegup kencang, hanya karena melihat senyuman dan sikap terbuka Ratu saja, dia hampir tak bisa menahan diri.
Betapa ingin lelaki itu menarik sang Edrea ke dalam pelukannya. Mengukung tubuh Ratu, menghirup aroma khas wanita itu lama, seberapa keras dirinya berusaha menahan diri.
Perubahan Ratu hari ini nyaris membuat Arsen melupakan status pernikahan mereka. Dia tidak boleh bertindak lebih. Arsen takut, Ratu semakin membencinya. Mendorong dia menjauh seperti saat itu-
Di hari malam pertama mereka. Hal yang Arsen lihat adalah tangisan sang Edrea, wajah ketakutan, namun berusaha keras memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Betapa terluka dia saat melihat sang istri nampak ketakutan dengan suaminya sendiri? Arsen tidak ingin hal itu terulang lagi.
Wanita itu membencinya. Ratu tidak pernah mencintai Arsenio, dan menganggap bahwa pernikahan ini hanya sebuah kontrak belaka. Sejak awal, Arsen tahu bahwa mungkin pernikahan mereka tidak akan pernah berjalan normal.
“Hh, ini benar-benar membuatku gila,” desah sang Rajendra, mengusap wajahnya dengan salah satu tangan. Bayangan wajah wanita itu selalu terngiang di pikirannya. Berapa lama lagi Arsen harus menahan diri,
***
Ratu tidak pernah mengira, seberapa besar efek perbuatannya saat itu bagi keluarganya. Apa semua akan berjalan dengan baik, dan dia tidak perlu merasa takut lagi?
“Huaa!”
Suara tangisan Asta dan Ravin terdengar kencang, saat Ratu bangun dari tidurnya. Dua hari setelah kejadian di sekolah, saat komunikasi mereka kembali memburuk.
Tubuh Ratu bereaksi lebih dulu dibanding Arsen. Pukul empat pagi, diliputi rasa takut. Wanita itu menyibak selimutnya, dengan langkah cepat, mendatangi ruang kedua putranya.
Insting Ratu berteriak, walau dalam ruang kedap suara. Dia justru terbangun cepat, samar mendengar tangisan kedua anak itu,
“Asta, Ravin,”
Saat pintu kamar terbuka, tangisan mereka terdengar jelas. Menghidupkan lampu ruangan, selimut sudah tergeletak di atas lantai, Asta dan Ravin terduduk menangis kompak.
Mereka merengek tak seperti biasanya, berjalan mendekat. Warna kemerahan memenuhi tubuh keduanya, tangan Ratu langsung mengecek suhu tubuh mereka.
‘Panas sekali,’
Rewel, menangis kencang, pertama kalinya Ratu melihat sendiri fase demam pemuda kecil ini. Jika dulu, Arsenlah yang selalu siaga, bahkan menghubungi Ratu. Meminta dia untuk segera pulang cepat dan menjaga mereka, namun sampai akhir pun tidak pernah Ia lakukan.
‘Apa yang harus kulakukan?’ Panik tentu saja, kening mereka panas sekali. Obat, dimana Arsen menaruh obat penurun demamnya? Dia harus apa?
Bergerak pelan, berusaha mengajak Asta dan Ravin untuk berbaring lagi tapi mereka merengek tak mau. “Ssh, ibu akan membawa obat dan kompres sebentar, kalian bisa tidur sebentar ‘kan?” ujarnya pelan,
“Kepalaku sakit, hueee,” rengek Ravin, “Badanku panas, Ibu!” Asta ikut merengek,
Napas Ratu terengah, jantungnya berdetak kencang. Kali ini dia langsung saja naik ke atas tempat tidur. Tanpa aba-aba menarik tubuh mungil mereka ke dalam pelukan, “Ibu, ada di sini.” Berada di dekat keduanya,
“Tidurlah lagi,”
“Ibu, pasti mau pergi ‘kan?” tukas Ravin cepat, jemari mungilnya bergerak menggenggam erat pakaian Ratu. “Jangan pergi,”
Asta pun begitu, “Jangan pergi, Bu,” Dengan suara yang perlahan berubah pelan. Dalam pelukan ibunya, Asta merasakan tepukan lembut di punggung. Mencium aroma khas sang ibu,
“Ibu, akan ada di sini menemani kalian,” Teralun lembut, bagai melodi. Satu kalimat Ratu ternyata berhasil menenangkan mereka kembali. Tubuh Ravin dan Asta perlahan lemas, manik mereka tertutup, diiiringi dengkuran tipis. Keduanya kembali tidur,
Meninggalkan sang ibu yang kini berusaha menggigit bibir bawahnya sekuat mungkin. Merasakan panas tubuh kedua putranya untuk pertama kali. Bahkan di saat seperti ini pun, dia kembali teringat.
Betapa tidak pedulinya Ratu selama ini. Menelantarkan kedua putra dan membuat mereka tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu persis seperti dirinya.
‘Maafkan, Ibu.’
***
Lelaki itu merasakan tetes cairan mengenai pipinya, guncangan yang cukup keras dan suara panggilan familiar. Membangunkannya dari mimpi,
“Arsen, bangun,”
Raut wajah Ratu terlihat pertama kali, tertekuk khawatir, dan nampak tergesa. Seketika insting lelaki itu datang, bangun dengan cepat, mendudukkan tubuh sesaat,
“Ada apa?”
Ratu duduk di pinggir tempat tidur, “Sepertinya Asta dan Ravin demam, aku sudah memanggil dokter. Dimana kau menyimpan obat-obatannya? Aku perlu kompres dan penurun demam saja sekarang,” Suara wanita itu nampak bergetar dan tergesa.
“Sebentar dokter akan datang, aku tidak tahu harus melakukan apa lagi,” Nada cemas terdengar jelas, manik wanita itu nampak tidak fokus. “Badan mereka panas sekali, bagaimana ini?”
Arsen bergerak sigap menangkup wajah istrinya dan menyatukan kening mereka sesaat, “Ratu, tenang. Dalam kondisi seperti ini, kau tidak boleh panik,” Menyapu lembut rambut sang Edrea,
“Biar aku yang menyiapkan semuanya, kau bisa jaga mereka ‘kan?” pinta Arsen,
Seolah menunggu jawaban Ratu, dia ingin mendengar seperti apa respon wanita itu sekarang. Apa Ratu akan kembali seperti dulu, berpura-pura tak peduli, terfokus pada pekerjaan dan melupakan statusnya sebagai seorang ibu?
“Terimakasih, aku akan menunggu di kamar mereka,”
Manik Arsen melebar, saat melihat senyuman lega Ratu, jemari wanita itu menggenggam tangannya. Tidak bisa menahan diri, saat sang Edrea berniat untuk pergi,
“Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?” Pertanyaan terlontar cepat, menghentikan langkah Ratu. Wanita itu menoleh balik, dengan senyuman tipis di wajahnya.
“Kedua putraku lebih penting dari itu sekarang,” Memberikan jawaban tegas, sebelum akhirnya Ia berbalik dan keluar dari kamar.
Arsen hanya diam, menatap kepergian Ratu dengan jawaban yang pasti. Apa istrinya benar-benar berubah? Seluruh aura dingin Ratu perlahan hilang di dalam rumah ini, tempat yang wanita itu anggap sebagai neraka kedua mungkin.
Tersenyum tipis, apapun itu. Arsen mensyukurinya, tiap detik, menit perubahan Ratu. Dia benar-benar berharap kalau semua tak akan menghilang.