STORY 31 - Kesalahan Kami
***
Flashback On – 14 Februari tahun 2030
REKOMENDASI LAGU – 7!! Orange
Seberapa mahal pun rumah sakit yang Ratu kunjungi. Semua itu hanya akan menjadi mimpi belaka. Puluhan, ratusan juta rupiah yang Ia kumpulkan selama ini, tidak berarti apapun di hadapan sosok mungil itu.
Ravindra Abel Alterio, tanggal 14 Februari menghembuskan napas terakhir saat berada dalam pangkuan Ratu. Tepatnya pukul 20.15 pm, hujan membasahi kota Jakarta semakin deras disertai badai.
Tidak ada suara sirene mobil ambulans, Ratu hanya bisa berdiri, menatap tubuh mungil Ravin. Wanita itu menolak siapapun untuk menutupi seluruh tubuh putranya. Bahkan setelah menjalani perawatan dan pembersihan luka dimana-mana, Ratu masih bersikeras.
Tidak percaya, kalau putra bungsunya telah meninggal. Kedua manik amber itu nampak kosong, berdiri tegap, dalam ruang perawatan yang sepi. Tubuh basah kuyup oleh hujan tidak Ia pedulikan, sedingin apapun Ratu.
Sekarang, Ravin pasti merasa jauh lebih dingin. Salah satu tangan itu bergerak lagi untuk kesekian kali, menggapai pipi Ravin. Tubuh yang awalnya sudah dibasahi oleh hujan, kini semakin dingin. Sangat dingin.
Bahkan bibir Ravin pun perlahan membiru, kedua manik abu-abu yang selalu nampak berbinar saat menatapnya, tidak terbuka lagi. Suara tawa kecil putranya tidak terdengar.
Ruangan ini sekarang hening. Ratu menolak percaya! “Ibu akan membawamu ke rumah sakit termahal, Ravin. Karena itu, jangan pergi dulu,” Berujar lagi dan lagi, air mata Ratu seolah mengering.
Tidak lagi jatuh, meninggalkan rona merah yang sembab dan begitu kosong. “Ravin, Ibu mohon. Bangunlah,” Tidak lelah membangunkan tubuh mungil itu.
Sedikit pun harapan yang Ratu punya, dia tak boleh kehilangan Ravin. “Ibu, janji. Setelah ini, Ibu akan menjaga kalian berdua, Ibu akan selalu berdiri di sampingmu, berapa banyak pun permohonan yang kau inginkan. Semua akan Ibu kabulkan,”
Tapi berapa banyak Ia berharap. Nasi sudah menjadi bubur, tanpa mengetahui sedikit pun informasi mengenai pengendara mobil itu, Ratu justru membiarkannya kabur. Saat nyawa Ravin menghilang,
Tak ada lagi yang tersisa, selain rasa bersalah Ratu. Kalau saja, dia datang lebih cepat, kalau saja Ratu berusaha menghubungi Arsen sebelum itu, kalau saja dia tidak pergi ke Jogja. Kalau—kalau saja Ratu bisa menggantikan tempat Ravin.
Putranya bisa tetap tersenyum sekarang, saat tubuh itu hampir terjatuh. Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan kasar.
Ratu masih berdiri tanpa mengalihkan pandangannya, tidak melihat bagaimana kondisi Arsen kini nampak kacau setelah menerima panggilan dari rumah sakit.
Datang bersama Asta dan Rheandra. Ketiga orang itu ikut masuk ke dalam ruangan. Arsen menangkap Ratu lebih dulu, punggung dan tubuh Ratu nampak basah kuyup.
Namun saat pandangannya teralih ke arah tempat tidur. Jantung Arsen seolah lepas begitu saja. Tubuhnya membeku, dengan napas terengah, mencoba berjalan mendekat.
“Ra-Ravin,”
Rheandra reflek memeluk tubuh Asta yang ikut terkejut dan shock. Berdiri di posisi mereka, membiarkan Arsenio berjalan mendekati Ratu.
Dalam langkahnya, sang Rajendra tetap bertanya, “A-apa yang terjadi? Aku menerima panggilan kalau terjadi kecelakaan,” Suara Arsen tercekat saat melihat tubuh Ravin kini terbujur kaku dengan banyak perban di tubuh. “Putraku? I-ini benar-benar putra kita?”
Menolak untuk percaya, berdiri di samping Ratu. Kedua tangan Arsen gemetar, mencoba menyentuh tubuh Ravin.
Dingin, dan kaku. Kedua manik Ravin tertutup rapat, bibirnya membiru, wajah putranya nampak pucat pasi, bahkan beberapa bercak darah masih tersisa di sana.
Arsen tertawa kecil, “I-ini pasti hanya permainan Ravin dan Asta saja ‘kan? Mereka suka sekali bercanda, apalagi hari ini ulangtahun keduanya,”
Ratu masih tidak menjawab, bibirnya kelu. “Ravin, bangun. Ravin,” Menepuk pelan pipi Ravin, berharap kalau putranya mau sadar.
Asta yang sudah tidak tahan, dan shock, langsung melepas pelukan Rhea. Dengan air mata membasahi kedua pipi. “Ravin!!” Pemuda kecil itu berlari mendekati kembarannya.
“Huaa, Ravin kenapa? Kau kenapa luka-luka seperti ini?!” Berdiri di sisi seberang Ratu. Pandangan Asta menatap kearah ibunya. “Ibu!! Bukannya Ravin sudah bilang kalau Ibu yang akan menjemput?! Kenapa Ravin bisa luka-luka? Kenapa dia tidak bangun-bangun, huaaa!!”
Menangis dan mempertanyakan sang ibu. Ratu masih diam, “IBU!! RAVIN, KENAPA?!”
Dengan kedua manik kosong, pandangan Ratu menunduk. Tanpa menyadari Arsen kini bergerak memegang pundaknya kuat, memaksa Ratu agar menatap balik.
“Katakan apa yang terjadi? Bukannya kau sedang pergi ke luar kota sekarang? Jawab Ratu!!” Tidak bisa menahan diri lagi.
“Saat aku berniat menjemput Ravin, tiba-tiba ada mobil yang datang dan langsung menabraknya.” Hanya itu yang bisa Ia jelaskan. Karena tubuh Arsenio sudah lebih dulu berjalan mundur.
Menatap shock, dengan detak jantung terdengar makin kuat. “La-lalu bagaimana keadaan Ravin? Dia tidak apa-apa ‘kan?” Menatap Ravin lagi, “Kenapa tidak ada selang infus di sini? Putraku masih butuh perawatan!!”
“Kenapa dia tidak ada di ruangan UGD?! Apa para dokter itu bodoh?!” Bergerak menekan tombol emergency khusus pasien dengan cepat.
“Apa yang kalian lakukan dengan putraku?! Kalian harusnya membawa putraku ke ruang gawa darurat sekarang!!” Seolah lepas kendali.
Rheandra berjalan mendekati Arsenio, dengan isak tangis. Menggeleng kecil, “Tu-tuan Rakha, sepertinya Ravin-hiks- sudah tidak ada,” Berniat menyadarkan semua orang di sana.
***
Tapi tidak ada yang percaya. “HUAAA!!! TIDAK MAU!! TIDAK MAU!! ADIKKU TIDAK AKAN KEMANA-MANA!!” Asta yang lebih dulu menangis kencang, memeluk tubuh dingin Ravin.
“HUAAA!!” Tangisannya begitu menyayat hati. Shock terbesar yang pernah Ia alami, untuk pertama kali pemuda kecil itu merasa hancur. Semua rencana mereka yang seharusnya berjalan sempurna.
Hancur, dalam satu malam saja. “Ravin!! Ravin, bangun!! Huaaa, adikku, Ayah tolong bangunkan Ravin, kenapa dia tidak bangun juga?!” Menangis lagi, mempertanyakan pada sosok tegap yang masih diam membeku.
Saat beberapa suster mulai masuk ke dalam ruangan mereka. Asta menatap balik ibunya, “Ibu seharusnya sedang berbelanja kue dengan Ravin sekarang!! Bukan berada di rumah sakit!! Aku hanya ingin Ibu pergi bersama Ravin membeli kue, bukannya memberi hadiah seperti ini!!”
Berteriak tiada henti, melampiaskan semua rasa sakitnya. “Seharusnya aku tidak mengikuti rencana adikku, seharusnya aku menolak ikut dalam rencana Ravin!!!”
Mereka yang seharusnya meniup lilin bersama hari ini. Harus berada di rumah sakit. Menelan pahit dan rasa duka teramat dalam.
Di hari ulangtahun yang ke sepuluh. Ravin pergi, tanpa meninggalkan satu patah kata pun. “Ini ulang tahun terburukku!! Aku tidak butuh hadiah mahal, aku tidak akan minta pada Tuhan untuk menyatukan ayah dan ibu lagi,” Memeluk tubuh Ravin,
Tubuh Asta gemetar, seolah tidak mau lepas dari Ravin. Saat beberapa suster berusaha menjauhkan pemuda kecil itu untuk menutupi tubuh Ravin sepenuhnya.
“LEPAS!! AKU HANYA MAU ADIKKU SAJA!! KEMBALIKAN RAVIN, HUAAA!!!”
Arsen menangis, mengepal kedua tangan yang kini penuh dengan darah. Tangisan Asta sudah cukup menjadi tamparan telak untuknya,
Berusaha menerima kenyataan dan menjaga agar dirinya tidak gila. Kali ini semua harapan hancur seketika. Tuhan benar-benar menghancurkan hidup mereka dalam satu malam saja.
Berdiri tegap, saat melihat Asta yang masih berteriak, dan menangis. Tapi detik berikutnya karena terlalu shock, dan kaget,
Jantung Asta terasa sesak luar biasa, tangisannya terhenti, dalam pelukan suster. Beberapa menit kemudian,
“Asta!!” Tubuh mungil putra sulungnya jatuh pingsan karena shock, Arsen bergerak cepat menggendong tubuh Asta menuju sofa di dekat mereka. Ratu pun tersentak,
Wanita itu ikut bergerak mendekati Asta, “Suster tolong siapkan satu ruangan juga untuk putra saya,” Memanggil suster tak jauh dari posisi mereka, meski tubuhnya kini sudah ikut limbung, tapi Ratu berusaha kuat.
“Baik,”
Satu orang suster membawa sigap sebuah tempat tidur dorong, Arsen bergegas menempatkan Asta di sana. Menatap Rheandra yang masih berdiri di samping Ravin.
“Rheandra, tolong kau temani Asta-” Suara Arsen terhenti saat Ratu memotongnya cepat. “Biar aku saja yang menemani Asta,”
Tanpa menunggu persetujuan Arsen, Ratu langsung mendorong tempat tidur Asta berjalan menjauh dari ruangan. “Maafkan aku,” Dengan bisikan tipis, mengucap maaf,
Tak ada jawaban, Arsen hanya mengangguk kecil. Menatap Ratu lekat, “Aku akan mengurus semuanya, kau istirahat saja, Rheandra tolong temani Ratu juga.”
Seolah mengerti dengan kondisi Ratu. Arsen sama sekali tidak menanyakan apapun lagi. Menuduh ataupun menunjuk Ratu sebagai orang yang bersalah dengan kejadian ini. Lelaki itu mencoba tetap tegar, berusaha menerima kenyataan pahit. Meski dia sendiri, tidak bisa menahan murka karena penjelasan Ratu tadi.
“Rheandra, kau bisa keluar sekarang,” Meminta Rhea untuk pergi. Tapi wanita itu menggeleng cepat, “Akan lebih baik jika saya membantu anda, Tuan Rakha-”
“Tolong,” Siapa yang menyangka kalau pandangan Arsen akan berubah gelap, menatap dengan kosong. “Biarkan aku sendiri sekarang,” Memberi peringatan halus.
Rheandra tidak bisa memaksa lagi, mengangguk kecil. “Baiklah, jika anda perlu bantuan. Hubungi saya saja, saya akan berada di ruangan Asta bersama nyonya Ratu,”
Tak ada jawaban, Rheandra berjalan perlahan meninggalkan ruang. Pelan, dengan kedua manik menatap sayu ke arah Arsen dan Ravin.
Menghapus air mata yang mengalir di pipinya, ‘Maafkan ibu Rhea, Ravin.’
***
Sendiri dalam ruang, menahan dirinya agar tidak semakin hancur. Saat tidak ada siapapun yang melihat. Kedua manik Arsenio menatap lekat putranya.
Masih menolak untuk percaya, tapi Tuhan sudah berkehendak lain. Terakhir kali dia melihat senyuman lebar putra bungsunya tadi pagi. Sekarang,
Hanya ada tubuh yang terbujur kaku dan nampak pucat pasi. Tidak ada tanda-tanda Ravin untuk kembali,
“Maafkan, Ayah, Ravin. Maafkan, Ayah,”
Satu kalimat itu terucap. Beriringan dengan tubuh tegap yang perlahan luruh, terjatuh memegang tangan putranya.
Arsenio menangis sendiri dalam ruang, mengucap maaf berulang kali. “Maafkan, Ayah.”
Bahkan sebelum dia berhasil membuat putranya bahagia, Tuhan sudah lebih dulu memanggil Ravin. Di hari ulangtahunnya yang ke sepuluh.
Hadiah terburuk yang pernah ada.
“Maafkan, kami tidak bisa menjadi orangtua yang baik untukmu dan Asta.”
***
Seberapa mahal pun rumah sakit yang Ratu kunjungi. Semua itu hanya akan menjadi mimpi belaka. Puluhan, ratusan juta rupiah yang Ia kumpulkan selama ini, tidak berarti apapun di hadapan sosok mungil itu.
Ravindra Abel Alterio, tanggal 14 Februari menghembuskan napas terakhir saat berada dalam pangkuan Ratu. Tepatnya pukul 20.15 pm, hujan membasahi kota Jakarta semakin deras disertai badai.
Tidak ada suara sirene mobil ambulans, Ratu hanya bisa berdiri, menatap tubuh mungil Ravin. Wanita itu menolak siapapun untuk menutupi seluruh tubuh putranya. Bahkan setelah menjalani perawatan dan pembersihan luka dimana-mana, Ratu masih bersikeras.
Tidak percaya, kalau putra bungsunya telah meninggal. Kedua manik amber itu nampak kosong, berdiri tegap, dalam ruang perawatan yang sepi. Tubuh basah kuyup oleh hujan tidak Ia pedulikan, sedingin apapun Ratu.
Sekarang, Ravin pasti merasa jauh lebih dingin. Salah satu tangan itu bergerak lagi untuk kesekian kali, menggapai pipi Ravin. Tubuh yang awalnya sudah dibasahi oleh hujan, kini semakin dingin. Sangat dingin.
Bahkan bibir Ravin pun perlahan membiru, kedua manik abu-abu yang selalu nampak berbinar saat menatapnya, tidak terbuka lagi. Suara tawa kecil putranya tidak terdengar.
Ruangan ini sekarang hening. Ratu menolak percaya! “Ibu akan membawamu ke rumah sakit termahal, Ravin. Karena itu, jangan pergi dulu,” Berujar lagi dan lagi, air mata Ratu seolah mengering.
Tidak lagi jatuh, meninggalkan rona merah yang sembab dan begitu kosong. “Ravin, Ibu mohon. Bangunlah,” Tidak lelah membangunkan tubuh mungil itu.
Sedikit pun harapan yang Ratu punya, dia tak boleh kehilangan Ravin. “Ibu, janji. Setelah ini, Ibu akan menjaga kalian berdua, Ibu akan selalu berdiri di sampingmu, berapa banyak pun permohonan yang kau inginkan. Semua akan Ibu kabulkan,”
Tapi berapa banyak Ia berharap. Nasi sudah menjadi bubur, tanpa mengetahui sedikit pun informasi mengenai pengendara mobil itu, Ratu justru membiarkannya kabur. Saat nyawa Ravin menghilang,
Tak ada lagi yang tersisa, selain rasa bersalah Ratu. Kalau saja, dia datang lebih cepat, kalau saja Ratu berusaha menghubungi Arsen sebelum itu, kalau saja dia tidak pergi ke Jogja. Kalau—kalau saja Ratu bisa menggantikan tempat Ravin.
Putranya bisa tetap tersenyum sekarang, saat tubuh itu hampir terjatuh. Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan kasar.
Ratu masih berdiri tanpa mengalihkan pandangannya, tidak melihat bagaimana kondisi Arsen kini nampak kacau setelah menerima panggilan dari rumah sakit.
Datang bersama Asta dan Rheandra. Ketiga orang itu ikut masuk ke dalam ruangan. Arsen menangkap Ratu lebih dulu, punggung dan tubuh Ratu nampak basah kuyup.
Namun saat pandangannya teralih ke arah tempat tidur. Jantung Arsen seolah lepas begitu saja. Tubuhnya membeku, dengan napas terengah, mencoba berjalan mendekat.
“Ra-Ravin,”
Rheandra reflek memeluk tubuh Asta yang ikut terkejut dan shock. Berdiri di posisi mereka, membiarkan Arsenio berjalan mendekati Ratu.
Dalam langkahnya, sang Rajendra tetap bertanya, “A-apa yang terjadi? Aku menerima panggilan kalau terjadi kecelakaan,” Suara Arsen tercekat saat melihat tubuh Ravin kini terbujur kaku dengan banyak perban di tubuh. “Putraku? I-ini benar-benar putra kita?”
Menolak untuk percaya, berdiri di samping Ratu. Kedua tangan Arsen gemetar, mencoba menyentuh tubuh Ravin.
Dingin, dan kaku. Kedua manik Ravin tertutup rapat, bibirnya membiru, wajah putranya nampak pucat pasi, bahkan beberapa bercak darah masih tersisa di sana.
Arsen tertawa kecil, “I-ini pasti hanya permainan Ravin dan Asta saja ‘kan? Mereka suka sekali bercanda, apalagi hari ini ulangtahun keduanya,”
Ratu masih tidak menjawab, bibirnya kelu. “Ravin, bangun. Ravin,” Menepuk pelan pipi Ravin, berharap kalau putranya mau sadar.
Asta yang sudah tidak tahan, dan shock, langsung melepas pelukan Rhea. Dengan air mata membasahi kedua pipi. “Ravin!!” Pemuda kecil itu berlari mendekati kembarannya.
“Huaa, Ravin kenapa? Kau kenapa luka-luka seperti ini?!” Berdiri di sisi seberang Ratu. Pandangan Asta menatap kearah ibunya. “Ibu!! Bukannya Ravin sudah bilang kalau Ibu yang akan menjemput?! Kenapa Ravin bisa luka-luka? Kenapa dia tidak bangun-bangun, huaaa!!”
Menangis dan mempertanyakan sang ibu. Ratu masih diam, “IBU!! RAVIN, KENAPA?!”
Dengan kedua manik kosong, pandangan Ratu menunduk. Tanpa menyadari Arsen kini bergerak memegang pundaknya kuat, memaksa Ratu agar menatap balik.
“Katakan apa yang terjadi? Bukannya kau sedang pergi ke luar kota sekarang? Jawab Ratu!!” Tidak bisa menahan diri lagi.
“Saat aku berniat menjemput Ravin, tiba-tiba ada mobil yang datang dan langsung menabraknya.” Hanya itu yang bisa Ia jelaskan. Karena tubuh Arsenio sudah lebih dulu berjalan mundur.
Menatap shock, dengan detak jantung terdengar makin kuat. “La-lalu bagaimana keadaan Ravin? Dia tidak apa-apa ‘kan?” Menatap Ravin lagi, “Kenapa tidak ada selang infus di sini? Putraku masih butuh perawatan!!”
“Kenapa dia tidak ada di ruangan UGD?! Apa para dokter itu bodoh?!” Bergerak menekan tombol emergency khusus pasien dengan cepat.
“Apa yang kalian lakukan dengan putraku?! Kalian harusnya membawa putraku ke ruang gawa darurat sekarang!!” Seolah lepas kendali.
Rheandra berjalan mendekati Arsenio, dengan isak tangis. Menggeleng kecil, “Tu-tuan Rakha, sepertinya Ravin-hiks- sudah tidak ada,” Berniat menyadarkan semua orang di sana.
***
Tapi tidak ada yang percaya. “HUAAA!!! TIDAK MAU!! TIDAK MAU!! ADIKKU TIDAK AKAN KEMANA-MANA!!” Asta yang lebih dulu menangis kencang, memeluk tubuh dingin Ravin.
“HUAAA!!” Tangisannya begitu menyayat hati. Shock terbesar yang pernah Ia alami, untuk pertama kali pemuda kecil itu merasa hancur. Semua rencana mereka yang seharusnya berjalan sempurna.
Hancur, dalam satu malam saja. “Ravin!! Ravin, bangun!! Huaaa, adikku, Ayah tolong bangunkan Ravin, kenapa dia tidak bangun juga?!” Menangis lagi, mempertanyakan pada sosok tegap yang masih diam membeku.
Saat beberapa suster mulai masuk ke dalam ruangan mereka. Asta menatap balik ibunya, “Ibu seharusnya sedang berbelanja kue dengan Ravin sekarang!! Bukan berada di rumah sakit!! Aku hanya ingin Ibu pergi bersama Ravin membeli kue, bukannya memberi hadiah seperti ini!!”
Berteriak tiada henti, melampiaskan semua rasa sakitnya. “Seharusnya aku tidak mengikuti rencana adikku, seharusnya aku menolak ikut dalam rencana Ravin!!!”
Mereka yang seharusnya meniup lilin bersama hari ini. Harus berada di rumah sakit. Menelan pahit dan rasa duka teramat dalam.
Di hari ulangtahun yang ke sepuluh. Ravin pergi, tanpa meninggalkan satu patah kata pun. “Ini ulang tahun terburukku!! Aku tidak butuh hadiah mahal, aku tidak akan minta pada Tuhan untuk menyatukan ayah dan ibu lagi,” Memeluk tubuh Ravin,
Tubuh Asta gemetar, seolah tidak mau lepas dari Ravin. Saat beberapa suster berusaha menjauhkan pemuda kecil itu untuk menutupi tubuh Ravin sepenuhnya.
“LEPAS!! AKU HANYA MAU ADIKKU SAJA!! KEMBALIKAN RAVIN, HUAAA!!!”
Arsen menangis, mengepal kedua tangan yang kini penuh dengan darah. Tangisan Asta sudah cukup menjadi tamparan telak untuknya,
Berusaha menerima kenyataan dan menjaga agar dirinya tidak gila. Kali ini semua harapan hancur seketika. Tuhan benar-benar menghancurkan hidup mereka dalam satu malam saja.
Berdiri tegap, saat melihat Asta yang masih berteriak, dan menangis. Tapi detik berikutnya karena terlalu shock, dan kaget,
Jantung Asta terasa sesak luar biasa, tangisannya terhenti, dalam pelukan suster. Beberapa menit kemudian,
“Asta!!” Tubuh mungil putra sulungnya jatuh pingsan karena shock, Arsen bergerak cepat menggendong tubuh Asta menuju sofa di dekat mereka. Ratu pun tersentak,
Wanita itu ikut bergerak mendekati Asta, “Suster tolong siapkan satu ruangan juga untuk putra saya,” Memanggil suster tak jauh dari posisi mereka, meski tubuhnya kini sudah ikut limbung, tapi Ratu berusaha kuat.
“Baik,”
Satu orang suster membawa sigap sebuah tempat tidur dorong, Arsen bergegas menempatkan Asta di sana. Menatap Rheandra yang masih berdiri di samping Ravin.
“Rheandra, tolong kau temani Asta-” Suara Arsen terhenti saat Ratu memotongnya cepat. “Biar aku saja yang menemani Asta,”
Tanpa menunggu persetujuan Arsen, Ratu langsung mendorong tempat tidur Asta berjalan menjauh dari ruangan. “Maafkan aku,” Dengan bisikan tipis, mengucap maaf,
Tak ada jawaban, Arsen hanya mengangguk kecil. Menatap Ratu lekat, “Aku akan mengurus semuanya, kau istirahat saja, Rheandra tolong temani Ratu juga.”
Seolah mengerti dengan kondisi Ratu. Arsen sama sekali tidak menanyakan apapun lagi. Menuduh ataupun menunjuk Ratu sebagai orang yang bersalah dengan kejadian ini. Lelaki itu mencoba tetap tegar, berusaha menerima kenyataan pahit. Meski dia sendiri, tidak bisa menahan murka karena penjelasan Ratu tadi.
“Rheandra, kau bisa keluar sekarang,” Meminta Rhea untuk pergi. Tapi wanita itu menggeleng cepat, “Akan lebih baik jika saya membantu anda, Tuan Rakha-”
“Tolong,” Siapa yang menyangka kalau pandangan Arsen akan berubah gelap, menatap dengan kosong. “Biarkan aku sendiri sekarang,” Memberi peringatan halus.
Rheandra tidak bisa memaksa lagi, mengangguk kecil. “Baiklah, jika anda perlu bantuan. Hubungi saya saja, saya akan berada di ruangan Asta bersama nyonya Ratu,”
Tak ada jawaban, Rheandra berjalan perlahan meninggalkan ruang. Pelan, dengan kedua manik menatap sayu ke arah Arsen dan Ravin.
Menghapus air mata yang mengalir di pipinya, ‘Maafkan ibu Rhea, Ravin.’
***
Sendiri dalam ruang, menahan dirinya agar tidak semakin hancur. Saat tidak ada siapapun yang melihat. Kedua manik Arsenio menatap lekat putranya.
Masih menolak untuk percaya, tapi Tuhan sudah berkehendak lain. Terakhir kali dia melihat senyuman lebar putra bungsunya tadi pagi. Sekarang,
Hanya ada tubuh yang terbujur kaku dan nampak pucat pasi. Tidak ada tanda-tanda Ravin untuk kembali,
“Maafkan, Ayah, Ravin. Maafkan, Ayah,”
Satu kalimat itu terucap. Beriringan dengan tubuh tegap yang perlahan luruh, terjatuh memegang tangan putranya. Arsenio menangis sendiri dalam ruang, mengucap maaf berulang kali. “Maafkan, Ayah.”
Bahkan sebelum dia berhasil membuat putranya bahagia, Tuhan sudah lebih dulu memanggil Ravin. Di hari ulangtahunnya yang ke sepuluh.
Hadiah terburuk yang pernah ada.
“Maafkan kami tidak bisa menjadi orangtua yang baik untukmu dan Asta.”
Mereka telah gagal menjadi orangtua.