[ 32 - Pasrah ]

892 Words
STORY 32 - Pasrah *** Tahun 2040 – Masa kini – Gubuk tak terpakai REKOMENDASI LAGU – 7!! Orange Ratu mengingat semuanya, kesalahan yang terjadi dulu. Seberapa banyak korban silih berganti datang dan menghilang dalam hidupnya. Baik Hanum, Vanessa, ataupun Ravin. Sejak awal, ini adalah kesalahan Ratu. Masih duduk di atas tanah, basah oleh hujan, kotor oleh noda. Tangisan Ratu terhenti, merasakan dingin menusuk tulang. Terisak tipis, “Ini salahku, kalau saja saat itu wanita ini bisa menurunkan sedikit saja keras kepala dan harga dirinya, semua tidak akan terjadi.” gumam Ratu penuh penyesalan. Dia masih bisa mengingat jelas, tepat setelah kematian Ravin. Asta mengalami trauma berat selama beberapa bulan, pemuda kecil itu kadang menangis sendiri, berteriak memanggil Ravin, pingsan bahkan harus mengambil libur karena shock berhari-hari. Seberapa hancur hidup Asta saat tahu adik yang begitu Ia sayangi pergi menyusul tante Hanum, dan Vanessa. Bahkan sebelum dia sempat mengucapkan apapun, Betapa besar amarah dan rasa benci Asta meningkat saat tahu bahwa sang ibu juga ikut berada di tempat kejadian, terlambat datang dan tidak bisa menyelamatkan Ravin. Semua amarah Asta akhirnya tertuju pada Ratu. Pemuda kecil itu selalu mengamuk saat melihat ibunya, Ratu pun sebenarnya tidak mempermasalahkan itu. Dia mengaku salah, karena kelalaiannya, Ravin harus pergi. Ratu pantas mendapatkan semua amarah Asta. Tidak apa, dia siap. Walau harus memerlukan waktu selamanya. Perubahan sikap Asta begitu drastis Ia rasakan, Kali ini, putranya seolah semakin terbawa ke dalam lubang kegelapan. Mendorong Ratu mundur, bahkan mengungkapkan dengan jelas kebenciannya. “Uhk,” Air mata kembali turun, terasa begitu sesak. Semua kejadian malam ini membuat Ratu semakin takut untuk bergerak ke depan. Apalagi sebenarnya yang dia punya? Hanya kekayaan yang tidak bisa mengisi kekosongannya, tak ada keluarga ataupun kasih sayang dari mereka. Ratu sendiri, menahan rasa sakit dan tangis. Apalagi saat mendengar pernikahan Arsen dilaksanakan beberapa tahun setelah kematian Ravin. Asta membutuhkan kasih sayang seorang ibu selama 24 akibat shock, dan Arsen terpaksa mengambil keputusan cepat. Melihat seberapa benci pemuda kecil itu saat bertemu dengan Ratu, sudah cukup menjadi pertanda bahwa harapan mereka untuk kembali rujuk tidak akan terjadi. Ini hukuman Ratu, dan dia bilang ‘kan kalau akan siap menerimanya. Semua, bahkan walau Asta berusaha mendorongnya pergi, dan Arsen mengambil pilihannya pada Rheandra. Ratu harus siap- “Uhk, aku tidak tahu-hiks,” Menunduk dengan isakan, untuk kesekian kali. Ratu tidak mengerti kenapa semua akan berakhir sesakit ini. Kekayaan yang Ia kumpulkan, relasi, klien terbaik itu bahkan tidak bisa menyelamatkan keluarga kecilnya. Harta hanya Ratu gunakan sebagai pajangan belaka, tanpa memiliki makna di dalamnya. Semua terasa kosong sekarang. Kepintaran Ratu seolah hilang saat itu juga. “Aku harus apa sekarang?” bisiknya lagi, Terlambat. Semua sudah terlanjur berjalan. Di saat Ratu mulai berubah, semua orang pergi menjauh. Jadi untuk apa dia bertahan sekarang? Perlahan berdiri dari posisinya tadi, meski sedikit terhuyung, dengan kedua manik yang nampak memerah. Tak peduli sebasah apa tubuh itu. Ratu hanya berjalan, Mencoba untuk tetap bertahan dan kuat. Sebesar apapun halangan dan ujian yang Tuhan berikan. Dia harus tetap kuat. Menggigit bibir bawah sekuat mungkin, menahan tangisan. Dalam rintik hujan yang perlahan mereda, wanita itu berjalan membelah malam. Menuju mobil yang masih terparkir tak jauh dari posisinya tadi. Setelah ini pun, dia tidak tahu harus melakukan apa. ‘Ah, aku tidak peduli lagi,’ Jika sekarang pun Tuhan mengambil nyawanya, Ratu tidak akan keberatan sama sekali. *** Kilas balik masa lalu mendatangi Ratu berulang kali. Sosok wanita yang egois, kaku, dingin bahkan untuk mengucapkan kalimat maaf, dan cinta saja tidak bisa. Penyesalan itu Ia rasakan perlahan. Tahun demi tahun hidup hanya untuk bekerja. Dalam gelimang harta, sendirian. Tanpa penyemangat. Banyak penyesalan yang datang saat semua orang perlahan menghilang. “Kau membunuh adikku!!” Ucapan Asta terngiang dalam pikiran Ratu. “Kalau saja kau mau sedikit saja memberikan waktu pada Ravin, dia tidak mungkin meninggal!! Kalau saja kau tidak terlambat menjemput adikku!!” Sosok Ravin yang penyabar, dan selalu menyukai Ratu seperti apapun keadaan sang ibu. Malam itu, tepat saat usia Ravin 10 tahun, pemuda kecil itu percaya kalau Ratu masih menyayangi mereka. Meminta Ratu untuk menjemputnya sepulang dari rumah teman. Menunggu Ratu di halte kecil, hujan deras membasahi Jakarta. “Kita ada perjalanan ke luar kota hari ini. Siapkan dirimu, Ratu.” Satu permintaan mendadak sang kakak bertepatan dengan sebuah pesan yang datang berulang kali dari Arsen. Ratu mengabaikannya. Ia justru pergi dari Jakarta, tanpa mengetahui bahwa Ravin tetap menunggu sang ibu datang menjemput. “Ibu, membunuh adikku!! Kembalikan Ravin, huaaaa!!” Meskipun Arsen mengatakan bahwa ini bukan salahnya, tapi tetap saja. Satu detik waktu sangat berharga bagi nyawa Ravin. Jika saja dia tidak terlambat datang, atau membatalkan diri pergi dari Jakarta. Saat ini Ravin pasti masih ada di sampingnya. Kalau saja Ratu menghubungi Arsen saat itu, kalau saja Tuhan memberinya harapan untuk mengubah waktu. “PEMBUNUH!!” **" Pukul 01.00am “Arghh!!!” Teriakan Ratu terdengar kencang, dengan tubuh penuh keringat. Wanita itu langsung bangun dari tidurnya. Lagi-lagi mimpi buruk datang, membuat Ia terjaga bahkan hingga pagi. Satu ingatan yang begitu panjang, membuat Ratu semakin takut untuk tidur dalam waktu lama. Traumanya semakin besar saat Asta mengucapkan kalimat itu, Dia kehilangan satu putranya lagi. “Jangan pernah temui aku lagi!!” Sosok itu benar-benar membencinya sekarang. “Uhk, apa yang bisa kulakukan sekarang?” Tanpa sadar menunduk, tak peduli seberapa sakit kepala, dan tubuhnya. Ratu kembali menangis, tanpa bisa bersandar pada siapapun sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD