[ 45 - Keluarga ]

1687 Words
STORY 45 - Keluarga *** Tahun 2025 – Masa kini REKOMENDASI LAGU – Let Me Down Slowly – Alec Bejamin Belum satu hari rasanya Asta dan Ravin sembuh dari demam mereka. Ratu hanya melewatkan beberapa hari waktu kerjanya untuk merawat kedua putra mereka secara langsung, walau Rheandra bersikeras meminta Ratu untuk bekerja dan membiarkan dia merawat Asta, Ravin. Ratu tetap tidak mau, alhasil selama dua hari lebih mereka berdua menjaga kedua anak kecil itu. Dalam sunyi dan diam, Rheandra terfokus menjaga agar Asta dan Ravin tidak berkeringat sementara Ratu memperhatikan semua gerak-gerik wanita itu. Sembari mengecek setiap hari berapa suhu tubuh kedua putranya. Hari ini, tepat pukul empat sore, hari ketiga dia merawat Asta, Ravin. Kondisi keduanya sudah cukup membaik, Ratu mendapat undangan makan malam yang setiap satu bulan ditujukan untuknya. Menatap layar handphone dengan seksama, kedua manik amber itu nampak dingin. Tidak menyadari kedatangan Arsen yang baru saja selesai menutup toko bunganya lebih awal hari ini. Pesan itu dikirim oleh sang kakak, Davaron. Tentu saja dengan kalimat singkat dan dingin. Kali ini entah kenapa Ratu seolah bisa menebak topik makan malam mereka. Seperti biasa, dia tetap saja merasa tak nyaman berada ditengah-tengah keluarganya. Mendesah sekilas, mengetik sekilas, membalas pesan lelaki itu. Duduk di ruang tamu sendiri, dengan raut lelah, Ia bersandar pada sofa. Saat manik itu menelisik ruang tamu, barulah sang Edrea sadar, “Arsen,” Sang suami sudah duduk di sampingnya sejak tadi, memperhatikan gerak-gerik Ratu secara diam. Lelaki itu tersenyum tipis, “Ada apa, wajahmu lelah sekali karena tidak tidur sejak kemarin malam,” ujarnya bergerak mendekatkan diri. Saat bibir Ratu hendak bicara, tapi wanita itu kembali bungkam. “Tidak ada,” jawab Ratu singkat, Memperhatikan handphone di tangan Ratu, Arsen bisa menebak secara langsung. “Apa karena undangan acara makan malam bulan ini?” tanya Arsen telak. Tubuh Ratu menegang sekilas, lama dia terdiam. Sampai akhirnya mengangguk kecil. “Ya, aku harus datang ke sana lagi.” Acara makan malam tanpa kehadiran Arsenio sebagai suaminya. Sejak awal, ayah dan ibunya memang tidak pernah menginginkan kehadiran lelaki itu dalam acara keluarga mereka. Makan malam khusus yang akan membicarakan seberapa banyak keburukan keluarga kecil Ratu dan pujian bagi keluarga Davaron. Dia dan Davaron memang sudah sama-sama berkeluarga. Tapi anehnya, anak-anak mereka berdua hampir tidak pernah bermain bersama. Bertemu pun jarang, Asta dan Ravin seolah tersingkir dalam keluarga Ratu sendiri. Tak masalah, Ratu justru merasa senang karena Asta, Ravin dan Arsen tidak perlu mendengar ocehan buruk ayah, ibu dan kakaknya setiap bulan. Hal menyakitkan hati, cukup Ratu saja yang mendengar. “Kapan acaranya?” tanya Arsen lagi, “Hari ini, dan seperti biasa hanya aku saja yang boleh hadir,” jelas Ratu singkat. “Kau bisa menjaga Asta dan Ravin malam ini ‘kan?” lanjutnya. Sejak beberapa hari lalu, tepatnya saat Ratu menangis di depan Arsen untuk pertama kali wanita itu mengungkapkan kesalahannya. Entah kenapa Ratu merasa sangat nyaman, berbicara langsung di depan Arsen. Meski perlahan, tapi pelan-pelan. Hal yang menggumpal dan tidak pernah Ia katakan pada lelaki itu keluar dengan sendirinya. Seperti saat ini, “Tentu saja,” Tanpa menanyakan atau memperlihat emosi berlebih. Arsen menjawab permintaan Ratu dengan jelas. Lelaki itu tetap tersenyum, bergerak mendekat, “Kalau kau lelah, segera pulang dan ceritakan semua padaku. Tak ada salahnya bersandar pada suamimu sendiri,” jelas sang Rajendra lembut. Hal yang sanggup membuat hati Ratu kembali merasa tenang, tanpa Ia sadari kepala itu bergerak menyandar pada pundak sang suami. “Bahkan semenit pun aku tidak tahan berada di sana,” ungkap wanita itu jujur. Arsen mendengus geli, “Kalau begitu, cukup lima menit saja duduk di ruang makan, setelah itu pulanglah, atau kau ingin aku menjemputmu langsung?” ucapnya penuh canda. Ratu terkekeh tanpa sadar, “Bisa-bisa mereka justru melarangku ke sana lagi,” “Bukannya itu bagus,” Kali ini tidak bisa menahan tawanya, wajah yang selalu dingin itu kini terkekeh kecil, dan Arsen melihat dengan jelas. Bagaimana wajah cantik itu tersenyum, Siapa yang menyangka kalau hubungan mereka akan bertambah baik selang beberapa hari saja? Ratu perlahan berani membuka diri, bahkan tersenyum di hadapan Arsen. “Dulu kau pernah bilang ‘kan, kenapa aku bisa memilihmu begitu saja dan menerima pernikahan kita?” tanya lelaki itu tiba-tiba, mengalihkan pembicaraan mereka. Tawa Ratu terhenti, saat manik amber itu menatap balik Arsen. Sang suami justru lekat melihat balik, dengan senyuman tipis, tangan besar Arsen bergerak menyentuh pipi Ratu. “Kenapa?” bisik sang Edrea pelan, Saat tanpa sadar jarak mereka perlahan semakin dekat, “Karena pertama kali aku bertemu denganmu,” Hanya tersisa beberapa cm jarak saja, Suara barang terjatuh mengagetkan keduanya, Arsen reflek menarik tubuh menjauh, sementara Ratu mengerjap polos. Pandangan mereka terfokus di luar ruang tamu, seorang wanita datang dan berdiri diambang pintu. “Maaf mengganggu, saya perlu beberapa kompress dingin lagi, apa Tuan Arsen bisa mengambilkannya?” pinta Rheandra. Dengan senyuman tipis di wajah, Arsen langsung bergegas bangun dari posisinya. Menghampiri Rhea, “Aku menaruhnya di dapur, akan segera kuambilkan.” “Baik,” Arsen menghilang dari ruang tamu, menyisakan mereka berdua saja. Ratu yang masih duduk di tempatnya dan Rhea di depan sana. Berdiri dengan senyum di wajah, “Sepertinya hubungan anda dan tuan Arsen semakin membaik, Nyonya,” Pernyataan yang santai terlontar, entah kenapa setelah Ratu merubah semua sikapnya. Perlahan dia mulai melihat tujuan utama Rheandra. Perlu waktu bertahun-tahun bagi Ratu menyadari itu, Alasan sang Daffy bekerja di tempat ini. “Tentu saja, semua itu berkat doa-mu, Rhea. Terimakasih,” Bisa Ia lihat bagaimana wajah itu tertekuk singkat, “Tidak masalah, Nyonya. Kalau begitu saya permisi dulu,” Tak ingin berlama-lama, Rhea segera pergi menyusul Arsen. Meninggalkan Ratu sendiri, sosok yang masih melihat gerak-gerik wanita itu dengan jelas, ada beberapa misteri yang harus segera Ia pecahkan. Jadi dia memilih untuk menahan diri dan diam. Menendang wanita itu pergi dari sini bukanlah jalan keluar bagi Ratu. Sebelum dia menemukan sedikit saja titik cerah, tentang kematian Ravin saat itu, Meski belum terjadi, Ratu harus menemukan sang pelaku sebelum mereka melakukan rencananya. *** Kediaman Ragnala – Pukul 20.00 pm Untuk pertama kalinya wanita itu datang terlambat, jika dulu Ratulah yang selalu datang paling awal, sebelum ayah, ibu, bahkan Davaron. Hal yang Ia lihat pertama kali, masuk ke dalam ruang makan adalah tatapan tajam semua keluarganya, mereka kompak mengalihkan pandangan. “Kau terlambat, kami sudah menunggu lama,” tukas Davaron lebih dulu. Bukannya menanyakan keadaan Ratu, sang Edrea hanya tersenyum tipis, berjalan dan duduk di tempat yang selalu Ia tempati. Sendiri, sementara Davaron duduk di dekat sang ibu. “Maaf, ada beberapa keperluan yang harus kuurus,” jawab Ratu singkat, dia tidak berbohong. Karena sebelum pergi, Ravin dan Asta yang masih sedikit demam merengek saat dia berniat meninggalkan rumah. Sang ibu mendengus sinis, “Urusan apa sampai kau lebih mendahulukan itu dibandingkan makan malam bersama keluargamu? Ibu, hanya memintamu untuk datang satu bulan sekali, tidak susah ‘kan?” Tersenyum tipis, “Urusan cucu Ibu, bukannya kemarin aku sudah memberitahu kakak mengenai itu?” Davaron masih tersenyum sinis, “Oh, gara-gara kedua putramu sakit. Kau sampai melupakan dan membuang pekerjaan kantor? Tidak professional sekali,” Dengan kedua tangan bersidekap di depan d**a, Saat makanan datang, Ratu hanya terfokus pada sendok, garpu dan sapu tangan khusus untuknya. “Kukira ibu dan ayah akan menanyakan keadaan Asta dan Ravin lebih dulu,” tukas Ratu santai. “Untuk apa? Yang terpenting mereka sudah membaik ‘kan?” Ibunya mendengus lagi, seolah tidak peduli. Jawaban itu terdengar pasti, “Profesional atau tidak biar aku yang menentukan sendiri, Kak. Bukannya beberapa hari lalu Kakak juga hampir empat hari tidak masuk karena anak kakak sakit? Jadi apa bedanya denganku?” Pernyataan yang telak sanggup membuat Davaron bungkam sesaat, pandangan lelaki itu menatap sang ibu. Bukannya balik menjawab, kali ini justru wanita paruh baya itu yang membela kakaknya. “Davaron sudah memberikan banyak kemajuan pada perusahaan Ragnala, jadi wajar kalau dia bisa mengambil cuti banyak. Apalagi untuk cucu Ibu,” Tersenyum tipis, “Lalu Asta dan Ravin itu bukan cucu, Ibu? Kakak memang memberi banyak kemajuan bagi perusahaan, tapi aku juga. Jangan lupa kalau omset kita menyentuh milyaran beberapa tahun ini karena promosi dan klient siapa?” Memberi banyak kemajuan? Ratu rasanya ingin tertawa, jika sebenarnya selama ini Ratu-lah yang lebih banyak bekerja mencari proyek, client, mengurus keuangan dan meningkatkan produktivitas perusahaan mereka. Davaron hanya bertugas sebagai pajangan, Berkomunikasi dengan klient yang Ratu dapatkan, tinggal menjalankan dan menjadi penonton proyek. Bertindak sebagai bos yang sebenarnya, tanpa ada niat untuk bekerja keras. Memanfaatkan keinginan Ratu untuk menguasai perusahaan Ragnala. Tapi sekarang, Ratu sudah cukup lelah. Ayah yang sejak tadi melihat pertengkaran mereka kini angkat bicara. “Jaga bicaramu, Ratu. Dia kakak dan ibumu,” Mengendikkan bahu santai, “Aku hanya mengungkapkan kebenaran.” Wanita paruh baya itu seolah tertegun, melihat sikap Ratu yang tiba-tiba berubah menjadi pembantah. Sosok yang biasanya hanya diam dan menerima ucapan mereka sekarang mencoba melawan? “Kau, sejak kapan berani melawan ucapan orangtuamu?” Mulai merasa kesal, Ratu masih tersenyum, “Mengungkapkan fakta bukan berarti aku melawan ucapan Ibu. Tidak ada salahnya ‘kan,” “Ratu!!” Ibunya berteriak sembari menggebrak meja, Davarin bergerak menenangkan wanita di sampingnya. “Jaga ucapanmu, Ratu! Jika sikapmu seperti ini, lebih baik kau tidak perlu lagi bersaing denganku!” “Mengabaikan pekerjaan demi hal kecil,” Davaron tersenyum remeh, “Lebih baik kau menurunkan pangkatmu dan bekerja sebagai pegawai biasa saja!” Manik amber Ratu menatap datar Dava, kali ini dia masih bisa tersenyum. Jika biasanya saat Davaron memberi ancaman itu pada Ratu. Dia terpaksa bungkam dan tidak bisa melawan. “Baiklah, jika memang itu keinginanmu, Kak.” Satu jawaban itu sanggup membuat semua keluarganya tertegun shock, manik mereke melebar kompak. Apa mereka salah dengar? Ratu tiba-tiba tidak tertarik lagi dengan kursi jabatannya? “A-apa kau bilang?! Kakak, tidak bercanda! Lebih baik kau pertimbangkan lagi ucapan Kakak tadi,” “Tidak usah, Kak.” Manik Ratu menatap ke arah lain, kali ini memulai acara makan malamnya dengan santai. “Aku tak begitu tertarik lagi dengan jabatan itu,” Kalimat terakhir Ratu sanggup membuat sang ayah menatap kaget. Menolak untuk percaya, wanita yang selama ini memiliki ambisi setinggi gunung kini menyerah begitu saja?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD