Bab tiga delapan

1169 Words

"Ajarin apa?" Mas Ubay menunduk malu. Wajahnya memerah. "Kalau aku ceritakan kamu jangan ketawa apalagi cerita-cerita pada, Lea." ujarnya pelan. Rasa penasaran yang membuncah membuatku sanggup berjanji didepannya. "Aku masih perjaka." Kalimat itu terlontar dari bibir laki-laki yang sudah menjadi suamiku itu. Mataku membulat sempurna. "Jangan bohong! Kamu udah nikah kan sebelumnya? Lalu kalian ngapain aja dikamar berdua? Main ular tangga?" Antara ingin tahu dan ingin tertawa mendengar pengakuan Mas Ubay. "Janji kamu bisa dipegang kan?" Aku mengangguk cepat. Apa laki-laki yang menikahiku ini punya kelainan? Atau jangan-jangan dia impoten? Oh tidak! Semoga saja bukan. "Sejak menikah dengan Aina, kami tidur terpisah. Awalnya Aina bilang belum siap jika nanti dia hamil." "Hah? Kan ka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD