Aku sampai di rumah Mama setelah sebelumnya menunggu Mas Ubay pulang dari kantor. Mendengarku menangis, lelaki itu langsung membatalkan semua agendanya hari ini. Dan meluncur bersamaku ke rumah duka. Aku terisak, melihat jasad yang sudah dimandikan itu terbujur kaku di tengah rumah dan siap untuk di kebumikan. Bayangan Mama yang begitu perhatian padaku bahkan lebih menyayangiku dari pada anaknya sendiri melintasi begitu saja. Membuat air mataku kian deras mengalir. "Maafin Mbak Tety, kalau ada salah ya, Al," ujar Tante Irma sambil memelukku. "Mama orang baik, Tante. Sangat baik, Mama sudah seperti Mama kandungku sendiri. Mama tak punya salah, InsyaAllah," sahutku dengan suara bergetar menahan tangis. "Sejak dia tau kamu dan Gunawan bercerai, Mbak Tety mulai jarang mau makan. Setiap ha

