Plak!
Mas Gunawan memegang pipinya yang aku tampar.
"Seharusnya kamu itu tahu diri, Mas! Aku bertahan dengan kamu yang punya kekurangan! Kamu itu man ...!"
"Alina!" Pekik Mas Gunawan membuat ucapanku mengantung di udara.
"Apa, Mas! Kamu malu? Kamu mau menampar aku balik? Silahkan!" tantangku. Akal sehatku seakan hilang melihat kenyataan didepan mata. Mas Gunawan menatap mataku nyalang, laki-laki itu berjalan kian mendekat tanpa memutuskan pandangan ke mataku, hingga jarak kami tinggal beberapa senti saja.
"Puas kamu mempermalukan diri sendiri!" lirihnya dengan menekan setiap kata. Kemudian berjalan ke belakangku.
Laki-laki itu meraih tangan perempuan berkerudung yang duduk menunduk. Lalu berjalan melewatiku dengan tangan yang saling menyatu. Aku terpaku, apa yang kulihat seakan sebuah mimpi buruk yang mampir dalam tidur tanpa do'aku semalam. Bayangan Mas Gunawan akan menarik tanganku lalu memohon ampunan sambil bersujud di kaki, Tapi semua hanya mimpi belaka. Aku terduduk lemas.
"Bangun, Alina!" dengan cepat Lea menangkap tanganku lalu menarikku dari tempat yang mulai dikerumuni orang-orang itu. Pandangan mata mereka penuh iba, seakan aku seorang pesakitan yang dibuang saat membutuhkan bantuan, sangat menyedihkan.
Wajahku sudah basah oleh air mata, tak menyangka Mas Gunawan malah memilih wanita itu. Apa karena dia memakai kerudung? Sedangkan aku tidak?kalau dia menyukai wanita seperti itu, kenapa dia tak mengajariku? Aku tergugu saat tubuh ini sudah berada dalam mobil. Mobil Mas Gunawan yang tadi parkir di samping kami, sudah tak ada. jelas saja laki-laki itu sudah kabur duluan dengan selingkuhannya.
"Sudah Lin! penting amat nangisin laki-laki! kayak dia yang paling penting aja di dunia ini!" ketus Lea.
Aku tak menjawab, bagaimanapun, munafik jika aku tak sedih, jika tak sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh suamiku sendiri.
"Kemana?" tanya Lea.
"Kerumah Mama." jawabku singkat. Tanpa kata lagi, Lea melajukan mobil menuju kediaman Mama Mas Gunawan. Mama harus tahu apa yang dilakukan anaknya.
Sejam kemudian aku sampai. Lea memutuskan untuk tetap di mobil. Setengah berlari aku menuju rumah. Mengetuk pintu dengan tergesa. Pintu terbuka lebar, sosok Mama muncul dengan wajah heran.
"Ya Allah, ada apa, Nak?"
Aku langsung menghambur ke pelukan Mama. Mama mengelus punggungku tanpa sibuk bertanya, Mama selalu menjadi tempat ternyaman untukku melepas resah. Entah apa jadinya jika aku berpisah dengan Mas Gunawan. Apakah aku akan sanggup jauh dari Mama.
"Hayo, kita masuk dulu." Mama membawaku ke sofa. Masih dengan isak tangis aku duduk sementara Mama berlalu ke belakang lalu kembali dengan membawa secangkir teh hangat.
"Minum dulu biar tenang." titah Mama.
Aku menerima pemberian Mama lalu menyesap hingga tandas. Setelah cukup tenang aku menceritakan semuanya pada Mama. Memperlihatkan rekaman yang tadi dibuat Lea.
Mama menghela nafas panjang, ketika baru saja selesai memutar ulang video itu.
"Alin, mau cerai saja dengan Mas Gunawan, Ma." kataku dengan suara bergetar. Berat untuk menjalani diawal, tapi aku rasanya tak akan mampu tetap bertahan. Sementara perlakuan Mas Gunawan sangat menyakiti hatiku, lebih sakit dari pada saat dulu aku ditinggalkan begitu saja oleh temannya yang menjadi calon suamiku.
"Alina, sebenarnya sedari dulu Mama ingin mengatakan pada kamu, Nak. Tapi, Mama tak tega. Kamu sudah seperti anak Mama sendiri. Mama sangat sayang sama kamu, sama seperti Mama menyayangi Gunawan."
Mama menjeda ucapan. Dadaku berdebar kencang, apa yang akan Mama katakan pasti sebuah kenyataan yang menyakitkan. Apakah Mama sudah tau dengan perempuan itu?
"Mama sudah tau semua?"
Mama mengangguk pelan. Aku kembali tergugu, selama ini aku dibodohi oleh Mama dan Mas Gunawan.
"Mama tega pada Alina! Mama ga sayang sama Alina! Mama pembohong! Mama membiarkan Mas Gunawan punya selingkuhan, Mama jahat!"
"Alina! Tunggu dulu, Nak! Mama belum selesai." Mama berusaha mengejarku yang sudah berlari keluar.
Tangisku tak terbendung lagi, lelah, kepala terasa berdenyut hebat.
"Lu hancur banget! Kita kerumah gw dulu, ya.".
Aku bergeming tak menjawab perkataan Lea. Memicingkan mata sambil menyenderkan kepala, sementara air mata masih terus setia mengalir.
Menjelang magrib kami sampai dirumah Lea. Aku sempat tertidur saking lelahnya. Rumah besar Lea tampak sangat menawan. Lea turun terlebih dahulu. Aku mengikuti dari belakang. Perempuan yang memakai celana jeans yang sengaja di robek bagian depan itu berjalan santai.
"Hayo! Nanti gw ajak lu jalan-jalan biar ga bete. Mumpung ada si Ubay dirumah." Katanya sambil terus berjalan. Entah siapa Ubay itu aku pun tak tahu.
"Bay, temenin Alina sebentar, gw mau ganti baju."
Aku tercengang. Dengan santai Lea naik ke lantai dua rumahnya, sedangkan aku masih berdiri dibawah tak tau harus apa. Lelaki yang disebut Ubay tersenyum. Penampilannya yang sangat jauh beda dengan Lea sedikit membuatku lega. Lelaki itu memakai baju Koko dan peci putih, ditangannya ada buku kecil Sepertinya sebuah mushaf.
"Mbak, temannya Mbak Lea, ya? Silahkan duduk, biar saya siapkan minuman."
"Makasih, Mas. Ga usah repot-repot." Jawabku canggung.
"Saya Baihaqi Dzikri Ashabi Panggil saja Ubay, Abangnya Lea."
Astaga Lea, sama Abang sendiri dia tak ada sopan-sopannya.
"Sebentar, ya."
Laki-laki itu berlalu ke dapur. Tinggallah aku sendiri diruang tamu yang luas ini. Tak lama dia kembali dengan segelas jus jeruk dingin.
"Silahkan diminum, Mbak."
"Saya Alina Putri Sabiya. Panggil Alina saja."
"Oh, baiklah."
"Makasih."ujarku singkat.
"Sama-sama."
Kami sama-sama terdiam. Tak ada rasa untuk memulai pembicaraan. Aku sebenarnya ingin pulang, tapi fisikku tak mendukung untuk itu.
Teleponku berbunyi, nama Mama tertera di sana. Tapi, aku begitu kecewa padanya. Kenapa Mama membiarkan Mas Gunawan memiliki wanita idaman lain? Seharusnya Mama melarang anaknya. Sehingga apa yang Mama lakukan seakan sengaja merusak rumah tangga anaknya sendiri.
Beberapa kali panggilan, tapi tetap aku abaikan. Tak lama Mas Gunawan pun melakukan panggilan. Buat apa lagi laki-laki itu menghubungiku setelah semua dia lakukan tadi siang.
"Kalau ada masalah sebaiknya diselesaikan dengan baik-baik." Seloroh Ubay yang ternyata sedari tadi memperhatikanku.
"Mas Ubay bisa mengantarkan aku pulang?" Hatiku tak tenang berada disini. Banyak hal yang harus aku lakukan selain melarikan diri seperti ini.
Lelaki itu tampak ragu, menatap ke lantai atas berkali-kali sebelum menjawab pertanyaanku.
"Kita tunggu Lea dulu, ya?"
Aku hanya mengangguk. Tak lama Lea turun pakaiannya lebih terbuka hanya memakai kaos pendek ketat dan celana di atas lutut.
"Astaghfirullah, kamu ini! Apa tak ada baju yang lebih sopan lagi! Abang ada disini, kamu berani pakai baju kurang bahan begitu!" Hardik Mas Ubay tanpa kuduga.
"Apaan sih, Bay! Lo disini juga bukan kemauan gw. Kalau mau pergi ya pergi saja." Sahut Lea cuek.
Rahang Mas Ubay mengeras.
"Pantas kamu dicampakkan Ramzi, kelakuanmu seperti ini."
Pertikaian antara dua saudara itu membuatku jenggah.
"Saya permisi dulu. Lea, makasih ya." Tanpa menunggu jawaban Lea aku berlalu.
Berjalan menuju jalan besar meski harus berjalan agak jauh.
"Hayuk naik!" Titah seseorang yang berada dalam mobil putih itu.