Kita Cerai Saja

1005 Words
"Hayuk naik!" titah seseorang yang berada dalam mobil putih itu. Aku menghentikan langkah, lalu menoleh ke asal suara. Mas Ubay yang ada di kursi kemudi menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan, dibelakangnya ada Lea yang tampak cemberut dengan pakaian yang sudah berbeda dengan yang tadi dia kenakan. "Kalian sudah selesai perang saudaranya?" sindirku. Masalahku saja sudah membuat pening ditambah pula dengan mereka yang adu mulut dihadapanku. "Sudah! tenang saja, uraaa!"seru Ubay sambil memamerkan gigi-giginya yang putih. "Ayo, buruan naik. Pakaian kamu itu juga mengundang kejahatan apalagi malam-malam begini. Lain kali jangan salah masuk toko. Beli baju sesuai usia! Ingat umur." Lelaki berwajah lumayan tampan itu terus mengoceh tanpa memperhatikan aku yang sudah mulai bertanduk. "Buruan! Jangan ikut-ikutan Lea, dia sudah error dari lahir!" Lanjutnya lagi. "Adaaau!" Ubay terpekik. "Sembarangan, lu!" protes Lea sambil menowel kepala Ubay memakai sandal jepit yang dia pakai. Hadeuh, dari pada aku kelamaan lihat mereka yang memiliki sifat absurd, aku pun naik. "Eh, di depan!ini bukan supir! mana ada supir setampan ini!" seru Ubay penuh percaya diri. "Pantes juga elu, dibuang sama Aina. Nyebelin sih lu!"rutuk Lea. "Gw ga dibuang, tapi kita sama-sama menjaga jarak, ga kayak truk gandengan Mulu." "Apa hubungannya dengan truk!" "Hubungannya ga ada, gw cuma ngasal!" Ubay terkekeh sementara Lea memutar mata, malas. Sepertinya mereka berdua masih memiliki dendam dan masalah yang belum terselesaikan. Aku menghela napas dalam-dalam. Memang Lea orangnya baik, tapi ya gitu, ketus. Ternyata Abangnya juga sama. Mungkin mereka terlalu banyak makan kanebo, hingga hidupnya garing banget. Mobil melaju dalam diam, tak ada yang buka suara. Aku membuang pandangan ke jalanan. Suasana masih saja ramai walau malam terus merambat. Untung saja mereka mau mengantarkanku, karena sebenarnya aku juga takut berjalan sendirian diluar malam-malam begini. Kami sampai didepan rumah, lampu menyala tapi mobil Mas Gunawan tak tampak disana. "Mas Ubay, saya minta tolong tunggu sebentar ya, mau ke dalam ambil sesuatu." "Elu mau kabur, Lin?" tanya Lea. "Ga kabur, hanya mau menenangkan diri sesaat." jawabku lalu bergegas keluar tanpa menunggu respon dari Lea. Aku membuka pintu, semua lampu menyala, tas Mas Gunawan tergeletak di atas meja. Lelaki itu mungkin sempat pulang, dan pergi lagi entah kemana. Mungkin mencariku atau juga malah senang lalu langsung pergi kerumah selingkuhannya. Mengingat itu dadaku terasa panas. Tak ragu, aku mengemasi barang-barangku ke dalam koper. Setelah ini kita tak akan lagi bersama, Mas. Percuma aku mengabdikan diri jika kamu mendua. Meski, pernikahan kami bukan berdasarkan cinta, tapi setidaknya selama dua tahun ini aku sudah membuktikan bahwa aku bisa menumbuhkan rasa itu padanya. Bahkan lebih dalam dari rasa yang pernah kuberikan pada lelaki brengs*k yang meninggalkanku tepat diacara pernikahan kami. Jangankan untuk memaafkan, menyebut namanya saja hatiku terasa sangat sakit. Bagaimana malunya aku dan keluargaku saat itu. Semua barang sudah masuk ke dalam koper, mataku tertuju pada lemari kecil yang dikhususkan untuk menyimpan dokumen serta berkas-berkas penting milik Mas Gunawan. Aku membukanya, disini ada surat-surat rumah, surat kendaraan dan juga buku tabungan kami untuk hari tua, yang beratas namakan diriku. Semua kumpulkan lalu memasukkan ke dalam koper. Mas Gunawan pasti akan kelabakan mencarinya. Biar saja siapa suruh membuatku marah. Sebelum mengunci rumah, aku kembali menatap setiap sudut yang pernah menjadi tempat kami melewati hari. Tak menyangka semua berakhir seperti ini. Mungkin memang sudah menjadi nasibku selalu ditinggal ketika lagi sayang-sayangnya begini. **** "Lea, aku numpang nginap dirumah kamu malam ini, ya. Besok aku akan pulang ke kampung." pintaku setelah masuk ke mobil. "Kenapa harus ke kampung sih, kamu mau jadi petani?" sahutnya. "Entahlah yang jelas aku mau menenangkan diri dulu." "Orang kalau ada masalah itu di selesaikan, jangan malah lari. Lihat! sedari tadi ponsel kamu bergetar, pasti dia sedang sibuk mencari kamu." Sela Mas Ubay yang mungkin ada benarnya. "Kalau kemarin saja dia sudah memilih perempuan itu, buat apa lagi berharap untuk kembali bersama." jawabku dengan hati yang dipenuhi luka, teringat gimana Mas Gunawan mengandeng tangan perempuan itu di depan mataku. "Hidup itu memang rumit, ya." seloroh Mas Ubay. "Iya, makanya lu ga usah hidup, Bang!" celetuk Lea sambil terkekeh membuat Abangnya menghela napas dalam-dalam, sabar ... Sabar... Bersyukur juga suami Lea sedang keluar kota. Jadi, aku bisa numpang tidur untuk satu malam disini . Pernikahan Lea yang katanya hanya sebatas status. Membuat dia bebas, seakan tai memiliki beban dan tanggung jawab. Mentari sudah menghangat, aku segera melihat jam yang tergantung di dinding. sudah jam tujuh, astaga aku bahkan melalaikan kewajiban. Dengan cepat aku masuk ke kamar mandi untuk berwudhu. Tak tau apakah diterima atau tidak yang jelas aku bersujud padaNya, aku benar-benar kesiangan. Usai salat aku pun turun ke bawah. Pintu kamar Lea yang ada di sebelah kamarku, masih tertutup rapat. Saat menuruni tangga, terdengar suara orang yang sedang ngobrol di bawah. Mas Ubay lagi sama siapa. Saat sudah sampai diruang tamu, mata kami beradu. "Itu dia sudah datang." Seru Mas Ubay ketika melihatku, lalu bangun begitu juga dengan Mas Gunawan. Mas Ubay pamit masuk ke dalam, dan kini tinggallah aku dan Mas Gunawan disini. "Sayang, yuk kita pulang. Kita selesaikan baik-baik. Jangan seperti ini, tak akan menyelesaikan masalah." bujuknya lembut. "Tak ada yang perlu diselesaikan lagi. Semua sudah jelas. Kamu lebih memilih dia dari pada aku. Perempuan murahan yang hanya bisa merebut suami orang!" Mas Gunawan mengusap wajahnya. "Sayang, pulang yuk. Ga enak sama Mas Baihaqi kita bertengkar disini." "Aku ga mau, Mas. Aku ingin kita segera mengurus surat cerai." "Astaghfirullah ... Ga ada perceraian, Sayang. Semua akan baik-baik saja." Aku menatap nyalang pada laki-laki itu, egois sekali dia berkata semua baik-baik saja. Lalu apa kabar hatiku, apa kabar perasaanku yang telah dia lukai begitu dalam. Bagaimana malunya aku dia tinggal di restoran dengan lebih memilih perempuan itu. "Alina, Mama jatuh sakit. Mama terus menanyakan kamu, Sayang." Aku tersentak, Mama? Ya Allah. Mas Gunawan seakan mendapat celah untuk mendekatiku. Aku yang terpaku, dalam dilema yang menyapa. "Puas kamu, Mas. Kamu menyakiti hati dua perempuan sekaligus." Aku menepis tangan Mas Gunawan, lalu mengusap air yang tanpa sadar jatuh begitu saja. "Plis, sayang, Mas hanya punya Mama saat ini. Mas tak mau kehilangan dia. Bantu Mas, Mama ingin kamu datang." Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD