Dua Hari Tersakiti-8

1107 Words
"Plis, sayang, Mas hanya punya Mama saat ini. Mas tak mau kehilangan dia. Bantu Mas, Mama ingin kamu datang." Aku melipat tangan di d**a. "Maaf, Mas. Aku tak bisa. Minta saja selingkuhan kamu itu merawat Mama, bukankah dia juga rajin mengurus suami orang, kenapa ga sekalian Mama kamu dia urusin." Jawabku ketus. "Sayang, tolonglah, nanti Mas akan jelaskan. Kamu hanya salah paham." "Salah paham apa? Kamu kira aku ini bod*h ya, Mas?kamu kira aku ini buta, ga bisa melihat dengan jelas siapa yang lebih kamu bela. Sudahlah, siapkan dirimu untuk persidangan kita." "Alina, jangan keras hati seperti ini, Sayang. Kamu tak boleh egois." "Apa egois? Kamu ga salah, Mas? Aku egois?" Aku tertawa lebar, menertawakan laki-laki yang bahkan tak pandai menempatkan rasa. "Seharusnya kamu membeli kaca yang besar, lalu kamu berdiri didepannya. Kamu ngaca! Siapa yang egois, dan siapa yang munafik! Pengkhianat, penipu!" "Cukup Alina!" Bentakannya menghentikan ocehanku. d**a Mas Gunawan naik turun menahan emosi, peduli amat! Lelaki itu menatapku tajam, sebelum pergi berlalu. Aku terduduk di kursi. Hatiku remuk, bagaimana mungkin aku tega pada Mama, tapi aku juga ga mau dibod*hi Mas Gunawan lagi, aku muak. "Sudah, nanti kita cari rumah sakit tempat Mama mertua kamu dirawat. Sekarang mandi dulu sana. Pastikan kamu ga bikin mertuamu itu pingsan." Celetuk Mas Ubay yang duduk sambil menyesap segelas kopi. "Aku selalu wangi." Aku kembali ke kamar, memainkan ponselku. Membuka aplikasi pesan milik Mas Gunawan yang aku salin ke ponselku. Ternyata ada pesan dari RS yang tak aku baca. Dan mungkin juga Mas Gunawan berpikir jika semua sudah diketahui, buat apa lagi sembunyi-sembunyi. [Mas, kalau semua jadi rumit begini, biar aku yang mengalah.] Ketik RS. [Tidak sayang, tak ada yang boleh mengalah. Kalian adalah wanita yang aku cintai.] [Tapi, Mama tak menyukaiku.] [Belajarlah merebut hati Mama, aku yakin kamu bisa. Alina saja bisa dalam waktu dua tahun, masa kamu tak bisa, Sayang.] Aku meremas ujung sprei, sungguh egois sekali laki-laki ini. [Aku akan coba.] [Lala gimana kabarnya] [Lala nanyain kamu terus, Mas. Alina sudah tahu tentang kita, sudah saatnya kamu Adil.] [Sabar Sayang, semua ada waktunya. Kamu sabar, ya. Mas sangat mencintai kalian.] Mataku terasa panas membaca pesan yang terkirim kemarin itu. Otakku mulai mencerna isi percakapan itu. Apa jangan-jangan perempuan itu sudah dia nikahi? Lala? Lalu siapa Lala? Ya Allah, Mas Gunawan. Kenapa harus menyimpan bara seperti ini? Apa kurangku sebagai istri. Usai mandi, aku bergegas mengganti pakaian. Baju kaos dengan celan jeans ketat lalu rambut dibiarkan tergerai. Mencoba untuk tetap santai meski hati ini tetap saja jedag jedug, berbagai rasa ada disana saat ini. *** "Lu yakin, Bang kita nyari mertua Alina?" tanya Lea yang sudah duduk disamping Ubay. "Yakin lah, kalau ga ngapain kita disini sekarang." Aku yang duduk dibelakang hanya berperan sebagai penyimak. Dari yang kudengar, Ubay tadi sempat bertanya-tanya pada Mas Gunawan dimana Mama dirawat. "Tapi, kan lu ga tau kamar berapa, lantai berapa?" "Udah ikut aja! yang punya hajat aja ga ngoceh kayak elu!" "Huh!" Lea mendengus kesal melihat Abangnya yang masih terus fokus menyetir. Sesampainya dirumah sakit. "Kalian tunggu di mobil aja, tunggu kabar." Ubay keluar dari mobil, lalu berjalan ke arah sebuah pohon dan mengutak-atik ponselnya. Kemudian tampak dia melakukan panggilan. "Abang kamu beneran bisa ga sih, Lea?". "Gw juga ga yakin, Lin. Tapi, setidaknya kita menunggu dia. Kalau berhasil diemin aja, kalau gagal dia kita caci maki." Lea tertawa terbahak-bahak. "Kamu ini, sama Abang sendiri ga pernah akur." "Siapa bilang, kalau soal makanan kita akur tau!" bantahnya. Kami pun tertawa, sempat-sempatnya lupa dengan masalah. Tak lama Ubay masuk lagi ke mobil. "Hayuk buruan keluar, mumpung si Igun ga ada." "Igun?" "Suami kamu namanya Igun kan?tapi bukan igun yang anu itu." Ubay melirik ke arahku sekilas lalu membuang pandang, terlihat dia menyembunyikan tawa, asem! Kami sampai disebuah ruangan. "Kamu masuk sana, aku dan Lea menunggu disini." "Makasih, Mas." Cicitku. "Ubay aja!" Gumamnya. "Iyaa, Ubay, makasih." Ulangku. "Sama-sama." sahutnya dengan menoleh ke arah Lea yang tersenyum menggoda. Apa sih ga jelas! Aku perlahan membuka pintu dimana Mama terbaring. Seorang wanita duduk agak jauh dari Mama, mata kami bertemu. Dia? Bukankah dia yang ada di restoran waktu itu? "Alina? Kamu datang, Nak?" Mataku beralih pada Mama, Mama menatapku dengan mata berkaca-kaca. Aku segera menghampiri, lalu mencium tangannya takzim. Kemudian duduk dengan tangan kami yang masih bertautan. "Kamu kemana saja? Mama khawatir." Suara Mama yang lemah membuatku iba. "Maafkan Alina, Ma." "Mama yang minta maaf, seharusnya Mama tak melukai hati kamu, Nak." "Bukan salah Mama, tapi salah wanita yang merebut suamiku." sindirku pedas. Perempuan itu menunduk, sadar diri rupanya. "Alin, jangan pernah cerai dengan Gunawan. Mama mohon, maafkan dia." Aku menghela napas panjang. "Maafkan Alina, Ma. Mas Gunawan sendiri yang memilih perempuan itu. Biarkan saja, dia lebih suka w************n, dan tak punya harga diri seperti dia, taunya hanya merebut suami orang." sindirku lagi. "Kamu gatal ya, mbak? Apa ga ada laki-laki lain, sehingga kamu harus merebut suami orang, HA!" Bentakku. Mama menyentuh tanganku lalu menggeleng kepala. Air matanya mengalir deras. Aku kembali duduk, mengenggam tangan Mama erat. "Alina, kamu harus tau, jika ..." "Sayang, kamu datang?" Wajah Mas Gunawan muncul dari pintu sementara Ubay dan Lea berdiri di belakang. "Saya kesini hanya mau menjenguk Mama, tak lebih." "Makasih, Sayang. Aku membuang nafas kasar. Kenapa laki-laki ini masih sok manis. "Ga usah panggil sayang-sayangan lagi, Mas. Ingat ada kekasihmu disini. Kalau dia pergi kamu pasti nangis. Perempuan murahan kan memang selalu pandai mengambil hati suami orang." "CUKUP! kamu terlalu sering menghinaku!" Perempuan itu berdiri, wajahnya memerah marah, tapi matanya juga berembun, ada air yang siap mengalir. Aku suka ini, aku suka melihat dia melawan, tak hanya diam seolah Akulah penjahatnya disini. "Kenapa? Emang kamu hina! Pelac*r murahan!" "Cukup Alina! Dia bukan p*****r! Dia istriku!" Bentak Mas Gunawan. Yang seketika membuatku terpaku. "Ti-tidak Nak ... bu-bukan! Dia bukan istri kamu."suara rintihan Mama terdengar dari belakang. "Mama ... Mama..." Mas Gunawan berlari ke arah Mama yang tampak sedang kesulitan untuk bernafas. "Pergi kamu! Pergi!" teriak Mas Gunawan sambil menepis tanganku yang hendak memegang tangan Mama. Keadaan makin ricuh, Mas Gunawan seperti orang yang kesetanan memanggil dokter. Aku terdiam tak tau harus berbuat apa. Dokter pun tiba dan bergegas memeriksa keadaan Mama. "Semua keluar dulu, ya. Biar Dokter memeriksa pasien." Suster itu menyuruh kami keluar, hanya Mas Gunawan dan perempuan itu yang berada disana. Mungkin dokter mengira aku hanya saudara jauh yang sedang menjenguk. Sebelum keluar Mas Gunawan menatap dengan tatapan penuh kebencian. Kenapa malah aku? "Ayo pulang, Lin!" Lea merangkul pundakku. "Tapi, Mama?..." kataku tertahan, dari jendela aku melihat dokter sedang berbicara serius dengan Mas Gunawan. "Hayo ...!" ajak Ubay, lelaki itu telah melangkah mendahului. Aku masih ditempat yang sama. "Ayo apa perlu kamu, aku gendong?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD