1. Aroma Pengkhianatan di Ruang Kerja
Desiran tirai yang tersentak oleh embusan angin pagi yang dingin tak mampu mengusik tidur lelap Max. Wajahnya penuh kepuasan saat terlelap.
Max menghabiskan malam dengan penuh gejolak.
Cahaya samar mulai menyusup melalui celah-celah jendela penthouse mewahnya, menerangi siluet tubuh wanita yang meringkuk di sampingnya.
Rambut pirangnya tergerai di atas bantal sutra, ia melihatnya sebagai wanita yang telah memuaskannya, wajahnya yang semalam penuh gairah kini tampak polos dalam damai.
Max menghela napas pelan, berusaha mengingat namanya. Ia tidak tahu siapa namanya. Entahlah.
Yang jelas, aroma parfum mahalnya masih melekat kuat di indranya, bercampur dengan bau khas kamar tidurnya yang selalu sama setelah semalam penuh keintiman.
Keringatnya bercucuran semalam, membuat sedikit basah di sisi tempat tidurnya. Ia meninggalkan jejak basah yang lain disana.
Jam dinding digital di nakas menunjukkan pukul 06.00. Terlalu pagi untuk bangun, namun seorang Max sudah terbiasa dengan ritme ini.
Ia hidup teratur dan cukup rapi melakukan segala tugasnya.
Otaknya, yang selalu tajam dalam urusan bisnis, kini mulai memutar kembali kejadian semalam.
Pertemuan bisnis yang cukup alot dengan investor asal Singapura, lalu dilanjutkan makan malam di restoran mewah dengan anggur merah yang mengalir deras, dan tatapan mata wanita yang tak diketahui namanya itu yang menatapnya penuh godaan.
Semuanya terasa kabur, tertutup oleh kabut hasrat yang selalu mudah membakarnya.
Ia terlena dan terbuai oleh gairah yang memenuhi isi hati dan pikirannya. Minuman yang memabukkan juga membuatnya lupa jika ia sedang berbisnis.
Ponselnya bergetar, ia meletakkannya di atas meja rias dan suaranya memecah keheningan. Max meraihnya dengan malas.
Viona sang sekretaris, namanya tertera di layar. Ia menguap dan menekan tombol tanda menerima panggilan.
Tidak seperti biasanya, Viona tidak akan menghubunginya sepagi ini kecuali ada hal yang sangat penting.
Ia membuka matanya lebar-lebar dan mencoba memasang telinga untuk bisa mendengar dengan baik apa yang akan dikatakan Viona pagi ini.
Namun, tiba-tiba saja perasaan tidak enak menjalar di benaknya.
"Halo, ya Viona, ada apa?" jawab Max dengan suara serak khas bangun tidur.
"Selamat pagi, Tuan Max," sapa Viona dengan nada tegang yang belum pernah Max dengar sebelumnya.
"Maaf mengganggu di jam seperti ini, tapi ada… sedikit masalah yang ehm … cukup serius, di kantor, Tuan Max."
Jantung Max berdebar lebih kencang. Masalah serius? Pagi begini sudah ada masalah? Ia tidak mengerti tapi Perusahaannya, Maximum Corp , adalah imperium yang dibangunnya dengan susah payah.
Viona mengucapkan lagi beberapa kata, sedikit membuatnya gelisah dan sangat mendebarkan jantungnya.
"Masalah apa, Viona?"
Max duduk dan berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang, meskipun firasat buruk semakin kuat mencengkeramnya.
"Begini, Tuan Max, ehm ada… ada email tidak dikenal yang masuk ke beberapa karyawan. Isinya… ehm maaf, sangat sensitif dan ini menyangkut Tuan." Suara Viona tercekat sejenak.
Max kaget, ia segera bangkit dari tempat tidur, mengabaikan tatapan bingung wanita di sampingnya.
Ia berjalan menuju jendela besar, menatap hamparan kota Jakarta yang mulai menggeliat.
Pikirannya berkecamuk. Banyak masalah yang ada tapi kenapa hanya sebuah email membuat sekretarisnya panik dan gugup saat mengatakannya.
“Kamu bilang, sensitif?” tanyanya lagi memastikan.
“Ya, Tuan,”
"Memangnya apa isinya?" desak Max penasaran, suaranya mulai meninggi.
"Ini … ini tentang… hubungan Tuan dengan beberapa karyawan wanita di kantor, Tuan. Ada foto-foto dan… detail-detail yang sangat pribadi," jawab Viona dengan nada lirih, seolah takut untuk melanjutkan.
Napas Max tercekat. Darahnya terasa mendidih. Kenapa ada foto-foto yang katanya terlalu pribadi menyangkut dirinya.
Reputasinya sebagai CEO yang disegani, citra perusahaan yang selama ini dijaganya dengan susah payah, kini terancam hancur dalam sekejap.
Ia tidak mengerti apa tujuan orang itu membuat kegaduhan ini dengan menyebarkan foto-foto pribadinya.
"Viona, kamu tahu siapa yang mengirim email itu? Apa ada petunjuk?" tanya Max dengan suara tertahan, berusaha mengendalikan amarah yang mulai membakar dirinya.
Ia hampir saja berteriak jika tidak ingat kalau saat ini tengah berada dimana dan bicara dengan siapa.
"Belum diketahui, Tuan. Tim IT sedang berusaha melacaknya. Tapi yang jelas, email itu sudah tersebar luas. Beberapa karyawan mulai membicarakannya," lapor Viona.
Terdengar helaan napas berat di ujung telepon. "Situasinya sangat tidak kondusif di kantor saat ini, Tuan."
“Maksudmu, menjadi gempar, begitu?”
Viona terdiam sesaat, “Kurang lebih seperti itu, Tuan,”
Max mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ada yang berkhianat dan pasti sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkannya.
Perlahan tapi pasti ia akan hancur jika hanya diam saja.
Pengkhianatan ini bukan hanya menyerang kehidupan pribadinya, tetapi juga mengancam stabilitas perusahaannya.
Ia harus bertindak cepat. Ia harus mencari tahu siapa dalang di balik ini dan menghancurkan mereka sebelum semuanya terlambat.
"Ok, aku akan segera ke kantor," kata Max dengan nada dingin dan penuh tekad.
"Pastikan semua orang tetap di tempatnya dan jangan ada spekulasi yang tidak perlu. Ini akan segera aku selesaikan."
Max menutup telepon dengan kasar. Ia berbalik menghadap wanita yang masih terbaring di tempat tidur, menatapnya dengan tatapan dingin yang membuatnya bergidik.
Ia tidak tahu apakah wanita ini terlibat atau tidak, tetapi untuk saat ini, semua orang adalah tersangka.
Aroma parfum di udara yang tadinya terasa memikat kini terasa menyesakkan.
Sedikit rasa penyesalan namun ia terus melakukannya jika lupa daratan. Ahhh … suatu kebetulan yang sangat mengerikan.
Ia harus secepatnya mengatasi ini.
Pagi ini, di penthouse mewahnya yang seharusnya menjadi simbol kesuksesan, Max malah merasakan aroma pengkhianatan yang pahit dan mematikan.
Ia berharap ini akan baik-baik saja dan tidak memakan banyak waktu, foto-foto? ya katanya foto-foto itu yang membuat gempar. Ia harus tahu ada apa.