Seorang wanita masuk ke dalam kantor saat Max sedang menerima telepon, Max mengintip dari balik tirai dan menyuruh penjaga kantor untuk menolak kedatangan wanita itu yang sudah terbiasa datang di hari Kamis.
Ia selalu memiliki jadwal yang tepat dan kadang membuatnya harus membagi waktu untuk bercinta bahkan pekerjaan serta bisnis yang dia jalankan.
Wanita itu merupakan kenalannya yang sengaja datang setelah ia memintanya bertemu di kantor ini.
Mereka akan menghabiskan malam tapi ia lupa kalau semua kegiatannya dihentikan setelah adanya teror mengerikan ini.
Telepon dengan si peneror masih berlangsung, Max mendengarkan dengan jelas apa saja yang dikatakan si peneror.
"Kamu ingin tahu siapa aku? Hahahah … aku adalah bayangan yang akan selalu mengikutimu, Tuan Casanova. Dan aku punya hadiah ulang tahun yang istimewa untuk adik kesayanganmu."
Tubuh Max menegang. "Apa yang kau inginkan? Jangan macam-macam dengan adikku, dia tidak ada hubungannya dengan apa yang aku lakukan!"
Terdengar suara tertawa terbahak-bahak yang cukup menyebalkan, sepertinya tidak hanya seorang melainkan beberapa dan ia merasa mulai kesal dan ingin bertemu muka agar tahu siapa dia.
"Tenang, Tuan Playboy. Hanya ada sedikit… kejutan.”
Max merasa geram, ia ingin sekali menghajar si peneror tapi tiba-tiba setlah terdiam beberapa saat, sambungan telepon itu terputus.
Max merasa marah dan hampir membanting ponselnya. Ia memilih pulang ke apartemen dan tidur dengan meminun obat tidur sebelum memejamkan matanya. Stress telah melanda kehidupannya kini. Ia benar-benar akan hancur perlahan jika tidak bisa tidur dan menjadi down.
**
Malamnya, saat tengah malam ketika dia sedang tidur, Max mendengar suara dering telepon dan ia terbangun dengan rasa malas yang tiada tertahan.
“Hoam …”
Ia bangkit dari tempat tidur dan menyambar ponsel yang diletakkan di atas meja. “Ya, hallo, siapa ini?”
“Hallo Tuan Playboy!”
Max mengganti posisi pegangan ponselya ke telinga kirinya. Ia ingin minum dan sangat haus. “Apa lagi, kamu mau apa?”
Max sudah hafal dan ingin tahu lebih lanjut tentang perkataan si peneror.
“Kamu tidak datang ke acara ulang tahun adikmu?”
Max terus mendengarkan, ia berbaring dan sedikit mengantuk karena ia kelelahan. “Untung tidak pergi karena jika kamu berani melangkah keluar dari apartemen malam ini dan pergi ke acara ulang tahun adikmu, maka aku tidak bisa menjamin keselamatannya."
Ada jeda sejenak, lalu suara itu melanjutkan, "Oh, dan mungkin aku juga akan memberikan hadiah kepada media tentang... beberapa video lamamu yang lebih 'intim' dari sekedar foto. Bagaimana menurutmu?"
Ancaman itu jelas. Teror itu bukan lagi sekadar email dan surat kaleng. Kini, pelakunya tahu tentang adiknya, tentang ulang tahunnya, dan bahkan mengancam keselamatan adiknya.
Dan mengenai video, Max jadi merasa mual. Ia tahu, di masa mudanya yang liar, ia pernah melakukan beberapa hal yang bisa sangat merusak citranya jika tersebar.
"Jangan sentuh adikku!" Max menggeram, amarahnya meluap.
"Tugasmu malam ini sangat sederhana, Tuan Max. Tetap di tempat Anda. Jika ingin melacakku, silakan saja. Karena aku punya kejutan lain di kantor. Nikmati 'perayaan' mu di sana." Suara itu tertawa kecil, tawa yang menusuk tulang, lalu sambungan terputus.
“Hallo …. Hallo!!!”
Max menatap ponselnya dengan tangan gemetar. Tentang adiknya, Clara. Ini sudah terlalu jauh. Mereka tidak hanya mengancam karirnya, tapi juga orang-orang terdekatnya. Ia tidak bisa mengambil risiko sedikit pun.
Ini masih tengah malam. Ia akan menghubungi Clara nanti, tapi ia akan memastikan keadaan Clara dengan mengiriminya pesan agar Clara tahu kalau ia sedang dalam sebuah ancaman.
**
Keesokan paginya, Max datang ke rumah dan memastikan Clara tidak mengalami suatu gangguan.
Clara baru akan bersiap-siap pergi saat ia tiba disana. Wajah Clara yang cemberut membuatnya menyesal.
“Kenapa tidak datang, Kak? Padahal kami menunggumu,” ujarnya seraya mengikat tali sepatunya.
“Kami? Memang siapa saja yang menunggu?”
“Aku dan …”
Max melihat sebuah bungkusan dan ia melihat juga sebuah kantong plastik yang sama dengan yang pernah diterimanya. Max membukanya dan kosong, tidak ada apa-apa.
“Kamu dapat dari mana ini?” Tanya Max.
Clara memandang kantong plastik itu dan merebutnya dari tangan Max.
“Itu dari temanku, dia yang ikut aku menunggu kakak,”
Max menatap wajah Clara yang kecewa. Ia menyesal telah membuat Clara kecewa karena dia tidak datang.
“Cla, maaf aku tidak datang, semalam kakak …”
“Kebiasaan kakak pasti bersenang-senang dengan gadis-gadis nakal itu,” ketusnya.
Max menatapnya, lalu ia teringat tentang sebuah bingkisan yang tertinggal dari seorang gadis kenalan singkatnya kemarin.
“Maafkan aku, tapi kakak sempat diteror kemarin dan sempat dikejar orang sampai terpaksa harus bermalam di kantor,” jawabnya.
“Ya, sudah, aku mau ke rumah temen, Kak,” ucapnya seraya melangkah pergi.
Max mencoba merayu adiknya agar tak marah lagi, ia menawarkan diri untuk mengantarnya.
Clara yang memang berniat akan mengenalkan Isabella pada sang kakak, akhirnya setuju. “KIta ke kafeku aja, Kak. Bella ternyata sudah lebih dulu berada disana,”
Max pun menyanggupinya dan mengantar Clara ke kafe miliknya, ia berniat akan melihat dengan leboh jelas kafe yang baru dibuka Clara semalam.
Max mengemudikan mobilnya dan melihat seseorang duduk di kafenya Clara. Ia tidak bisa melihat wajah temannya Clara yang katanya akan dikenalkan padanya.
Ponselnya berdering, Max mengangkat panggilan itu, lagi-lagi dari si peneror. “Cla, maaf ya, sekali lagi kakak tidak bisa lama-lama, ada yang ingin bertemu,”
“Tapi … Kak …”
Max memasang wajah memelas dan meliihat teman Clara berbalik badan tapi ia langsung pergi karena ponselnya terus berdering dan si peneror minta dia datang ke kantor sekarang juga.