BAB 3

1054 Words
Menyukai segala hal tentang dunia medis dari kecil, telah membuat Madonna Martinez, gadis berambut pirang, berkulit putih, dan berbadan langsing itu, tumbuh menjadi seorang mahasiswi yang sangat tergila-gila pada dunia kedokteran. Tidak heran Madonna mengambil salah satu fakultas kedokteran saat masuk ke bangku kuliah, ditambah dia juga ternyata punya bakat terpendam yang sangat berguna di dunia tersebut, sehingga sangat tidak mengejutkan saat ia memperoleh banyak prestasi di sana, bahkan sampai pernah diundang oleh organisasi kesatuan dokter paling bergengsi di Swiss. Begitulah, banyak sekali prestasi yang telah Madonna raih berkat usaha dan bakatnya sendiri, sehingga saat dirinya memasuki ke dunia kerja, sangat mudah mendapatkan tempat di mana-mana, karena ada banyak koneksi yang membuatnya bisa diterima dengan gampang di semua tempat. Namun, ada sesuatu yang membuat Madonna merasa terbebani karena telah memilih jalan hidup demikian. “Maaf, tapi bisakah Anda mengulanginya lagi? Aku tidak mendengarnya dengan baik.” Kata Madonna, berdiri di depan meja sang kepala rumah sakit di tempat kerjanya, dengan membungkukkan sedikit lehernya, meminta bos besarnya untuk mengulangi perkataan yang baru saja diucapkannya. Entah apa yang dikatakan oleh si bos sampai membuat wajah Madonna Martinez tampak begitu pucat. “Minggu depan, kau akan bergabung dengan asosiasi kemanusiaan internasional tenaga medis untuk ikut terlibat menjadi sukarelawan di negara-negara pasca peperangan, dan kali ini, tujuannya ke Yaman, salah satu negara di timur tengah yang baru-baru ini terjadi peperangan besar di sana. Kamu dan semua orang di asosiasi kemanusiaan akan bertugas untuk merawat dan menyelamatkan para korban, yakni semua penduduk Yaman. Jadi, bersiap-siaplah dari sekarang, Madonna. Tapi jangan khawatir, karena setelah kau berhasil menuntaskan pekerjaanmu di sana, kau akan mendapatkan penghargaan besar.” Dua kelopak mata Madonna Martinez melotot, dia benar-benar terkejut atas hal itu, dia sama sekali tidak bisa membayangkan dirinya bergabung dan terlibat ke kegiatan besar berskala internasional seperti itu, sungguh, ia sangat tidak tahu harus bagaimana untuk merespon permintaan dari bos besarnya itu. Mengingat posisinya yang hanya seorang dokter baru, tentu membuat Madonna tidak bisa menolak begitu saja permintaan dari Sang Bos, karena jika ia menolak mentah-mentah hal itu, pasti akan mempengaruhi kinerja dan karirnya, dan itu adalah hal yang selalu ia pertahankan agar dirinya bisa mendapatkan penilaian bagus di setiap aspek dalam pekerjaannya. Namun, berbicara soal turun langsung ke lapangan, apalagi terbang ke negara yang baru saja terjadi peperangan, tentu resiko yang akan didapatkan oleh Madonna bisa sangat besar, dan mungkin mempengaruhi nyawanya sendiri. Saat ini Madonna Martinez benar-benar kebingungan, dia tidak tahu pilihan mana yang akan ia ambil dalam merespon permintaan dari Sang Bos. Dengan suara yang cukup pelan, Madonna Martinez memberanikan diri untuk menjawab permintaan dari Sang Bos. “Aku sangat senang mendapatkan kesempatan untuk terlibat ke dalam kegiatan kemanusiaan seperti itu, tapi—” “Tentu saja kau pasti menerimanya, kan, Madonna?” Sang Bos memotong perkataan Madonna dengan menekankan gadis itu untuk ikut ke dalam kegiatan tersebut. “Kau akan mendapatkan pengalaman yang sangat bagus jika mengikuti kegiatan-kegiatan semacam itu, itu akan membuatmu sadar bahwa kita tidak sendirian hidup di dunia ini. Ada banyak orang di luar sana yang menderita dan meminta pertolongan, tentunya kita sebagai tenaga kesehatan harus mengulurkan tangan dan menyelamatkan mereka, kan, Madonna?” Madonna dengan leher yang kaku, hanya menganggukkan kepalanya dengan menyunggingkan senyuman getir di wajahnya. Mendengar Sang Bos menceramahinya dengan hal-hal bersifat kemanusiaan membuat Madonna semakin tidak etis untuk menolak permintaan itu. Sekarang yang perlu Madonna Martinez lakukan hanyalah menerima dan bersiap terjun ke dalam kegiatan tersebut, apapun resikonya, dia harus melakukannya. Sepulangnya dari rumah sakit tempat kerjanya, ia merebahkan badannya di permukaan kasurnya, di dalam apartemennya yang terletak tidak begitu jauh dari lokasi kerjanya. Madonna merenungkan hal yang tadi, dia sebenarnya belum terlalu siap untuk mengikuti kegiatan-kegiatan besar yang membuatnya harus terbang ke negara-negara lain, selain karena dia bukan dokter umum yang bisa melakukan segalanya—melainkan dokter spesialisasi endoktrinologi—juga merasa sedang tidak sehat untuk akhir-akhir ini. Bukankah aneh jika seorang sukarelawan malah jatuh sakit saat mengikuti kegiatan menyelamatkan banyak orang, itu akan terkesan tidak etis dan dapat mempengaruhi karirnya. “Aku tidak pernah menyangka, aku yang merupakan seorang dokter yang belum lama bekerja di rumah sakit, bisa terpilih untuk terlibat ke dalam kegiatan berskala internasional. Kenapa tidak memilih dokter-dokter lain saja yang sudah lebih senior dan berpengalaman dariku? Aku tidak mengerti.” Lirih Madonna dari mulutnya yang kering, matanya menatap langit-langit apartemennya, dan perlahan-lahan, ia jadi menyunggingkan senyumannya. “Tunggu, bukankah itu bagus? Secara tidak langsung, Bos sangat percaya padaku, bahwa aku bisa ikut andil ke dalam kegiatan semacam itu, dan mungkin saja setelah mengikutinya, aku akan mendapatkan promosi!” Dari yang sebelumnya sedih dan merenung, kini Madonna malah menjadi sangat senang dan bersemangat. Pola pikirnya bisa berubah sedemikian cepat sampai akhirnya mengambil sisi positif dari apa yang sedang terbebaninya, sehingga dia bisa beradaptasi dan menganggap beban yang dipikulnya adalah sebuah kesempatan besar untuk memperoleh posisi tinggi dan prestasi baru di dalam pekerjaannya. Berdasarkan apa yang dijelaskan oleh Sang Bos, kegiatan tersebut akan dilaksanakan Jumat depan, yang artinya, Madonna punya waktu 7 hari untuk menyiapkan segala yang diperlukannya untuk kegiatan tersebut. Banyak rekan-rekan kerjanya yang mengucapkan selamat pada Madonna saat mereka diberi informasi oleh Sang Bos bahwa dokter baru di tempat kerja mereka akan berkesempatan ikut ke dalam proyek kemanusiaan berskala internasional. Bagi mereka, itu adalah pencapaian yang sangat luar biasa untuk seukuran dokter yang baru saja lulus kuliah. Madonna hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada rekan-rekan kerja yang memberikan selamat padanya, sementara Sang Bos memanggilnya untuk segera datang ke ruangannya. Kali ini, Madonna diberikan arahan dan nasehat oleh bosnya untuk kegiatan yang akan diikutinya, juga memberi banyak informasi mengenai apa yang harus dibawa dan dilakukan oleh seorang dokter sukarelawan saat berada di lapangan. Banyak sekali informasi yang telah diterima oleh Madonna saat ini sehingga dia sampai mencatatnya di memo ponselnya untuk berjaga-jaga jika ia melupakan penjelasan-penjelasan yang dikemukakan oleh Sang Bos. Barulah ketika hari keberangkatan tiba, Madonna segera memesan taksi dengan membawa sekoper keperluannya, untuk berangkat ke lokasi gedung khusus perkumpulan persatuan dokter negaranya, sebelum terbang ke tempat persatuan dokter internasional. Sesampainya di sana, Madonna benar-benar takjub dengan banyaknya dokter dari negaranya yang ikut ke dalam kegiatan ini, dan sebagian besar dokter yang ikut terlihat sangat muda, mereka semua sepertinya punya nasib yang sama dengan dirinya, ditekan oleh kepala rumah sakit untuk ikut ke dalam kegiatan ini. Tapi apapun itu, Madonna sangat senang bisa berada di sini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD