bc

MONSTER TERAKHIR YANG MASIH MANUSIA

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
BE
family
drama
bxg
city
highschool
high-tech world
naive
civilian
like
intro-logo
Blurb

Bornok hanyalah seorang remaja biasa yang menjalani kehidupan yang jauh dari kata bahagia. Sejak masuk SMA, hidupnya terasa semakin berat. Ayah sambungnya terlalu sibuk untuk memperhatikannya. Ibu yang ia harapkan menjadi tempat bersandar juga hampir tidak pernah memiliki waktu untuk mendengarkan keluh kesahnya. Di sekolah, Bornok menjadi sasaran perundungan hampir setiap hari. Yang paling menyakitkan adalah adik sambungnya sendiri. Di depan teman-temannya, gadis itu selalu menyangkal hubungan mereka dan mengaku tidak memiliki kakak bernama Bornok. Sikap itu membuat Bornok merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Hari demi hari, tekanan dan kesepian terus menumpuk hingga membuatnya kehilangan harapan. Suatu malam, saat duduk sendirian di dalam kamar yang gelap, Bornok mengucapkan sebuah kalimat yang bahkan tidak pernah ia bayangkan akan menjadi kenyataan. "Seandainya semua orang di dunia ini mati... mungkin hidupku akan jauh lebih baik." Keesokan paginya, semuanya tampak berjalan seperti biasa. Namun hanya beberapa jam kemudian, dunia berubah menjadi neraka. Sebuah virus misterius menyebar dengan kecepatan yang mustahil dihentikan. Orang-orang yang terinfeksi berubah menjadi monster haus darah yang kehilangan kesadaran dan hanya mengenal satu naluri memburu manusia. Kota-kota runtuh. Pemerintahan hancur. Peradaban musnah dalam waktu singkat. Hampir seluruh manusia di dunia berubah menjadi monster. Hanya sekitar 1% yang berhasil bertahan dan tidak mengalami mutasi. Dan Bornok adalah salah satunya. Di tengah dunia yang telah berubah menjadi lautan darah, Bornok harus berjuang untuk tetap hidup sambil mencari jawaban atas berbagai misteri yang terus bermunculan. Mengapa ia kebal terhadap virus itu? Apakah benar hanya segelintir manusia yang tersisa? Dan mengapa semakin jauh ia mencari kebenaran, semakin banyak rahasia mengerikan yang terungkap tentang asal-usul virus tersebut? Kini, Bornok dihadapkan pada pilihan yang akan menentukan nasib umat manusia. Mampukah ia tetap mempertahankan kemanusiaannya di tengah dunia yang dipenuhi monster? Ataukah pada akhirnya ia akan berubah menjadi sesuatu yang lebih mengerikan daripada mereka? Ketika seluruh dunia berubah menjadi monster, Bornok justru harus menghadapi kenyataan bahwa menjadi manusia mungkin adalah hal paling berbahaya yang tersisa di dunia ini.

chap-preview
Free preview
CHAPTER 1
Orang yang Tidak Diinginkan "Bornok! Cepat turun! Nanti adikmu terlambat sekolah!" Suara ibunya terdengar dari lantai bawah tepat ketika alarm di ponselnya berhenti berbunyi. Bornok membuka mata perlahan dan menatap langit-langit kamarnya yang kusam. Kamar itu tidak besar, bahkan terasa sempit untuk ukuran seorang siswa SMA, tetapi setidaknya hanya di tempat itulah ia bisa merasa tenang meskipun tidak pernah benar-benar bahagia. Ia menghela napas panjang sebelum bangkit dari tempat tidur. Tubuhnya terasa berat, bukan karena kurang tidur, melainkan karena ia sudah tidak memiliki semangat untuk menjalani hari-harinya. Setelah mengenakan seragam sekolah, ia berjalan menuju lantai bawah. Di ruang makan, suasana yang sudah sangat familiar kembali menyambutnya. Ayah sambungnya sedang sibuk merapikan kerah seragam Nisa, adik sambungnya yang kini duduk di kelas sebelas. "Kamu cantik sekali hari ini," katanya sambil tersenyum. "Terima kasih, Pa." Ibunya yang berdiri di samping meja ikut tersenyum sambil memasukkan bekal ke dalam tas sekolah putrinya. "Jangan lupa makan siang, ya." "Iya, Ma." "Kalau ada yang mengganggu di sekolah, langsung telepon Papa." Nisa mengangguk kecil. Bornok berdiri beberapa langkah dari mereka sambil memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Keberadaannya seolah tidak lebih dari perabot rumah yang sudah terlalu lama berada di sana hingga semua orang lupa bahwa benda itu masih ada. Ia akhirnya duduk di kursinya sendiri dan menemukan sepotong roti dingin yang tersisa di atas meja. Tanpa berkata apa-apa, ia mengambil roti itu dan mulai makan. Sudah lama ia berhenti berharap mendapatkan perlakuan yang sama seperti Nisa. Harapan hanya membuatnya kecewa. SMA Garuda Utama merupakan salah satu sekolah terbaik di kota itu. Banyak siswa berlomba-lomba untuk bisa diterima di sana, tetapi bagi Bornok, sekolah tersebut tidak pernah terasa istimewa. Setiap pagi saat melewati gerbang sekolah, ia selalu merasa seperti sedang berjalan menuju tempat eksekusi. Tatapan sinis, bisikan ejekan, dan tawa yang sengaja diperdengarkan sudah menjadi bagian dari rutinitasnya. Hari itu pun tidak berbeda. "Eh, lihat. Si pecundang datang." "Kalau aku jadi dia, mending pindah sekolah." "Tapi siapa juga yang mau menerima orang kayak dia?" Suara tawa langsung terdengar dari beberapa siswa laki-laki yang berdiri di dekat taman sekolah. Bornok menundukkan kepala dan terus berjalan seolah tidak mendengar apa pun. Ia sudah terlalu sering mengalami hal semacam itu hingga rasa sakitnya berubah menjadi sesuatu yang mati rasa. Namun kenyataan tidak pernah berhenti mencari cara baru untuk melukainya. Saat jam istirahat tiba, Bornok berjalan menuju kantin sambil membawa kotak bekal sederhana yang ia siapkan sendiri sebelum berangkat sekolah. Ia baru saja melewati koridor lantai dua ketika seseorang sengaja menabrak bahunya dengan keras. Kotak bekal di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Nasi serta lauk sederhana yang ada di dalamnya langsung berhamburan. Koridor yang tadinya ramai mendadak dipenuhi tawa. "Astaga, bekalnya jatuh." "Kasihan sekali." "Hueek, itu makanan? kayaknya makan malam kucingku lebih mewah deh." Beberapa siswa tertawa terbahak-bahak. Salah seorang di antara mereka bahkan menendang kotak bekal itu hingga meluncur beberapa meter jauhnya. Bornok berdiri mematung selama beberapa detik sebelum akhirnya berjongkok untuk memungut sisa makanannya. Ia berusaha mengabaikan semua suara yang memenuhi koridor, tetapi saat itulah salah satu pembully tiba-tiba mendapat ide yang membuat senyum jahil muncul di wajahnya. "Eh, bukannya dia kakaknya Nisa?" Teman-temannya langsung menoleh. "Nisa yang kelas sebelas itu?" "Iya." "Serius?" "Kalau begitu kita tanya saja." Sebelum Bornok sempat pergi, mereka sudah memanggil seseorang yang kebetulan sedang berjalan di ujung koridor. "Nisa!" "Kenapa?" Salah satu pembully menunjuk ke arah Bornok yang masih berdiri di dekat lantai dengan bekal yang berantakan. "Ini benar kakakmu?" Untuk sesaat, Bornok mengangkat kepala dan menatap Nisa. Namun harapan itu hancur dalam hitungan detik. Nisa mengernyitkan dahi seolah baru saja mendengar lelucon yang tidak lucu. "Tentu saja bukan." Teman-temannya langsung tertawa. "Tapi nama belakang kalian sama." "Itu cuma kebetulan." Nisa melipat kedua tangannya sambil menatap Bornok dari ujung kepala hingga kaki. "Lagipula, mana mungkin aku punya kakak seperti dia?" Tawa yang tadi hanya terdengar dari beberapa orang kini memenuhi seluruh koridor. Beberapa siswa sampai memegang perut mereka karena merasa ucapan itu sangat lucu. Sementara Bornok hanya berdiri diam. Meski begitu, dadanya tetap terasa sesak. Karena sekeras apa pun ia berusaha membiasakan diri, mendengar adiknya sendiri menyangkal hubungan mereka di depan begitu banyak orang tetap terasa menyakitkan. Nisa kemudian pergi bersama teman-temannya tanpa menoleh lagi. Seolah Bornok memang bukan siapa-siapa. Sepulang sekolah, hujan turun cukup deras. Bornok berdiri di depan gerbang sambil menunggu. Ia tahu kemungkinan besar tidak ada yang akan datang menjemputnya, tetapi sebagian kecil dari dirinya masih berharap. Mungkin hari ini berbeda. Namun setelah hampir satu jam berdiri di bawah langit yang semakin gelap, harapan itu kembali pupus. Mobil keluarga mereka melintas di depan gerbang sekolah. Ayah sambungnya sedang menyetir. Ibunya duduk di kursi depan. Sementara Nisa terlihat sibuk memainkan ponselnya di kursi belakang. Tidak ada satu pun dari mereka yang memperhatikan Bornok. Mobil itu terus melaju hingga menghilang di tikungan jalan. Saat itulah Bornok akhirnya tersenyum pahit. Ia tidak lagi merasa sedih, Ia hanya merasa lelah. Malam harinya, Bornok duduk sendirian di kamar sambil menatap layar ponselnya. Hari itu adalah ulang tahunnya yang ketujuh belas. Namun hingga jarum jam mendekati tengah malam, tidak ada satu pun pesan yang masuk. Bahkan ibunya sendiri lupa. Bornok memandangi layar kosong itu cukup lama sebelum akhirnya meletakkan ponselnya di atas meja. Perasaan hampa yang selama ini ia pendam perlahan memenuhi dadanya. Kadang-kadang ia bertanya-tanya apakah kepergiannya suatu hari nanti akan benar-benar disadari oleh siapa pun. Karena bahkan saat ia masih ada pun, tidak ada seorang pun yang peduli. Ia berjalan mendekati jendela dan menatap hujan yang terus turun di luar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mengucapkan isi hatinya yang paling jujur. "Seandainya semua orang di dunia ini mati..." "Mungkin hidupku akan lebih baik." Bornok kemudian mematikan lampu kamarnya dan berbaring di atas tempat tidur tanpa mengetahui bahwa pada malam yang sama, ribuan kilometer dari tempatnya berada, sebuah bencana yang akan mengubah dunia sedang dimulai. Di sebuah laboratorium rahasia berkeamanan tinggi, alarm darurat tiba-tiba berbunyi nyaring. Lampu merah berkedip di setiap sudut ruangan sementara para ilmuwan berlarian dengan wajah panik. Layar monitor dipenuhi berbagai peringatan. KONTAMINASI TERDETEKSI. PENGHALANG BIOLOGIS GAGAL. SUBJEK-01 LEPAS DARI KARANTINA. Seorang ilmuwan tua menatap data yang terus bergerak di layar dengan wajah pucat. Ia telah menghabiskan puluhan tahun mempelajari virus itu, sehingga tidak ada orang yang lebih memahami bahaya yang sedang mereka hadapi selain dirinya. Sayangnya, semua sudah terlambat. Virus tersebut telah keluar dari fasilitas penelitian. Dan kini penyebarannya tidak mungkin lagi dihentikan. Suara alarm masih menggema di seluruh ruangan ketika bibirnya bergetar mengucapkan kalimat yang terdengar seperti vonis bagi seluruh umat manusia. "Kiamat telah dimulai."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
167.9K
bc

Istri Kecil Om Arogan

read
14.7K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
5.5K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
212.2K
bc

Perfect Man and Stupid Women

read
157.6K
bc

Terjerat Hasrat Suami Pengganti

read
170.5K
bc

Ana, My Pearl

read
170.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook