"Ap-apa maksudmu?" tanya Fara terbata. Mahar satu milyar dollar pun aku tidak mau menikah dengan pria ini. Pria tidak punya akhlak. Batinnya.
Adam mengusap genangan air di bawah kelopak mata Fara. Tatapannya sayu memandang gadis menangis di depannya. Cantik batin pria yang belum pernah punya pacar itu. "Kamu bisa mendengar, kan? Bersyukurlah aku mau menikahi mu dari pada ku jadikan simpanan. Pilih mana," sinisnya.
Kenapa semua yang ada di wajahnya, menarikku untuk menyentuhnya. Tubuh ini tidak terlalu seksi, tapi aku berhasrat. Sekarang pun aku sudah tidak bisa menahannya. Batin Adam.
Fara menarik wajahnya dari genggaman pria tak dikenalnya itu. "Aku mencintai orang lain," katanya pelan.
"O," senyum Adam. "Aku suka berebut. Kalau begitu kamu tidak bisa lepas lagi dariku," katanya. Tatapan Adam beralih pada Azis yang memandangnya penuh kebencian.
"Pak tua! Aku tidak akan mengulangi perkataan ku sampai dua kali. Kamu ingin membawa putrimu hidup gelandangan di jalan atau nikahkan dia denganku, selagi aku minta baik-baik."
"Aku tidak mau!" Jerit Fara di wajah Adam, air matanya semakin deras. "Jangan Papa, aku gak mau."
Akh!
Pekiknya tertahan di tenggorokan, Adam menyedot bibir Fara. Satu lumatan tak mampu dielakkan saking kuatnya pria itu menekan tengkuknya. Ini adalah ciuman pertamanya, telah diambil paksa bahkan Fara tak sempat berkedip. Matanya membelalak besar karena terkejut.
Manis, batin pria itu yakin bahwa gadis ini akan jadi tujuan hidupnya. "Hajar!" Kata Adam sambil berdiri.
Bug, bug, gede bug bug bug.
Pukulan bertubi-tubi mengenai perut Azis, seketika bunyi lolongan kesakitan keluar dari mulutnya. Pria tua itu muntah darah.
"Tidak! Jangan pukul Papa," jerit Fara histeris, melolong kesedihan.
Adam berjongkok di depan Azis yang babak belur. "Perusahaan mu sekarang kepunyaan ku, rumah ini juga sekarang milikku. Azis, nikahkan aku dengan putrimu. Kamu bisa tinggal di rumah ini, menikmati masa pensiun dengan tenang."
Azis menatap kasihan pada putrinya, tubuh tuanya tidak sanggup lagi menerima pukulan. "Baiklah," jawabnya dengan mulutnya yang merot.
"Papa! Hu huuu uuu," tangis Fara pasrah. Percuma membantah, pria kejam ini telah menciumnya.
***
Dalam waktu satu jam penghulu sampai di kediaman orang tuanya. "Fara...hiks hiks," tangis Mama memeluknya, Fara bertambah sedih.
Tukang rias kewalahan mendempul wajahnya, terpaksa Fara dirias seadanya. Gadis belia itu menikah dibawah ancaman, sekali tarikan nafas Adam sah jadi suaminya.
Selesai akad, nyetir sendiri Adam membawa Fara langsung ke sebuah hunian indah. Berhenti di halaman yang luas, pria itu memandang wajah istrinya. Sembab, tapi tidak mengurangi rasa sukanya.
Kalau tidak mengalami nya sendiri, aku tidak akan percaya pada cinta pandangan pertama.
Batin Adam. "Ayo turun, sebentar lagi malam. Sebagai suami, aku harus memberi nafkah batin istriku sesegera mungkin," bisiknya di telinga Fara sedikit menjilat.
Gadis yang sudah resmi jadi istrinya itu bergeming. "Baiklah, aku akan menggendong mu ke peraduan kita." Pria itu turun, memutari mobilnya ke sebelah pintu duduk Fara. Lalu membukanya. "Ayo turun," katanya meraih tangan Fara. Membawanya keluar dari dalam mobil, dengan pantas Adam menggendong istrinya itu.
Akh!
Pekik Fara terkejut. "Turun..aku bisa jalan," katanya pelan lebih kepada takut.
"Tidak perlu malu! Aku benar-benar menyukai mu jadi ijinkan aku memanjakan mu selagi aku punya waktu dan kemauan," jawab pria itu.
Menaiki tangga cantik memutar mereka tiba di depan pintu sebuah kamar.
***tbc.
Follow akun, tap love ❤.