Kamar dibuka lalu ditendang dengan kakinya. Bam! Pintu tertutup.
Adam menurunkan Fara dari gendongannya di samping kasur, memandang gadis itu dari atas sampai bawah. Hanya gamis putih menutup tubuh kecilnya, maklumlah nikah koboi jadi tidak sempat beli kebaya baru. Namun tetap cantik, walaupun tidak ber make up tebal ataupun tidak berbalut pakaian mahal seperti kebanyakan perempuan-perempuan yang dikenalnya.
Dipandang olehnya, Fara membuang muka kesamping. Adam meraih wajahnya perlahan, menunduk mendekatkan bibirnya ke mulut gadis yang baru dinikahinya itu. Fara melengos.
"Aku suamimu. Halal bagi kita melakukan ini," serak Adam menarik lagi wajah Fara mendongak padanya.
Ciuman lembut Adam persembahkan untuk istrinya, menikmati hisapan demi hisapan. Ini ciuman kedua mereka, perempuan itu tidak membalas. Malu atau belum ikhlas, terserah. Adam meraih tubuh Fara semakin mendekap erat kedalam pelukannya. Susunya terasa menekan di d**a pria itu.
Ingat dirinya belum mandi, susah payah Adam melepas ciuman.
ARGH!
Akhirnya berhasil, Adam mengatur nafas yang memburu. "Aku pergi membersihkan tubuhku, kamu tunggu sebentar," kata Pria itu mengambil jarak antara mereka lalu menghilang di balik pintu.
*
Ditinggal suaminya ke kamar mandi, Fara terduduk lemas di kasur. Baru pulang liburan kelulusan, tiba-tiba dirinya telah sah menjadi istri orang. Kejadiannya sangat cepat tidak sempat ia berpikir.
Bagaimana dengan niatnya mau nyambung kuliah? Apakah Adam akan mengijinkannya?
Lalu bagaimana dengan Morano? Kata teman-teman, besok cowok pendiam yang disukainya itu akan menyatakan cintanya.
Ah, kamar ini sangat indah, lelakinya juga tampan. Perlakuannya juga lembut. Sebagai perempuan yang belajar agama Fara tau. Tidak boleh lagi memikirkan pria lain.
Tapi kan gak mudah melupakan seseorang yang telah tertanam kuat di hati kita...
Adam keluar dari kamar mandi, berbalut handuk sepinggul. Rambut basah, air menetes di tubuhnya yang terawat.
Tampan memang tampan, sekarang berstatus suami harus bersikap manis pula. Pria itu menghampiri nya. "Kenapa belum ganti baju?" Bertanya dengan suara lembut. Seolah bukan dia yang tadi berlaku kasar pada orang tuanya.
*
Ditanya tidak menjawab, Adam menahan sabar. Dirinya sendiri kaget apalagi gadis di depannya ini.
Tiba-tiba dirinya berstatus suami, padahal sudah bertunangan dengan Gea, gadis pilihan orang tuanya.
Seminggu lagi menikah, astaga. Apa yang kau lakukan Padam.
Adam menanggalkan handuknya, perempuan itu buang muka. Handuk dipakai untuk mengeringkan rambut.
"Aku ke kamar mandi," pamit Fara padanya. "Hum," jawab Adam.
*
Di kamar mandi Fara bersandar di balik pintu, menahan sebak di dadanya. Dirinya belum siap melayani yang namanya suami. Bukankah kedua orang yang menikah harus saling kenal dulu, paling tidak satu bulan.
Fara terduduk lemas ketakutan. Seolah dirinya akan dieksekusi, dihukum di tiang gantungan.
Jangan-angan dia sudah beristri, kenapa nikah sembunyi.
Pikiran buruk menghantuinya.
Tok tok tok!
Pintu diketuk, cepat-cepat Fara ke Wastafel membasuh wajahnya yang basah air mata.
"Kenapa dikunci?" suara Adam dari balik pintu.
Perempuan itu ke toilet membuang hajat, selesai membasuh dirinya kemudian membuka pintu.
Ceklek!
Akh!
Fara terkejut, tubuhnya didorong masuk ke kamar mandi, dipeluk kemudian dicium dengan rakus.
Menanggalkan pakaiannya tinggal baju dalamnya, Adam menghidupkan shower. Mengguyur tubuh Fara di bawahnya, pria itu kembali basah. Mencumbu nya dari atas sampai tengah, kakinya dilebarkan.
Menjaga keseimbangan Fara menyandar di tembok. Sebagai manusia normal yang dibebani dengan nafsu, tubuhnya pasti bereaksi.
Akhirnya semua tanggal apa yang ada di tubuhnya, Adam menghisap sari madu nya.
***tbc.