Hilang kesucian.

545 Words
Dengan nafas memburu Adam mengangkat Fara ke kasur, lelaki muda itu terhempas menimpa tubuh istrinya. Sebagai pria yang belum pernah berhubungan badan, Adam tidak lah bodoh-bodoh amat. Masih mengerti artinya siap gak siap pada pasangan mainnya. Dari tubuh Fara yang bergetar disentuh olehnya, ia tau istrinya itu menikmati perlakuannya walaupun tidak membalas. Saatnya melakukan penyatuan, walaupun sedikit gak tega. Sambil melihat wajah istrinya, Adam memposisikan diri. Fara menikmati perlakuan Adam yang lembut padanya, mencoba ikhlas melayani suaminya. Meremas apa yang bisa diremas, saat sesuatu menembus dirinya. Perih tak tertahankan, bulir bening menggenang di pelupuk matanya. Argh! Adam berpacu dengan dirinya sendiri mencapai finish, dengan nafas masih memburu pria muda itu terhempas di atas Fara setelah mendapatkan pelepasannya. "Terima kasih sayang," ucapnya mencium kening istrinya. "Ini juga yang pertama bagiku," katanya cukup membuat Fara mengernyit. Sebenarnya pria ini sangat manis, cuma caranya mendapatkan ku yang gak manis. Batin perempuan yang baru diambil kesuciannya itu hanya terdiam, mengigat lagi kejadian barusan. Pertama sakit namun diakhir ia bisa merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, luar biasa nikmat sampai lupa dengan rasa sakitnya. Saat Adam menginginkan lagi, Fara bisa apa selain mengangguk. Hampir tiga jam berlalu, kedua pasang penganten baru itu selesai melakukan ritual sah sebagai suami istri. Kepuasan tergambar di wajah keduanya, terutama Adam. Senyumnya melebar saat melihat bercak darah di kasur. Tandanya Fara masih perawan. * Satu malam berlalu Fara terbangun, sinaran menyilaukan jatuh menembus pandangannya. Tidak ada Adam di sampingnya. Ceklek! Pintu dibuka, masuk seorang wanita paruh baya memakai seragam pelayan. "Anda sudah bangun Nyonya," katanya nada tanya. "Hum," angguk Fara beranjak dari kasur membalut tubuh telanjangnya dengan selimut. Panggilan alam mendesak ingin segera dikeluarkan. Perlahan melangkah ke arah kamar mandi, wanita itu membukakan pintu untuknya. "Saya Marni yang akan melayani anda. Tuan ke luar negeri selama dua minggu, perlu sesuatu beritahu saya," ujarnya. Langkah Fara terhenti memandang wanita yang bernama Marni itu. Syukurlah aku bisa bebas selama dua minggu. Dalam hati Fara. "Saya ingin pulang ke rumah," katanya. Wanita itu berhenti membereskan kasur yang berantakan. "Kalau itu anda perlu permisi pada Tuan Padam," jawabnya kembali melanjutkan kerjanya. "Kamu pesankan saja, saya ini istrinya bukan tawanan. Tidak ada larangan saya bertemu orang tua, kan?" "Anda tidak punya nomornya kah?" tanya wanita itu. "Jangankan nomor, saya punya ponsel ntah dimana saya gak tau," jawab Fara. "Barang anda semua ada di lemari. Maaf saya lancang membuka koper anda Nyonya. Tuan memerintah saya untuk menyusun baju-baju anda." "Tidak apa-apa, tolong kamu yang menghubungi Adam. Aku mau membersihkan diri," kata Fara melangkah ke kamar mandi menutup pintunya. * Keluar dari kamar mandi melihat kasur sudah rapi dan Marni juga tidak ada, dengan ligat Fara bersiap agar bisa segera sampai ke rumahnya. Sebentar lagi siang takut teman-temannya datang menjemputnya, dirinya tidak ada. Semoga tidak terlambat ke ulang tahun Rano. Batin Fara. Melihat memang barang-barangnya semua ada di lemari termasuk ponselnya berikut tas laptop sekolahnya. Setelah rapi Fara menyambar semuanya, lalu keluar dari kamar tujuan mencari Marni. Melewati beberapa pengawal Fara menemukan wanita itu di dapur setelah bertanya pada petugas bersih-bersih. "Bagaimana Marni, apa katanya?" tanya Fara. Marni yang sedang menyiapkan makanan di meja makan menoleh. "Selesai sarapan anda akan diantar supir, tinggallah di sana beberapa hati. Nanti Tuan sendiri yang akan menjemput anda," kata Marni. "Alhamdulillah," ucap Fara. ***tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD