Bab 5. Galau

1027 Words
Amir yang tanpa sengaja melihat Aira, ada di taman bersama dengan Ika, berniat ingin menghampiri, tapi dia harus mengurungkan niatnya saat melihat ada seseorang yang dia kenal menghampiri Aira dan Ika. "Kak Arga, kok ada di sini?" Aira bertanya dengan nada yang sedikit sungkan. "Tadi kebetulan lewat saja, kalian ngapain di sini? ini udah mau Maghrib kan?" Arga yang biasanya cuwek tiba tiba berubah peduli, dan hal itu membuat dua gadis di depannya heran dengan sikap Arga. "Ah iya kak, bentar lagi kita pulang kok, ini mau nyante dulu," buka Aira, yang menjawab melainkan Ika. Ika tau jika sahabat nya masih saja bengong melihat sikap Arga, barusan. "Baiklah, saya cuma gak mau Amir, jadi khawatir kalo dia tau kamu masih saja di luar seperti ini." setelah mengatakan hal itu, Arga, langsung saja berbalik untuk pergi. "Em kak," panggil Aira meski ragu. "Ya," jawab Arga, meski dia tidak berbalik tapi dia berhenti. "Tolong jangan bilang Amir, kalo aku keluar tanpa dia sore ini, please." mohon Aira dengan sangat. "Hem, saya tidak akan bilang, asal kalian segera pulang." setalah mengatakan hal itu, Arga segera pergi meninggalkan dua gadis yang masih diam mematung. Sedangkan Amir, yang melihat hal itu dari jauh, hatinya berdenyut nyeri. Baru kali ini Aira nya keluar tanpa pamit kepadanya, tanpa dirinya. Memang siapa dia? bukankah hanya sebatas sahabat? Banyak hal yang Amir pikiran kan, di satu sisi dia ingin sekali merubah status nya, tapi di sisi lain, dia serasa tidak sanggup jika pada akhirnya harus menyakiti Aira. "Gue harus apa Ra, gue bingung, gue dilema Ra." batin Amir, dengan raut wajah sendu nya. Setelah memastikan Aira sampai di rumah dengan selamat, Amir pun akhirnya memilih untuk pulang. Ya dia memang sejak tadi mengikuti Aira, hingga sampai kerumahnya. Dia tidak akan pernah bisa membiarkan Aira, jauh dari jangkauan matanya. Secinta itu lah seorang Amir kepada Aira. Gadis manis yang sudah dia kenal sejak dia masih balita. Kedekatan keduanya yang bahkan sudah di anggap wajar oleh orang tua masing masing. Bagi mereka, asal anak anak bahagia itu sudah lebih dari cukup. Di saat Amir, tenggelam dengan rasa gundah nya, tiba tida dia tersentak saat ada tangan lembut membelai rambutnya. "Kamu kenapa murung sayang? ada yang menggangu pikiran mu?" tanya sang ibu dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Amir, baik baik saja Mah, tidak ada apa apa kok." jawab Amir, yang berusaha menutupi dengan senyuman tipisnya. "Jangan bohong, mamah ini mamah kamu, yang udah lahirin kamu, jadi mamah tau dan bisa merasakan apa yang sedang kamu rasakan." dengan sabar sang mamah menunggu anaknya bercerita. "Amir, Amir, bingung mah. Amir ingin Aira, lebih dari sahabat, tapi Amir takut menyakiti dirinya suatu saat nanti jika tau Amir-" perkataan Amir di potong sang Mamah. "Jangan pikirkan hal yang jauh ya sayang, kamu bisa, kamu pasti bisa bikin Aira bahagia, jadi jangan banyak pikiran oke, dan jika kamu ingin memiliki Aira, lebih dari sahabat ya udah wujudkan saja. Mamah lihat dia juga sepertinya suka sama kamu, ah cie yang lagi galau," sang Mamah malah kini menggoda dirinya. Amir yang mendapatkan godaan dari sang mamah hanya bisa tersenyum dan menunduk, menyembunyikan rasa maku sekaligus bahagianya. "Berbahagialah sayang, Mamah dan Papah akan selalu mendukungmu, begitu juga dengan kak Arga, kami semua sayang denganmu. Yakin sayang semua pasti baik baik saja." ucap Mamah dengan tatapan hangat namun wajahnya terlihat sendu. "Jangan sedih mah, Amir janji, Amir bakal bahagia. Amir ikhlas kok dengan semua ini," Amir berusaha membuat mamahnya kembali tersenyum meski dia sendiri mulai berkaca kaca. "Kamu terhebat sayang, kamu segala nya, kamu harta Mamah dan Papah." dengan suara bergetar, Mamah mengucapkan semuanya dan kini membawa Amir, kedalam pelukannya. "Amir bahagia memiliki orang tua seperti kalian, dan juga memiliki kakak seperti kak Arga." ucap Amir di sela sela Isak tangis nya. Ibu dan anak itu masih saja berpelukan, meluapkan segala rasa yang tak pernah bisa di bendung. Sedangkan dari ambang pintu, kedua laki laki beda generasi terlihat diam mematung, melihat adegan di depan mereka. Mata mereka tak kalah berkaca kaca, segumpal rasa tak rela terus saja mereka rasakan, entah akan seperti apa nantinya, yang jelas mereka akan selalu berusaha yang terbaik. Doa dan harapan selalu meraka pupuk, tak pernah berhenti dalam setiap sujud harapan itu di lisan kan, memohon agar ada keajaiban yang mereka dapatkan suatu saat nanti, meski hanya setipis benang. "Wah wah, ada acara peluk pelukan, tapi kita di tinggal ya kak." sang Papah yang sudah bisa menguasai keadaan, berusaha terlihat bahagia. "Iya, masak kita di tinggal sih pah," giliran sang kakak, yang biasanya banyak diam ikutan bergurau. Ibu dan anak yang mendengar ucapan barusan, langsung buru buru menghapus air mata mereka. Mereka tidak ingin menambah kesedihan bagi yang lain, meski tanpa mereka tau, ke dua laki laki itu sudah melihat semuanya. "Ini lho pah, Amir lagi galau. Mau bilang sayang sama Aira, eh takut di tolak." mamah berusaha bercanda dan menggoda Amir. "Lah bukanya mereka udah dekat ya, papah kira malah udah jadian," sang papah ikut ikutan menggoda Amir. "Apaan sih mah, pah, mamah ini yang ada ada saja." Amir berusaha mengelak dari rasa malu. "Udah maju aja, masak iya adik gue takut di tolak, ntar kalo di tolak dukun bertindak saja." kelekar Arga, yang membuat heran semuanya. "Lah si kulka, tumben tumbenan bisa bercanda." olok sang mamah. "Siap yang kulkas sih mah, ini Arga ya Arga!" dumel Arga, yang kini jadi kesal sendiri. "Hahahahaha ada yang ngambek di katain kulkas." Amir yang malah ikut ikutan mengejek sang kakak. Kapan lagi bisa begini, pikir Amir. "Serahlah, gue balik kamar saja!" Arga, yang pura pura marah kini bersiap kembali ke kamar nya. "Uluh uluh, anak mamah ngambek ya, sini sini peluk dulu donk," bukanya berhenti, mereka malah semakin menggoda Arga. Bukan Amir saja yang malam itu kena godaan dari orang tuanya, tapi sang kakak juga. Malam itu mereka lewati dengan bersenda gurau, meski masih terselip rasa pedih di hati masing masing. "Ya Allah, jaga mereka untukku, aku ikhlas dengan segala ketentuan dari - Mu." batin Amir sendu memandang wajah orang orang yang dia sayangi. "Semoga akan selalu begini, ku mohon ya Allah, ku mohon." batin Arga dengan perasaan pilu di hatinya. Kehangatan dan keceriaan ini akan terus terulang, meski tangis dalam diam mereka rasakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD