Sikap Amir, yang tiba tiba diam, pagi ini sudah kembali seperti biasanya. Aira, dia yang melihat hal itu, ikut senang. Terkadang hal sekecil itu, berhasil membuat hatinya menghangat. Entah ada apa dengan Amir nya, kemarin kemarin, Amir, seolah olah sedang takut kehilangan.
"Pagi Ai, yuk berangkat," ajak Amir, saat keduanya bertemu di depan rumah Aira.
"Pagi juga Mir, sudah lebih baik?" tanya Aira, mencoba iseng.
"Emang aku kenapa? perasaan aku biasa saja?" Amir, malah bertanya balik.
Aira tau, Amir hanya pura pura lupa saja. Tapi itu tidak jadi masalah buatnya. Bagi Aira, yang terpenting, Amir, sudah kembali ceria lagi, sudah kembali menjadi Amir, yang biasanya.
"Ah, mungkin aku saja yang salah mengira," Aira, pura pura ngeles.
"Kan, kan, Aira ku mulai gak konsentrasi, masak iya mengira aku ada masalah," Amir, malah seakan ngajak bercanda.
"Ya, mau bagaimana lagi, aku kan kangen sama Amir ku, yang biasanya," resah Aira.
"Maaf ya Ra, janji deh, gak bakal kayak kemarin lagi," jawab Amir, sendu.
"Oke, sekarang mari kita lupakan yang kemarin kemarin, hari ini dan seterusnya, kita akan terus bersama dan gak boleh ada lagi rahasia oke," Aira, meminta Amir, untuk selalu jujur.
"Siap sayang, eh," Amir kelepasan, dan hal itu membuat gelenyar aneh di d**a masing masing.
Kini, keduanya sudah tiba di sekolah, dan semua murid bersiap untuk memulai pendidikan hari ini dengan semangat yang menggebu-gebu. Begitu juga dengan Aira dan Amir. Meski dalah hati Amir, sudah tidak sabar menunggu saat istirahat tiba.
"Ai, nanti istirahat kita makan di taman belakang ya," ajak Amir, dengan berbisik.
"Oke, siap bos," Aira, menjawab dengan berbisik pula.
Semua siswa, belajar dengan tenang, karena guru yang ada di depan mereka, adalah guru yang sangat killer. Jika mereka berbuat gaduh, bisa bisa akan mendapatkan tugas dua kali lipat.
Istirahat yang di tunggu tunggu akhirnya tiba. Aira dan Amir, bergegas pergi ke taman yang ada di SMA, mereka. Tak lupa, bekal yang selalu Aira, siapapun untuk mereka berdua juga sudah siap untuk di bawa.
"Kalian mau makan dimana? tumben kalian keluar dari kelas," tanya Ika dengan mode kepo yang seperti biasanya.
"Mau ke taman belakang Ka," jawab Aira, dengan seulas senyum manis.
"Oh, aku kira mau kemana, gak ikut ke-" perkataan Ika di potong oleh Bima seperti biasanya.
"Udah gak usah banyak tanya, Lo ke kantin bareng gue, ayo," dengan cepat Bima, menarik tangan Ika.
Bima yang paham, apa yang akan Amir katakan hari ini, dia hanya ingin yang terbaik bagi sahabat nya. Dan pada saat Ika, berusaha mengganggu, dia putuskan untuk menarik sahabat bawelnya itu.
"Lo kenapa sih, main tarik tarik saja tangan gue, sakit tau gak!" sentak Ika, dengan nada marah.
"Lo, itu bodoh ada gak peka sih," oleh Bima, dengan tatapan intimidasi.
"Maksudnya," cicit Ika, ia merasa merinding di tatap oleh Bima, dengan tatapan seperti itu.
"Dasar lemot. Amir itu, ngajak Aira, ke taman karena ada hal serius yang mau dia bicarakan, jadi jangan ganggu, mengerti?" Bima, menjelaskan dengan penekanan pada setiap kalimat.
"I iya," Ika, menjadi gugup sendiri.
Akhirnya, kedua orang yang seperti kucing dan tikus itu, hari ini tampak sedang berdamai. Semua di lakukan demi, Aira dan Amir. Asalkan mereka bahagia, maka mereka juga akan bahagia.
****
Dika ke dua sahabatnya sedang dalam masa berdamai, maka dua sejoli ini sedang makan dalam diam, keduanya larut dalam pikiran masing-masing. Mari yang sejujurnya masih takut, jika akan di tolak, sedang Aira, dia sedang bertanya tanya, ada apa dengan Amir, yang hari ini ingin makan di taman.
Setelah membereskan tempat makan, sesaat dunia seperti berputar, Aira yang awalnya sibuk, berubah diam seperti patung, saat Amir, menggenggam tangan nya dengan erat dan ada tatapan berbeda kali ini.
Amir yang, sedang menata diri, berusaha untuk tetap tenang, meski hatinya sedang maroton mempersiapkan semuanya. Berulang kali dia membuang nafas secara kasar.
"Ai," panggil Amir, dengan halus dan tak lupa tatapan hangat penuh kasih sayang.
"Maaf, jika selama ini, membuat mu terjebak dalam zona persahabatan yang begitu sulit aku urai, aku hanya tidak sanggup jika suatu saat harus kehilangan kamu, jika jodoh mungkin tidak berpihak sama kita, aku hanya terlalu pengecut, untuk mengakui perasaan yang sesungguhnya. Jujur, aku begitu tersiksa, saat bayangan kamu akan bersama orang lain, aku begitu takut jika bukan aku, yang nantinya akan, berada di sisi mu. Tapi aku juga tidak bisa jika terus memendam perasaan ini." Amir memberi jeda ucapannya, dia hirup sebanyak banyaknya udara agar tidak gugup.
"Ai, saat ini, aku hanya ingin egois, aku hanya ingin, kamu selalu ada bersama ku, tanpa melihat siapapun. Aku ingin menjadi bagian terpenting dari dirimu, bukan sebagai sahabat lagi, aku ingin mengganti kata sahabat menjadi kata kekasih. Jadi apakah aku pantas merubah gelar itu di hati kamu?" tanya Amir, dengan harapan yang begitu besar.
Aira, dia masih mencerna semua ucapan, yang keluar dari bibir Amir. Dalam hatinya, ia teramat bahagia, akhirnya penantian panjang nya terjawab hari ini, hingga rasanya Aira, ingin berteriak dengan keras.
"Mir, apa maksud dari semua ucapan mu barusan? apakah, aku layak untuk berada di sekitar mu? apakah tanganku layak untuk kamu genggam selamanya?" tanya Aira, yang entah kenapa, tiba tiba dia merasa kecil saja.
"Kamu, kenapa berkata begitu? bagiku, tidak ada yang lebih pantas selain kamu. Jadi apa kamu mau menjadi kekasih dari seorang yang biasa saja seperti aku ini, Aira?" Amir, bertanya sekali lagi.
"Aku, tidak mungkin untuk menolak nya, bukankah selama ini, hanya ada kamu yang selalu di sekitar ku? lalu, untuk apa aku mencari yang lain, jika kamu saja sudah memenuhi semua hal yang aku impikan." jawaban Aira, membuat Amir, tersenyum bahagia.
Dia bawa tubuh yang baru saja menjadi ke kasihnya untuk dia peluk dengan erat. Rasa yang akhirnya tidak dapat mereka pendam lagi. Rasa yang begitu besar, meski pada kenyataannya, ada tembok penghalang yang begitu besar dan tinggi. Tapi, Amir, sudah ikhlas jika hanya sementara saja, dia menikmati semua ini, itu sudah lebih dari cukup.
"Terimakasih sayang, terimakasih sudah mau menerima ku," ungkap Amir, di sela sela bahagianya.
"Terimakasih kembali, karena kamu maue jadikan aku layak untuk bersama mu." jawab Aira, dengan senyuman yang tak pernah luntur, meski ada air mata bahagia menyertai nya.
"I love you, Aira Hasna Rafasha," ucap Amir, yang kemudian dia kecup kening Aira.
"I love you to, Amir Giovanni Pradipta" jawab Aira, dengan binar bahagia.