"Aku melihat anda tadi," Juni tersenyum penuh arti.
Gara menghela napas panjang, firasat nya mengatakan bahwa gadis aneh di depannya itu pasti sudah mengetahui tentang rahasianya, rahasia yang tidak banyak di ketahui banyak orang. "Jadi, kau coba ingin memeras ku begitu? Kau pikir itu akan mudah?" Gara berusaha untuk tidak menunjukkan sikap tertekan, padahal sebenarnya ia sedang menyembunyikan rasa cemas nya mati-mati an. Jika rahasia yang di milikinya sampai muncul ke publik, entah apa yang akan terjadi pada dirinya. Gara tidak siap, namun ia juga tidak ingin gadis siaaln di depannya itu bisa memeras dirinya dengan seenak nya.
"Aku tidak bermaksud memeras tuan, aku hanya minta bantuan tuan, itu saja." Entah apa yang merasuki Juni hingga membuatnya seperti gadis tidak tahu malu. Dia memang aneh, kepribadiannya sangat sepontan juga inplusif. Seperti saat ini, semua yang di lakukannya pasti tidak akan sulit di terima oleh akal semua orang.
"Hai... Nona, bukan kah kau sudah tahu tentang kekurangan ku, lalu bagaimana caraku untuk menolong mu?"
Juni seketika terlihat berpikir, membenarkan apa yang di kata kan pria dengan tinggi sekitar 180cm di hadapannya. "Aku juga tidak tahu, tapi entah kenapa aku merasa tertarik padamu, aku belum pernah merasa seperti ini sebelum nya pada pria mana pun." Selain aneh, Juni adalah seorang yang sangat to the point.
Gara menaikkan sebelah alis nya, merasa heran sekaligus lucu, baru pertama kali baginya juga bertemu dengan gadis seaneh itu. "Hai... Apa begini cara mu menarik perhatian seorang pria, dengan pura-pura terlihat berbeda." Namun Gara memilih untuk tidak mempercayainya, sudah banyak wanita yang ia temui dengan banyak trik untuk mendekati dirinya. Dan meskipun Juni adalah yang paling tidak masuk akal.
Dengan nada berapi-api Juni berkata, "hei... Tuan! Apa maksud mu berkata seperti itu, memangnya aku siluman rubah, menggunakan banyak trik hanya untuk menarik perhatian seorang pria."
Kali ini Gara benar-benar tidak tahan, ia memegang perut nya untuk menahan tawa, namun yang terjadi tawa nya malah semakin pecah. Juni hanya bisa bertanya-tanya dalam hati nya, apa yang lucu? Tapi melihat pria itu tersenyum, seolah menambah ketampanannya.
Sudah lama sekali rasanya, Gara tidak ingat kapan terakhir kali dia dapat tertawa lepas seperti sekarang ini.
Ya ampun, mahluk apa yang apa yang muncul di hadapannya saat ini. Membuat perut nya sampai terasa sakit menahan tawa.
"Apa kau baik-baik saja, tuan?" Juni merasa sedikit khawatir, tawa Gara belum juga mereda, bahwa wajah pria itu sampai berubah merah seperti tomat.
"Kau adalah gadis teraneh yang pernah aku temui," ucap Gara di sela-sela tawanya, "kau mungkin bukan siluman rubah, tapi kau lebih seperti ...." Tiba-tiba Gara terdiam, wajahnya tampak berpikir, kenapa bisa ia kehilangan kata-kata. Jelas-jelas dia adalah orang yang pandai membual, ada apa dengan dirinya.
"Aku seperti apa?" Juni memasang wajah penasaran.
"Tidak ada." Tidak sama seperti sebelum nya. Kini wajah Gara berubah 180 derajat, ia kembali memasang wajah dingin. "Sudahlah, jangan banyak bertanya, apapun yang kau lakukan, aku tidak akan membiarkan mu memeras ku." Bahkan kini ia bicara dengan nada ketus.
"Hei... Tunggu! Tuan... Apa kau sungguh-sungguh tidak takut rahasia mu di ketahui orang banyak?" Bukan bermaksud mengancam, Juni hanya ingin pria itu memenuhi permintaanya.
Juni berdiri tepat di depan Gara, mencoba menghalangi langkah pria itu yang hendak meninggal kan ruangan. Jarak mereka cukup dekat, dekat sampai Juni bisa mencium aroma parfum maskulin yang menguat dari tubuh Gara.
"Minggir!" Gara mencoba untuk tidak peduli, ia tetap melangkah melewati Juni.
"Eh... Tunggu!" Juni belum ingin menyerah dan dengan sangat terpaksa menarik baju bagian belakang Gara.
Dan... Kriekkk....
Mata Juni sontak melebar, langkah Gara pun seketika terhenti. Juni tidak menyangka, akibat dari tindakannya, kini baju bagian belakang Gara sobek.
Gara segera berbalik dan menatap tajam ke arah Juni, tatapannya benar-benar menusuk seperti seorang predator yang hendak menerkam mangsa.
Juni melangkah mundur untuk menghindari Gara yang semakin mendekat ke arah nya. "Apa kau sengaja ingin cari mati?" Ancam Gara yang membuat wajah Juni makin pucat pasi.
Juni hanya bisa menggeleng dan tak memperhatikan langkahnya. Kini posisinya semakin terpojok, punggung nya terbentur dinding, dan jarak Gara semakin dekat padanya. Dengan kesal Gara memukul dinding yang ada di belakang Juni, mata gadis itu seketika terpejam karena merasa sangat takut.
Gara heran, kenapa di hadapan gadis itu reaksi tubuhnya begitu berbeda, tidak saat ia berdekatan dengan wanita lain, kenapa seluruh tubuh nya seperti tersengat aliran listrik, ada sesuatu di dalam diri nya yang sangat bergejolak.
"Tuan, anda di sini?"
Suara pria yang baru saja datang seolah menyelamat kan Juni.
Gara menoleh ke asal suara dan segera menarik diri menjauhi Juni, "apa seminar nya sudah selesai?" Tanya nya pada pria yang masih berdiri di ambang pintu. Terlihat sekali wajah pria itu keheranan menatap ke arah Gara dan Juni secara bergantian.
"Sudah, tuan, apa anda perlu sesuatu sekarang?" Tanya Jimi yang merupakan asisten Gara, pria itu memiliki postur tubuh mirip Gara, dia juga berwajah tampan namun terlihat sedikit kaku.
"Ah... Iya, kebetulan kau datang, bisa kau urus wanita ini? Dia mencoba melecehkan ku."
Mendengar penuturan Gara, sontak mata Juni langsung mendelik. Apa maksud dari meleceh kan?
Tidak hanya Juni yang merasa terkaget-kaget, bahkan mulut Jimi sampai menganga di buat nya.
"Dan, ya. Satu lagi, dia mencoba memerasku, dengan mengancamku menggunakan rekaman ini." Juni menyesal karena lengah, kini ponsel nya dengan cepat berpindah ke tangan Gara.
"Kembalikan, kembalikan ponsel ku." Juni yang bertubuh mungil, terpaksa harus melompat-lompat seperti anak kanguru karena Gara mengacungkan ponsel nya tinggi ke udara.
"Ambil lah kalau kau bisa." Seringai Gara, tiba-tiba hati nya merasa senang, ia seolah baru saja menemukan mainan baru, "Jimi, pegang ini!" Dan dengan cepat pula ia melempar ponsel di tangannya pada asisten pribadinya itu.
Dengan tersenyum menang, Gara kembali berkata, "sekarang kau tidak punya barang bukti lagi, dan kau tidak bisa memeras ku lagi."
Gara hendak berlalu pergi, dan Juni mencoba menghalangi nya lagi, kini ia menarik baju bagian depan Gara. Dan... Krieeekkk....
Lagi-lagi baju Gara robek. Jimi yang meyaksikan itu harus segera mati-mati an menahan tawa melihat wajah Gara yang kini berubah seperti kepiting rebus.
"Maaf... Aku sungguh tidak sengaja, akunhanya ingin ponsel ku kem--"
"Apa kau sedang bercanda, nona?!" Kalimat Juni terpangkas, Gara menggeram kesal padanya sembari matanya kembali menatap tajam ke arah Juni. Ia bahkan mendekat kan wajah nya pada gadis itu.
Juni yang merasa takut, segera berlari menghindar, sebelum ia berhasil melangkah ke arah pintu, ia lebih dulu mencoba merebut ponsel yang ada di tangan pria dengan setelan hitam-hitam di ambang pintu.
"Maaf, aku mendapatkan ponsel ku kembali," Juni tersenyum menang ke arah Gara, "aku harap, saat kita bertemu lagi, anda sudah berubah pikiran." Kini ia bahkan mengedipkan sebelah matanya sebelum akhirnya mengambil langkah kaki seribu.
Jimi hanya bisa terbengong-bengong di buat nya. Ia menatap ke arah bos nya dengan tatapan tak mengerti. "Apa tuan ingin aku menangkap gadis itu?"
Gara hanya menghela napas lelah, dia tidak mengerti, kenapa hari nya begitu sial karena bisa bertemu gadis seaneh itu. "Cari tahu siapa gadis itu, dan lacak keberadaanya."
"Baik, Tuan!"
"Tunggu, kau mau kemana?" Seru Gara saat Jimi hendak berlalu dari hadapannya.
"Tentu saja melaksanakan perintah, tuan."
Gara mendengus kesal, "Astaga, apa kau sungguh ingin bercanda, lihat pakaian ku, apa kau ingin aku berpenampilan seperti ini?"
Jimi merasa kebingungan dan bertanya, "maksud, tuan?"
"Masih berani bertanya lagi, sekarang cepat lepaskan pakaian mu!"
"Apa?"
"Cepat!"
"Ah... Baik... Baik... Tuan!" Jimi mengerti dan lekas melepas jas dan kemejanya, kemudian ia serah kan pada bos nya-Gara.
Kini gantian Jimi yang bertelanjang d**a, dan Gara memakai setelan kemeja dan jas milik Jimi, "Kau bisa ambil baju ganti ke mobil kan?"
Jimi hanya mengangguk. Di saat yang bersamaan, tiba-tiba seorang panitia wanita muncul di ambang pintu, mata nya seketika membulat lebar, ia menatap bergantian ke arah Gara dan Jimi dengan tatapan tak percaya.
"Tenanglah, ini tidak seperti yang kau pikir kan?" Jimi langsung terlihat panik.
"Astaga, jadi rumor anda selama ini benar?" Wanita itu seperti ingin pingsan.
"Apa?" Mata Gara melebar.
"Bagaimana ini, Tuan, dia malah pingsan."
Bersambung.