Keputusan itu tidak muncul sebagai kalimat besar. Tidak ada, “Kita harus menikah.” Tidak ada, “Aku siap.” Yang ada justru hal sepele. Aku kehabisan kaus kaki bersih. Dan saat membuka lemari, aku menemukan kaus kaki baru. Dilipat rapi. Bukan punyaku. Aku berdiri lama di depan lemari seperti orang menemukan petunjuk pembunuhan. “Kayla,” panggilku dari kamar. “Iya?” sahutnya dari dapur. “Kenapa kaus kakiku nambah?” “Oh,” katanya santai, “aku beli sekalian kemarin. Yang kamu itu udah tipis dan bolong di tumit.” Aku menatap kaus kaki itu lagi. Tidak ada dramanya. Tidak ada simbolisme yang disengaja. Tapi entah kenapa dadaku terasa… hangat. Karena tanpa bilang apa-apa, ia sudah memperhitungkan keberadaanku di hidupnya. Komedi romantis dewasa memang seperti itu. Bukan bunga.

