Masalahnya selalu dimulai dari hal kecil. Email. Bukan pesan rahasia. Bukan chat tengah malam. Bukan nama asing yang mencurigakan. Email resmi. Subjeknya dingin dan profesional: “Undangan Presentasi Proposal – Tahap Lanjutan” Pengirimnya: lembaga besar. Nama yang dulu pernah menawariku kerja. Program yang dulu kutolak. Aku membaca email itu berulang kali. Bukan karena tergoda. Tapi karena takut. Takut pada satu hal yang sangat manusiawi: bagaimana menjelaskannya ke Kayla tanpa terdengar seperti mengkhianati kesepakatan diam-diam kami. Dan seperti kebanyakan konflik dewasa… aku menunda. Kayla tahu ada yang berubah. Ia selalu tahu. Bukan karena aku berbeda drastis. Tapi karena aku terlalu normal. Aku tetap bercanda. Tetap bertanya harinya. Tetap hadir secara fisik. T

