Aku mulai sadar ada yang berubah saat aku iri pada mahasiswa sendiri. Bukan pada kecerdasan mereka. Tapi pada keberanian mereka bilang, “Aku mau coba.” Sementara aku… menghabiskan rapat membahas hal yang sama setiap semester. Adrian menyadarinya lebih dulu. “Kamu burnout,” katanya sambil ngopi. “Aku dosen.” “Itu bukan vaksin.” Aku tertawa, pahit. Aku mulai lupa kenapa dulu aku memilih jalur ini. Bukan benci mengajar. Aku masih suka kelas. Masalahnya ada di luar kelas. Administrasi. Politik kampus. Rutinitas tanpa makna. Kayla memperhatikan. “Kamu lebih sering diam,” katanya suatu malam. “Aku lagi mikir.” “Kamu sering mikir.” “Iya. Tapi sekarang beda.” Ia tidak mendesak. Ia cuma berkata, “Kalau kamu capek jadi siapa kamu sekarang, nggak apa-apa bingung.” Kalimat it

