Email itu datang jam 06.12 pagi. Subjeknya pendek. Terlalu pendek untuk sesuatu yang akan mengubah hidupku. “Offer – Visiting Lecturer Program” Aku membacanya sambil setengah sadar, setengah belum jadi manusia. Luar kota. Dua tahun. Kesempatan langka. Kesempatan yang, kalau ditolak, mungkin tidak datang dua kali. Aku menatap layar lama. Lalu melihat ponsel. Nama Kayla ada di chat paling atas. Aku tidak membuka. Belum. Aku pengecut profesional. Siangnya aku bertemu Adrian. “Ambil,” katanya setelah membaca emailku. “Aku belum cerita ke Kayla.” “Makanya ambil. Jangan buat pengorbanan sepihak.” Aku menghela napas. “Kadang dewasa itu berat.” “Cinta juga.” Ia menepuk bahuku. “Berhenti cari pilihan yang nggak menyakiti siapa pun. Itu mitos.” Aku akhirnya cerita ke Kayla di

