Pagi itu, udara masih dingin ketika Reyhan berdiri di depan kaca kamar mandi. Ia menatap bayangannya sendiri: mata yang sedikit sembab akibat tidur terlalu larut, rahang yang tegang, dan napas yang terasa berat. Semalam ia sudah berjanji akan menjemput Nyssa—sebuah keputusan yang sederhana, tapi baginya terasa seperti langkah besar ke jurang yang belum ia ketahui dalamnya. Ia mengusap wajahnya dengan air dingin, mencoba mengusir rasa gentar yang tidak kunjung hilang. “Gue bisa,” gumamnya pada dirinya sendiri. Seolah harus meyakinkan hatinya yang paling bandel. Teleponnya berbunyi. Sebuah pesan dari Nyssa: “Pagi, Han. Aku siap jam 10 ya.” Sederhana, manis, hangat. Pesan itu membuat d**a Reyhan menghangat sekaligus terasa sesak. Ia merespons singkat: “Oke. Aku otw jam 9.30.” Sele

