Begitu Reyhan menutup pintu mobilnya, angin lembut menerpa wajahnya—normal, seharusnya menenangkan. Tapi setelah pesan terakhir itu, setiap hembusan terasa seperti ada mata yang ikut menatap. Ia menatap sekilas ponselnya. Pesan ketiga. + lampiran foto. Foto itu sudah cukup menjadi bukti bahwa apa pun ini… bukan hal sepele. Bukan iseng. Bukan hoaks. Dan yang paling penting— bukan sesuatu yang bisa ia abaikan. Namun Reyhan buru-buru mengunci layar ponselnya sebelum Nyssa sempat melihat. Ia tak mau merusak suasana lagi. “Kamu nggak apa-apa?” tanya Nyssa sambil menunggu di sisi mobil. “Baik,” jawab Reyhan cepat. Terlalu cepat. Tapi Nyssa memilih tidak memperpanjang. Ia hanya berjalan perlahan menuju pintu kafe, dengan langkah yang sedikit ragu… seakan ia masih memikirkan percak

