Bab 34

1311 Words

Aku menatap layar HP lama setelah pesan itu. “Berhenti lindungi dia.” Kalimatnya pendek, tapi isinya kayak ancaman yang ditulis pakai senyum. Aku simpan nomor itu, tapi bukan dengan nama. Aku kasih label: Masalah. Karena kalau sesuatu nggak punya wajah, minimal harus punya nama. Besoknya aku sengaja datang lebih pagi lagi. Bukan karena rajin. Tapi karena aku mau lihat siapa yang aktif di kampus sebelum jam sibuk. Kadang orang yang merasa “aman” suka bergerak di jam sepi. Aku duduk di kafe kecil dekat perpustakaan. Laptop terbuka. Kopi dingin. Mata muter. Dan di antara staf yang lalu lalang, aku melihat dia. Pak Arya. Konsultan itu. Dia duduk sendirian, buka tablet, minum kopi hitam, dan sesekali menatap sekeliling dengan cara orang yang terbiasa memperhatikan detail. Naluri d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD