Bab 35

1437 Words

Aku tidak langsung menjawab Nara malam itu. Karena jawaban itu bukan soal strategi komunikasi. Itu soal karakter. Dan karakter nggak bisa diputuskan cepat. Aku berdiri lama di depan cermin kamar mandi. Ngeliat diri sendiri. Bukan sebagai dosen. Bukan sebagai pusat gosip. Tapi sebagai orang yang harus memutuskan: aku mau jadi korban yang diam, atau orang yang bikin orang lain nggak nyaman. Dan jujur? Aku lelah jadi nyaman. Aku ambil HP. Kita buka semuanya. Tapi rapi. Bukan sensasional. Nara balas hampir instan. Deal. Dua hari kemudian. Artikel itu naik. Bukan di headline. Bukan di judul bombastis. Tapi di rubrik opini mendalam. Judulnya: Ketika Reputasi Lebih Penting dari Kebenaran: Kisah di Balik Sebuah Investigasi Etik. Tidak menyebut namaku. Tidak menyebut kampus.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD